The Respons
“Kenan,”
“Apa?”
“Uangku?”
Kenan
menaikkan sebelah alisnya lalu dengan santai memasukkan kedua tangannya ke
dalam saku. Bibir penuhnya tersenyum remeh lalu berkata, “Uangmu?”
Aura
mengangguk cepat, “Mana uangku, Kenan?”
“Memangnya
aku Ibumu, mana aku tahu.”
“Jangan
pura-pura bodoh! Aku tahu, kau yang mengambil uangku.”
Kenan
tergelak beberapa detik. Matanya menatap Aura sejenak sebelum ia mengeluarkan
sesuatu dari sakunya, satu bungkus roti sobek.
“Harusnya
kau bersyukur, karena aku sudah membantumu untuk terlihat dermawan di mata
mereka.”
Kenan
memberikan isyarat dengan dagunya. Sementara Aura dengan cepat berbalik badan
ke arah kantin tepat di ujung koridor tempat ia berdiri. Tepat pada garis lurus
tatapannya, Aura melihat beberapa orang bercengkrama sambil menikmati hidangan
mereka. Semua itu akan terlihat biasa saja bagi Aura jika saja hidangan yang
mereka makan bukanlah roti sobek yang sama dengan yang Kenan tunjukkan padanya.
Diam-diam
Kenan tersenyum dalam hati. Melihat ekspresi Aura yang terlewat menggelikan.
Bahkan mati-matian ia menahan tawanya agar tidak pecah begitu saja. Ya, memang
ia yang dengan sengaja mengambil uang gadis itu –salahkan Aura yang begitu
teledor meletakkan uangnya sembarangan di atas meja kelas-
Lalu
ide licik muncul dalam sel-sel otaknya yang genius. Tepat pada jam istirahat
Kenan menukarkan uang gadis itu dengan beberapa roti sobek yang ada di kantin
dan membagikannya pada siswa di sekolahnya. Dan sekarang semuanya berakhir
dengan eskpresi Aura dengan mata terbelalak dan mulut yang terbuka lebar.
“Hah...”
Kenan merenggangkan kedua tangannya dengan wajah menyebalkan. “Aku lelah
sekali, kau tahu? Menjadi perwakilan sekolah ini untuk olympiade sains minggu
depan benar-benar melelahkan. Setiap hari aku harus ke perpustakaan atau
laboratorium. Untung saja otakku cerdas.” Kenan berhenti sejenak untuk menatap
Aura lalu melanjutkan, “Kalau tidak, aku pasti...”
Kenan
menghentikan ucapannya begitu saja. Ketika Aura dengan langkah lebar –meskipun
langkah lebarnya masih setengah dari langkah Kenan- meninggalkan Kenan begitu
saja. Kenan menghela nafas beratnya kembali. Menatap punggung Aura dari
belakang benar-benar membuat sesuatu di sudut hatinya bergetar. Sungguh, Kenan
selalu benci jika harus ditinggalkan tiba-tiba oleh gadis itu. Ia selalu benci
jika harus diabaikan.
Apakah
ada sesuatu yang salah dengan dirinya atau kesalahan itu terletak pada diri
Aura yang terlalu mengabaikannya?
“Kau
memang tidak pernah mengerti, Au.”
_o0o_
“Jadi,
jika suatu reaksi kimia terjadi pada...”
Aura
sama sekali pecah pada fokus pelajarannya. Tangannya ia sandarkan di atas meja
sebagai tumpuan dagu. Meski matanya menatap lurus ke depan, entah apa yang ia
perhatikan. Merana. Satu kata yang ada di otak Aura tentang keadaannya saat ini.
Bukan! Bukan hanya saat ini tapi juga nanti.
Tanpa
sadar Aura menahan nafas ketika membayangkan kepulangannya nanti. Uang yang
harusnya ia gunakan untuk naik bus, justru “Hilang” begitu saja karena ulah si
pria usil.
Tiba-tiba
saja Aura naik pitam saat mengingat kelakuan Kenan. Dengan wajah tampannya yang
terlihat menyebalkan bagi Aura selalu saja berhasil mengusilinya dengan hal-hal
yang kelewat konyol.
Mulai
saat mereka ujian beberapa bulan lalu. Kenan –kembali dengan sengaja-
menumpahkan air pada kertas jawabannya dan membuat Aura harus kembali
meluangkan waktunya untuk ujian susulan karena kertas jawabannya yang jauh dari
kata layak.
Dan
sekarang?
“Aura,”
Aura
tersentak cepat. Terlalu cepat hingga pulpen yang ia pegang jatuh ke lantai.
Aura mendengus kesal lalu mengalihkan pandangannya.
“Kau
tidak pulang?” Naira berkata sambil menyampirkan tas punggungnya. Gadis tinggi
itu berdiri di samping Aura yang terlihat bingung. Sesekali juga ia merapikan
rambut ikalnya yang dicat softbrown. Naira memang gadis paling modis di
kelasnya.
“Pulang?”
bukannya menjawab Aura justru balik bertanya, “Kemana?”
“Tentu
saja ke rumah, bodoh!”
Sontak
Aura berdiri dan menatap sekelilingnya. Yang benar saja, kelasnya kosong! Apa
ia terlalu banyak melamun sampai ia tidak sadar jika sekarang sudah waktunya
untuk pulang? Aura meruntuk dalam hati, malang sekali nasibmu, Nak.
Naira
masih berdiri dengan pose anggun. Ia heran mengapa akhir-akhir ini Aura sering
sekali melamun di kelas. Dan bisa dipastikan satu hal penyebabnya, pasti ulah
Kenan. Kelakuan Kenan yang selalu menganggu Aura dalam bentuk apapun bukanlah
sesuatu yang bisa dikatakan rahasia, tapi biasa.
Naira
sendiri juga bingung mengapa Aura yang pria itu jadikan sasaran. Gadis dengan
mata bulat berbingkai kacamata setengah wajah. Ditambah seragam sekolah
berukuran jumbo yang membalut tubuh kecil gadis itu. Naira pikir, Aura bukanlah
gadis yang tepat jika tujuan Kenan mengganggunya adalah untuk menarik perhatian
gadis itu.
“Au,
kau benar-benar ingin menginap di sini?” tanya Naira. Tanpa menjawab Aura
berdiri dan meraih tas punggungnya. “Tentu saja aku akan pulang ke rumah.”
Dengan
wajah lesu Aura melangkahkan kakinya keluar kelas. Meninggalkan Naira begitu
saja. “Gadis itu, tidak ada sopan satunnya sama sekali.”
_o0o_
“Ish,”
Entah
sudah yang keberapa kalinya Kenan meruntuk sebal. Tangannya lagi-lagi memukul
gagang kemudi Audy putihnya. Ini sudah hampir jam lima sore dan ia masih
belum sampai di rumah. Apalagi jalanan yang ia lewati padat-sesak oleh berbagai
macam merk kendaraan beroda dua atau empat.
Satu bulan ini Kenan
memang selalu menjadwalkan kepulangannya lebih lama dibanding siswa lain.
Apalagi alasannya kalaau bukan mendekam di pepustakaan atau laboratorium.
Olympiade benar-benar mengubah hidupnya.
Brusshh...
Seketika
kaca mobil Kenan basah oleh air. Sekelilingnya juga. Hujan lebat dalam beberapa
detik sukses membuat jarak pandangnya merabun.
Dan
bertambah satu lagi kesialannya.
Perlahan
Kenan melajukan mobilnya. Mengikuti kendaraan lain yang melaju, lebih tepatnya
merayap melewati titik-titik hujan. Sepuluh menit berlalu kenan merasa lebih
dari bosan. Hingga apapun yang ada di dalam mobilnya bisa ia jadikan korban.
Prakk...
Satu
buah boneka patung yang Kenan pegang patah di bagian kepala. “Hah...” dengan
malas Kenan menekan tombol di belakang kemudi hingga kaca di sisi kanannya
terbuka. Cepat-cepat Kenan mengulurkan tangannya keluar dan menjatuhkan boneka
patung itu ke tanah. Kenan kembali menarik tangannya dan menutup kaca mobil.
Tidak sampai lima menit tangannya ada di luar mobil, Kenan sudah merinding
karena titik hujan yang sempat membasahinya.
Tatapan
Kenan kembali fokus ke depan. Semuanya benar-benar membuat fase kebosanannya
meningkat. Hingga seketika sesuatu berhasil menarik perhatiannya. Sekelebat
tubuh mungil di pinggir trotoar samping jalan yang ia lewati tengah berjalan
sendirian.
“Apa
gadis itu gila? Berjalan di tengah hujan lebat seperti ini?”
Kenan
menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan. Gadis itu... memakai seragam
yang sama dengannya. Dia...
Brakk...
Detik
berikutnya Kenan keluar dan menapakkan kakinya di tanah. berlari menuju trotoar
di samping jalan dengan hati kesal, marah, dan khawatir...
“Aura!”
Secepat
mungkin Kenan menarik tangan seorang gadis yang berjalan di trotoar itu hingga
gadis itu berbalik menghadapnya. Kenan benar-benar menahan nafas ketika melihat
wajah sang gadis, dia benar-benar Aura.
“Kita
pulang.” Kenan berkata dengan nada final. Tangannya menarik pergelangan Aura
dan membimbimg gadis itu menuju mobilnya.
_o0o_
Aura
bagai kehilangan tenaga. Bahkan untuk sekedar melawan Kenan yang dengan paksa
mendorong tubuh kecilnya hingga ia duduk di kursi penumpang. Tubuhnya basah
kuyup. Kepalanya juga berputar hebat, dan Aura merasa tubuhnya semakin
menggigil. Kedua tangannya ia satukan di depan dada dan sesekali meniupnya.
Berharap hal itu akan memberinya sedikit kehangatan.
“Kau
itu bodoh atau apa, Huh! Kenapa kau berjalan dengan tampang tanpa dosa seperti
itu. kau tahu? Kau bisa saja pingsan di tengah jalan atau...”
“Ken,
dingin...”
Jantung
Kenan semakin terpacu ketika mendengar suara Aura yang semakin lemah. Lagi-lagi
Kenan meruntuk dalam hati. Jika bukan karenanya yang dengan sengaja “Mencuri”
uang Aura, gadis itu pasti tidak akan pulang dengan keadaan basah kuyup seperti
tadi.
Dengan
cepat Kenan menarik tas punggungnya di kursi belakang lalu mengeluarkan jaket
cokelat dari dalam tas itu dan menyampirkannya pada tubuh Aura.
Aura
menoleh dengan mata sayu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan pada
Kenan. Tapi entah mengapa suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Hingga
detik berikutnya Aura merasa tergangu dengan suara bising di luar mobil juga
umpatan-umpatan Kenan yang tidak jelas.
Tiinn...
Kenan
terus saja menekan tombol klakson hingga beberapa kendaraan lainnya terpaksa
menepi dan memberikan celah. Kenan menoleh pada Aura lalu menggenggam tangan
gadis itu yang semakin dingin.
“Bertahan,
Au, ku mohon...”
Aura
tersenyum mendengar penuturan pria itu. hatinya tiba-tiba saja menghangat
melihat sikap Kenan hari ini. Terkesan mengkhawatirkannya dan... Aura nyaman
dengan hal itu.
Kenan
semakin mengeratkan genggamannya lalu menginjak pedal gas. Hal yang pertama
kali terlintas di benaknya adalah... rumah sakit!
_o0o_
“Dia
baik-baik saja, Nak. Ibu yakin Aura adalah gadis yang kuat.”
Kenan
mengusap wajahnya kasar. Duduk menunggu di depan ruang UGD tempat Aura dirawat
benar-benar membuat Kenan serasa berada di neraka! Walaupun Bu Evi –Ibu Aura-
dengan sabar menenangkannya. Tetap saja ia merasa cemas setengah mati. Apalagi
saat tadi Kenan menemukan Aura dalam keadaan pingsan. Rasanya Kenan sering
olahraga jantung hari ini.
Pintu
UGD tiba-tiba saja terbuka. Menmpilkan seorang Dokter serta beberapa suster
lainnya yang menggiring ranjang rumah sakit tempat Aura dirawat. Kenan
tersentak cepat dan berlari menghampiri Mr. Jeo, Sang Dokter sekaligus Paman
Kenan. Mr. Jeo tersenyum ramah lalu menepuk bahu Kenan pelan untuk meredakan
kecemasan pria itu yang terlihat jelas dari matanya. Baru kali ini ia melihat
Kenan begitu cemas pada orang lain.
“Dia
baik-baik saja, Ken. Hanya perlu iatirahat beberapa saat gadis itu sudah boleh
pulang hari ini.”
Batu
beton yang menghimpit dada Kenan seperti jatuh begitu saja. Bahunya melemas
dengan helaan nafas lega. Untuk pertama kalinya Kenan dengan senyum tipisnya
bersedia kembali menghirup oksigennya. Lalu matanya beralih pada sosok wanita
paruh baya yang berdiri di sampingnya.
“Apa
Ibu bilang, Aura itu anak yang kuat.” Kenan tersenyum mendengarnya lalu
menjawab, “Ya, aku tahu.”
`Kenan
menunduk menatap ujung sepatunya. Kali ini, atau mungkin mulai detik ini. Kenan
akan memperbaiki semuanya. Dan ia akan memulai semuanya kembali dari sekarang.
“Bu,
Aku titip Aura,”
_o0o_
“Kenan
mana?”
Aura
menggoyangkan kedua kakinya bosan. Jam masuk sekolah tinggal lima menit lagi,
tapi Kenan belum juga datang. Biasanya malah pria itu yang datang lebih awal
darinya. Aura tiba-tiba tersenyum mengingat cerita Ibunya kemarin, juga
perilaku Kenan padanya. Aura merasa melihat sisi lain dari seorang Kenan.
Selain usil, pria itu cukup hangat juga.
Aura
kembali menatap jaket cokelat yang ia pegang. Jaket yang kemarin Kenan gunakan
untuk menghangatkan tubuhnya yang hampir membeku karena kedinginan. Rencananya
Aura akan mengembalikannya pagi ini.
“Kenan!”
mata Aura berbinar ketika menyerukan nama itu. ia sudah siap melangkah
menghampiri Kenan jika saja pria itu tidak memasang wajah malas padanya.
Malas?
Ada apa dengan Kenan? –pikir Aura-
Kenan
terus saja berjalan tanpa perduli akan tatapan aneh dari Aura. Hingga dirinya
dan Aura berselisih, Kenan tetap tidak menoleh. Lebih tepatnya berusaha agar
tidak menoleh. Bahu kokohnya sempat bersentuhan dengan bahu kecil Aura. Dan hal
itu membuat sesuatu di dalam diri Kenan kembali bergejolak.
Aura
menahan nafasnya sejenak. Menyaksikan sikap pria itu yang mengabaikannya. Entah
mengapa membuat Aura merasa sedikit... kesal?
“Kenan!”
Aura kembali menyerukan nama itu, membuat Kenan menoleh padanya. mulut Kenan
terkatup rapat dan tanpa berkata apapun lagi ia kembali berbalik meninggalkan
Aura. Dahi Aura berkerut dan tangannya terkepal. Apa sih yang salah pada pria
itu?
_o0o_
Lima
jam terakhir benar-benar menjadi waktu yang panjang bagi Aura. Kegiatan yang ia
lakukan tanpa gangguan dari Kenan membuat sudut hatinya merasa aneh. Seperti
ada sesuatu yang kurang. Sekarang adalah jam istirahat dan Aura masih setia
duduk di sudut kantin sambil memandang sekeliling, berharap menemukan sosok
Kenan.
Oh,
ayolah, bukankah seharusnya ia senang jika Kenan berhenti mengusik hidupnya? Lalu
apa yang salah dengan dirinya hingga merasa gelisah seperti ini? Sepertinya
Aura harus menghadiri jadwal praktik dokter psikiater di salah satu rumah sakit
tertentu.
Detik
berikutnya mata Aura terbelalak. Tepat di seberangnya Kenan berdampingan dengan
seorang gadis langsing-semampai berambut ikal. Mereka berdua mengambil posisi
beberapa meja darinya. Hatinya memanas begitu saja. O-oh, lihat seberapa
anehnya perasaan Aura hari ini.
Tanpa
pikir panjang Aura berdiri dan menghampiri Kenan. Menarik tangan pria itu
dengan mata menyala-nyala hingga Kenan berdiri di sampingnya.
“Au,
kau...”
Kenan
berhenti berucap ketika lensanya beradu dengan mata Aura. Mata gadis itu sudah
berkaca-kaca hanya menunggu waktu untuk menetes. Hati Kenan berdebar keras
menyaksikan hal itu. melihat mata Aura yang berkaca-kaca? Rasanya Kenan ingin
sekali meneriaki gadis itu untuk berhenti menangis.
_o0o_
“Aura,”
Kenan menggumamkan nama itu. menyerukan agar Aura berhenti menangis. Beberapa
saat yang lalu ketika Aura menariknya menuju taman belakang sekolah. Kenan
hanya menungguinya menangis. Melihat gadis itu menangis sama dengan menyiksa
batinnya sendiri. Sesak dan perih...
Perlahan
tangan Kenan terangkat mengusap bahu Aura. Nalurinya bergejolak begitu saja,
Dengan sekali hentakan tangannya menarik cepat bahu kecil Aura dan memenjarakan
tubuh gadis itu dalam pelukannya. Meletakkan dagunya pada puncak kepala Aura
dan kembali menengkannya.
“Berhenti
menangis, Au.” Ucap Kenan dengan nada perintah. Dengan hati-hati ia melepaskan
pelukannya dan menatap sendu wajah Aura yang basah.
“Tell
me, why?” Kenan menangkupkan tangan besarnya di sisi wajah Aura. Berucapa
dengan nada selembut mungkin agar gadis itu berhenti terisak. Aura berusaha
mereda. Kepalanya terangkat lalu merengut pada Kenan.
“Kenapa
kau mengabaikanku hari ini?”
“Aku?
Mengabaikanmu?”
“Ya,
memangnya siapa lagi?” Aura menghapus air matanya kasar lalu menegakkan tubuh
menghadap Kenan. “Seperti tsfi pagi. Kau tidak membalas sapaanku dan malah
berduaan dengan gadis lain.”
Kenan
tersenyum tipis lalu mencondongkan tubuh pada Aura. “You’re jealous to me?”
mata Aura terbelalak sebagai reaksi lalu memundurkan wajahnya dan menunduk.
“Tidak,”
Seketia
tawa Kenan pecah. Menampilkan deretan giginya yang berbaris rapi di balik bibir
penuhnya.
“Aku
serius, Ken.”
“Aku
juga, Au.”
Tiba-tiba
mereka berdua terdiam. Lalu Kenan tersenyum dan kembali memeluh Aura.
Meletakkan kepala gadis itu di depan dada bidangnya “You can hear mu heart?”
Aura mengangguk dan menjawab, “Begitu keras.”
“Yes,
thats the sign og my feel, dear.”
Aura
tersenyum kambali. Ia mengeratikan tangannya di pinggang Kenan. “Ken? Kenapa
selama ini kau selalu menggangguku?”
“Karena
aku mencintaimu.”
“Apa?”
Aura mendongak menatap Kenan. Mencari sesuatu di dalam lensa pekat pria itu
yang sesuai dengan perkataannya dan...
“Hanya
saja, kau yang tidak peka! Kau selalu saja menganggapku sebagai pengganggu. Kau
tahu? Aku hanya berusaha untuk menarik perhatianmu, Au. Itu saja.”
Aura
ternganga mendengarnya. Ia tidak menyangka jika iru alasan Kenan untuk...
astaga! Apa pria se-genius Kenan tidak punya cara yang lebih baik?
“Lalu
mengapa kau menghidariku hari ini?”
Kenan
menggedikkan bahunya, “Semanjak kau sakit karena kebasahan hujan tempo hari.
Aku berpikir untuk berhenti mengganggumu.” Kenan berhenti sejenak, “Tapi malah
seperti ini jadinya.”
Aura
tersnyum simpul lalu berdiri. Menggenggam tangan hangat Kenan erat-erat lalu
berkata, “Lobe you too.”
-End-
TAraraaaaammmm.......
ini dia cerita abstrak selanjutnya dari sayaaa... hahaha
maaf kalau mengecewakan yaaa.....
comment please ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar