Jumat, 03 Oktober 2014

The Respons



The Respons
            “Kenan,”
            “Apa?”
            “Uangku?”
            Kenan menaikkan sebelah alisnya lalu dengan santai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Bibir penuhnya tersenyum remeh lalu berkata, “Uangmu?”
            Aura mengangguk cepat, “Mana uangku, Kenan?”
            “Memangnya aku Ibumu, mana aku tahu.”
            “Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu, kau yang mengambil uangku.”
            Kenan tergelak beberapa detik. Matanya menatap Aura sejenak sebelum ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, satu bungkus roti sobek.
            “Harusnya kau bersyukur, karena aku sudah membantumu untuk terlihat dermawan di mata mereka.”
            Kenan memberikan isyarat dengan dagunya. Sementara Aura dengan cepat berbalik badan ke arah kantin tepat di ujung koridor tempat ia berdiri. Tepat pada garis lurus tatapannya, Aura melihat beberapa orang bercengkrama sambil menikmati hidangan mereka. Semua itu akan terlihat biasa saja bagi Aura jika saja hidangan yang mereka makan bukanlah roti sobek yang sama dengan yang Kenan tunjukkan padanya.
            Diam-diam Kenan tersenyum dalam hati. Melihat ekspresi Aura yang terlewat menggelikan. Bahkan mati-matian ia menahan tawanya agar tidak pecah begitu saja. Ya, memang ia yang dengan sengaja mengambil uang gadis itu –salahkan Aura yang begitu teledor meletakkan uangnya sembarangan di atas meja kelas-
            Lalu ide licik muncul dalam sel-sel otaknya yang genius. Tepat pada jam istirahat Kenan menukarkan uang gadis itu dengan beberapa roti sobek yang ada di kantin dan membagikannya pada siswa di sekolahnya. Dan sekarang semuanya berakhir dengan eskpresi Aura dengan mata terbelalak dan mulut yang terbuka lebar.
            “Hah...” Kenan merenggangkan kedua tangannya dengan wajah menyebalkan. “Aku lelah sekali, kau tahu? Menjadi perwakilan sekolah ini untuk olympiade sains minggu depan benar-benar melelahkan. Setiap hari aku harus ke perpustakaan atau laboratorium. Untung saja otakku cerdas.” Kenan berhenti sejenak untuk menatap Aura lalu melanjutkan, “Kalau tidak, aku pasti...”
            Kenan menghentikan ucapannya begitu saja. Ketika Aura dengan langkah lebar –meskipun langkah lebarnya masih setengah dari langkah Kenan- meninggalkan Kenan begitu saja. Kenan menghela nafas beratnya kembali. Menatap punggung Aura dari belakang benar-benar membuat sesuatu di sudut hatinya bergetar. Sungguh, Kenan selalu benci jika harus ditinggalkan tiba-tiba oleh gadis itu. Ia selalu benci jika harus diabaikan.
            Apakah ada sesuatu yang salah dengan dirinya atau kesalahan itu terletak pada diri Aura yang terlalu mengabaikannya?
            “Kau memang tidak pernah mengerti, Au.”
_o0o_
            “Jadi, jika suatu reaksi kimia terjadi pada...”
           Aura sama sekali pecah pada fokus pelajarannya. Tangannya ia sandarkan di atas meja sebagai tumpuan dagu. Meski matanya menatap lurus ke depan, entah apa yang ia perhatikan. Merana. Satu kata yang ada di otak Aura tentang keadaannya saat ini. Bukan! Bukan hanya saat ini tapi juga nanti.
            Tanpa sadar Aura menahan nafas ketika membayangkan kepulangannya nanti. Uang yang harusnya ia gunakan untuk naik bus, justru “Hilang” begitu saja karena ulah si pria usil.
            Tiba-tiba saja Aura naik pitam saat mengingat kelakuan Kenan. Dengan wajah tampannya yang terlihat menyebalkan bagi Aura selalu saja berhasil mengusilinya dengan hal-hal yang kelewat konyol.
            Mulai saat mereka ujian beberapa bulan lalu. Kenan –kembali dengan sengaja- menumpahkan air pada kertas jawabannya dan membuat Aura harus kembali meluangkan waktunya untuk ujian susulan karena kertas jawabannya yang jauh dari kata layak.
            Dan sekarang?
            “Aura,”
            Aura tersentak cepat. Terlalu cepat hingga pulpen yang ia pegang jatuh ke lantai. Aura mendengus kesal lalu mengalihkan pandangannya.
            “Kau tidak pulang?” Naira berkata sambil menyampirkan tas punggungnya. Gadis tinggi itu berdiri di samping Aura yang terlihat bingung. Sesekali juga ia merapikan rambut ikalnya yang dicat softbrown. Naira memang gadis paling modis di kelasnya.
            “Pulang?” bukannya menjawab Aura justru balik bertanya, “Kemana?”
            “Tentu saja ke rumah, bodoh!”
            Sontak Aura berdiri dan menatap sekelilingnya. Yang benar saja, kelasnya kosong! Apa ia terlalu banyak melamun sampai ia tidak sadar jika sekarang sudah waktunya untuk pulang? Aura meruntuk dalam hati, malang sekali nasibmu, Nak.
            Naira masih berdiri dengan pose anggun. Ia heran mengapa akhir-akhir ini Aura sering sekali melamun di kelas. Dan bisa dipastikan satu hal penyebabnya, pasti ulah Kenan. Kelakuan Kenan yang selalu menganggu Aura dalam bentuk apapun bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan rahasia, tapi biasa.
            Naira sendiri juga bingung mengapa Aura yang pria itu jadikan sasaran. Gadis dengan mata bulat berbingkai kacamata setengah wajah. Ditambah seragam sekolah berukuran jumbo yang membalut tubuh kecil gadis itu. Naira pikir, Aura bukanlah gadis yang tepat jika tujuan Kenan mengganggunya adalah untuk menarik perhatian gadis itu.
            “Au, kau benar-benar ingin menginap di sini?” tanya Naira. Tanpa menjawab Aura berdiri dan meraih tas punggungnya. “Tentu saja aku akan pulang ke rumah.”
            Dengan wajah lesu Aura melangkahkan kakinya keluar kelas. Meninggalkan Naira begitu saja. “Gadis itu, tidak ada sopan satunnya sama sekali.”
_o0o_
            “Ish,”
            Entah sudah yang keberapa kalinya Kenan meruntuk sebal. Tangannya lagi-lagi memukul gagang kemudi Audy putihnya. Ini sudah hampir jam lima sore dan ia masih belum sampai di rumah. Apalagi jalanan yang ia lewati padat-sesak oleh berbagai macam merk kendaraan beroda dua atau empat.
            Satu bulan ini Kenan memang selalu menjadwalkan kepulangannya lebih lama dibanding siswa lain. Apalagi alasannya kalaau bukan mendekam di pepustakaan atau laboratorium. Olympiade benar-benar mengubah hidupnya.
Brusshh...
            Seketika kaca mobil Kenan basah oleh air. Sekelilingnya juga. Hujan lebat dalam beberapa detik sukses membuat jarak pandangnya merabun.
            Dan bertambah satu lagi kesialannya.
            Perlahan Kenan melajukan mobilnya. Mengikuti kendaraan lain yang melaju, lebih tepatnya merayap melewati titik-titik hujan. Sepuluh menit berlalu kenan merasa lebih dari bosan. Hingga apapun yang ada di dalam mobilnya bisa ia jadikan korban.
Prakk...
            Satu buah boneka patung yang Kenan pegang patah di bagian kepala. “Hah...” dengan malas Kenan menekan tombol di belakang kemudi hingga kaca di sisi kanannya terbuka. Cepat-cepat Kenan mengulurkan tangannya keluar dan menjatuhkan boneka patung itu ke tanah. Kenan kembali menarik tangannya dan menutup kaca mobil. Tidak sampai lima menit tangannya ada di luar mobil, Kenan sudah merinding karena titik hujan yang sempat membasahinya.
            Tatapan Kenan kembali fokus ke depan. Semuanya benar-benar membuat fase kebosanannya meningkat. Hingga seketika sesuatu berhasil menarik perhatiannya. Sekelebat tubuh mungil di pinggir trotoar samping jalan yang ia lewati tengah berjalan sendirian.
            “Apa gadis itu gila? Berjalan di tengah hujan lebat seperti ini?”
            Kenan menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan. Gadis itu... memakai seragam yang sama dengannya. Dia...
Brakk...
            Detik berikutnya Kenan keluar dan menapakkan kakinya di tanah. berlari menuju trotoar di samping jalan dengan hati kesal, marah, dan khawatir...
            “Aura!”
            Secepat mungkin Kenan menarik tangan seorang gadis yang berjalan di trotoar itu hingga gadis itu berbalik menghadapnya. Kenan benar-benar menahan nafas ketika melihat wajah sang gadis, dia benar-benar Aura.
            “Kita pulang.” Kenan berkata dengan nada final. Tangannya menarik pergelangan Aura dan membimbimg gadis itu menuju mobilnya.
_o0o_
            Aura bagai kehilangan tenaga. Bahkan untuk sekedar melawan Kenan yang dengan paksa mendorong tubuh kecilnya hingga ia duduk di kursi penumpang. Tubuhnya basah kuyup. Kepalanya juga berputar hebat, dan Aura merasa tubuhnya semakin menggigil. Kedua tangannya ia satukan di depan dada dan sesekali meniupnya. Berharap hal itu akan memberinya sedikit kehangatan.
            “Kau itu bodoh atau apa, Huh! Kenapa kau berjalan dengan tampang tanpa dosa seperti itu. kau tahu? Kau bisa saja pingsan di tengah jalan atau...”
            “Ken, dingin...”
            Jantung Kenan semakin terpacu ketika mendengar suara Aura yang semakin lemah. Lagi-lagi Kenan meruntuk dalam hati. Jika bukan karenanya yang dengan sengaja “Mencuri” uang Aura, gadis itu pasti tidak akan pulang dengan keadaan basah kuyup seperti tadi.
            Dengan cepat Kenan menarik tas punggungnya di kursi belakang lalu mengeluarkan jaket cokelat dari dalam tas itu dan menyampirkannya pada tubuh Aura.
            Aura menoleh dengan mata sayu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Kenan. Tapi entah mengapa suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Hingga detik berikutnya Aura merasa tergangu dengan suara bising di luar mobil juga umpatan-umpatan Kenan yang tidak jelas.
Tiinn...
            Kenan terus saja menekan tombol klakson hingga beberapa kendaraan lainnya terpaksa menepi dan memberikan celah. Kenan menoleh pada Aura lalu menggenggam tangan gadis itu yang semakin dingin.
            “Bertahan, Au, ku mohon...”
           Aura tersenyum mendengar penuturan pria itu. hatinya tiba-tiba saja menghangat melihat sikap Kenan hari ini. Terkesan mengkhawatirkannya dan... Aura nyaman dengan hal itu.
            Kenan semakin mengeratkan genggamannya lalu menginjak pedal gas. Hal yang pertama kali terlintas di benaknya adalah... rumah sakit!
            _o0o_
            “Dia baik-baik saja, Nak. Ibu yakin Aura adalah gadis yang kuat.”
            Kenan mengusap wajahnya kasar. Duduk menunggu di depan ruang UGD tempat Aura dirawat benar-benar membuat Kenan serasa berada di neraka! Walaupun Bu Evi –Ibu Aura- dengan sabar menenangkannya. Tetap saja ia merasa cemas setengah mati. Apalagi saat tadi Kenan menemukan Aura dalam keadaan pingsan. Rasanya Kenan sering olahraga jantung hari ini.
            Pintu UGD tiba-tiba saja terbuka. Menmpilkan seorang Dokter serta beberapa suster lainnya yang menggiring ranjang rumah sakit tempat Aura dirawat. Kenan tersentak cepat dan berlari menghampiri Mr. Jeo, Sang Dokter sekaligus Paman Kenan. Mr. Jeo tersenyum ramah lalu menepuk bahu Kenan pelan untuk meredakan kecemasan pria itu yang terlihat jelas dari matanya. Baru kali ini ia melihat Kenan begitu cemas pada orang lain.
            “Dia baik-baik saja, Ken. Hanya perlu iatirahat beberapa saat gadis itu sudah boleh pulang hari ini.”
            Batu beton yang menghimpit dada Kenan seperti jatuh begitu saja. Bahunya melemas dengan helaan nafas lega. Untuk pertama kalinya Kenan dengan senyum tipisnya bersedia kembali menghirup oksigennya. Lalu matanya beralih pada sosok wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya.
            “Apa Ibu bilang, Aura itu anak yang kuat.” Kenan tersenyum mendengarnya lalu menjawab, “Ya, aku tahu.”
`Kenan menunduk menatap ujung sepatunya. Kali ini, atau mungkin mulai detik ini. Kenan akan memperbaiki semuanya. Dan ia akan memulai semuanya kembali dari sekarang.
“Bu, Aku titip Aura,”
_o0o_
“Kenan mana?”
Aura menggoyangkan kedua kakinya bosan. Jam masuk sekolah tinggal lima menit lagi, tapi Kenan belum juga datang. Biasanya malah pria itu yang datang lebih awal darinya. Aura tiba-tiba tersenyum mengingat cerita Ibunya kemarin, juga perilaku Kenan padanya. Aura merasa melihat sisi lain dari seorang Kenan. Selain usil, pria itu cukup hangat juga.
Aura kembali menatap jaket cokelat yang ia pegang. Jaket yang kemarin Kenan gunakan untuk menghangatkan tubuhnya yang hampir membeku karena kedinginan. Rencananya Aura akan mengembalikannya pagi ini.
“Kenan!” mata Aura berbinar ketika menyerukan nama itu. ia sudah siap melangkah menghampiri Kenan jika saja pria itu tidak memasang wajah malas padanya.
Malas? Ada apa dengan Kenan? –pikir Aura-
Kenan terus saja berjalan tanpa perduli akan tatapan aneh dari Aura. Hingga dirinya dan Aura berselisih, Kenan tetap tidak menoleh. Lebih tepatnya berusaha agar tidak menoleh. Bahu kokohnya sempat bersentuhan dengan bahu kecil Aura. Dan hal itu membuat sesuatu di dalam diri Kenan kembali bergejolak.
Aura menahan nafasnya sejenak. Menyaksikan sikap pria itu yang mengabaikannya. Entah mengapa membuat Aura merasa sedikit... kesal?
“Kenan!” Aura kembali menyerukan nama itu, membuat Kenan menoleh padanya. mulut Kenan terkatup rapat dan tanpa berkata apapun lagi ia kembali berbalik meninggalkan Aura. Dahi Aura berkerut dan tangannya terkepal. Apa sih yang salah pada pria itu?
_o0o_
            Lima jam terakhir benar-benar menjadi waktu yang panjang bagi Aura. Kegiatan yang ia lakukan tanpa gangguan dari Kenan membuat sudut hatinya merasa aneh. Seperti ada sesuatu yang kurang. Sekarang adalah jam istirahat dan Aura masih setia duduk di sudut kantin sambil memandang sekeliling, berharap menemukan sosok Kenan.
            Oh, ayolah, bukankah seharusnya ia senang jika Kenan berhenti mengusik hidupnya? Lalu apa yang salah dengan dirinya hingga merasa gelisah seperti ini? Sepertinya Aura harus menghadiri jadwal praktik dokter psikiater di salah satu rumah sakit tertentu.
            Detik berikutnya mata Aura terbelalak. Tepat di seberangnya Kenan berdampingan dengan seorang gadis langsing-semampai berambut ikal. Mereka berdua mengambil posisi beberapa meja darinya. Hatinya memanas begitu saja. O-oh, lihat seberapa anehnya perasaan Aura hari ini.
            Tanpa pikir panjang Aura berdiri dan menghampiri Kenan. Menarik tangan pria itu dengan mata menyala-nyala hingga Kenan berdiri di sampingnya.
            “Au, kau...”
            Kenan berhenti berucap ketika lensanya beradu dengan mata Aura. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca hanya menunggu waktu untuk menetes. Hati Kenan berdebar keras menyaksikan hal itu. melihat mata Aura yang berkaca-kaca? Rasanya Kenan ingin sekali meneriaki gadis itu untuk berhenti menangis.
_o0o_
            “Aura,” Kenan menggumamkan nama itu. menyerukan agar Aura berhenti menangis. Beberapa saat yang lalu ketika Aura menariknya menuju taman belakang sekolah. Kenan hanya menungguinya menangis. Melihat gadis itu menangis sama dengan menyiksa batinnya sendiri. Sesak dan perih...
            Perlahan tangan Kenan terangkat mengusap bahu Aura. Nalurinya bergejolak begitu saja, Dengan sekali hentakan tangannya menarik cepat bahu kecil Aura dan memenjarakan tubuh gadis itu dalam pelukannya. Meletakkan dagunya pada puncak kepala Aura dan kembali menengkannya.
            “Berhenti menangis, Au.” Ucap Kenan dengan nada perintah. Dengan hati-hati ia melepaskan pelukannya dan menatap sendu wajah Aura yang basah.
            Tell me, why?” Kenan menangkupkan tangan besarnya di sisi wajah Aura. Berucapa dengan nada selembut mungkin agar gadis itu berhenti terisak. Aura berusaha mereda. Kepalanya terangkat lalu merengut pada Kenan.
            “Kenapa kau mengabaikanku hari ini?”
            “Aku? Mengabaikanmu?”
            “Ya, memangnya siapa lagi?” Aura menghapus air matanya kasar lalu menegakkan tubuh menghadap Kenan. “Seperti tsfi pagi. Kau tidak membalas sapaanku dan malah berduaan dengan gadis lain.”
            Kenan tersenyum tipis lalu mencondongkan tubuh pada Aura. “You’re jealous to me?” mata Aura terbelalak sebagai reaksi lalu memundurkan wajahnya dan menunduk. “Tidak,”
            Seketia tawa Kenan pecah. Menampilkan deretan giginya yang berbaris rapi di balik bibir penuhnya.
            “Aku serius, Ken.”
            “Aku juga, Au.”
            Tiba-tiba mereka berdua terdiam. Lalu Kenan tersenyum dan kembali memeluh Aura. Meletakkan kepala gadis itu di depan dada bidangnya “You can hear mu heart?” Aura mengangguk dan menjawab, “Begitu keras.”
            Yes, thats the sign og my feel, dear.
            Aura tersenyum kambali. Ia mengeratikan tangannya di pinggang Kenan. “Ken? Kenapa selama ini kau selalu menggangguku?”
            “Karena aku mencintaimu.”
            “Apa?” Aura mendongak menatap Kenan. Mencari sesuatu di dalam lensa pekat pria itu yang sesuai dengan perkataannya dan...
            “Hanya saja, kau yang tidak peka! Kau selalu saja menganggapku sebagai pengganggu. Kau tahu? Aku hanya berusaha untuk menarik perhatianmu, Au. Itu saja.”
            Aura ternganga mendengarnya. Ia tidak menyangka jika iru alasan Kenan untuk... astaga! Apa pria se-genius Kenan tidak punya cara yang lebih baik?
            “Lalu mengapa kau menghidariku hari ini?”
            Kenan menggedikkan bahunya, “Semanjak kau sakit karena kebasahan hujan tempo hari. Aku berpikir untuk berhenti mengganggumu.” Kenan berhenti sejenak, “Tapi malah seperti ini jadinya.”
          Aura tersnyum simpul lalu berdiri. Menggenggam tangan hangat Kenan erat-erat lalu berkata, “Lobe you too.
-End-

TAraraaaaammmm.......
ini dia cerita abstrak selanjutnya dari sayaaa... hahaha
maaf kalau mengecewakan yaaa.....

comment please ^^


Tidak ada komentar: