Selasa, 23 September 2014

Make Me Believe That I Love You






MAKE ME BELIEVE THAT... I LOVE YOU

Saat ku tenggelam dalam sendu                                                                                       
Waktu pun enggan untuk berlalu

            “Pagi semua!” sapa So-Eun dengan suara cemprengnya. Dress hijau selutut dengan bandana putih yang melekat sempurna pada tubuhnya membuat Naura tampak lebih manis pagi ini. Kakinya dengan riang mulai melangkah menuju kursinya, sambil melompat-lompat kecil dan bersiul ria.
            “Pagi, Chang-Min-ahh,”  So-Eun mulai mengeluarkan buku-bukunya dari dalam ransel cokelatnya. Matanya dengan cepat menatap ngeri sebuah buku yang tengah digenggam seorang pria di sampingnya. Buku tebal berjudulkan “STATISTIKA”.
“Min-ahh, aku kagum denganmu,” ungkap Soeun dengan mata berbinar. Sontak Chang-Min yang duduk di sampingnya menoleh, hanya menoleh tanpa mengucap satu kata-pun. Lalu pria itu kembali fokus pada buku ditangannya.
            “Kau itu luar biasa.” Ucap So-Eun sambil mengacungkan kedua ibu jarinya kepada pria di sampingnya. “Lalu?” tanya Chang-Min tanpa mengalihkan pandangannya.

Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku  
Dan tak untuk siapapun itu

            “Lalu, kau harus mulai bersikap wajar seperti manusia normal lainnya,” ucap So-Eun bersemangat. Dengan cepat ia memutar kursinya menghadap Chang-Min. Memperhatikan satu-persatu guratan indah yang terlukis di wajah tampan pria genius itu. Wajah yang berhasil membuatnya mampu tersenyum kagum hanya karena menatapnya. Wajah yang mampu menjungkir-balikkan dunianya.
             “Sikapmu yang dingin dan cuek itu seperti dinding besar  yang menghalangimu dari dunia luar,” kata So-Eun mulai bercerita. “Aku tahu itu sulit bagimu, tapi...“
            “Tapi itu bukan urusanmu.” ucap Chang-Min sakartis. Dengan perlahan ia mulai bangkit dan melangkah keluar ruangan. Padahal lima belas menit lagi sang dosen killer akan mulai memasuki ruangan tersebut. Untuk membahas apapun yang berhubungan dengan statistika.

Semakin ku lihat masa lalu                                                                                                      
Semakin hatiku tak menentu

            “Kita telalu berbeda, Min-ahh”
            “Kau itu genius, sementara aku...“
            Semilir angin yang berhembus lembut, membuat Chang-Min kambali teringat akan kenangan itu. Kenangan yang entah sampai kapan mampu ia lupakan, atau mungkin tak terlupakan. Kenangan yang memaksanya harus memilih antara ego atau masa depannya, kenangan yang menharuskannya memilih antara hati atau kehidupannya.
            Chang-Min hanya tersenyum miring. Menatap sinis pada hamparan rumput hijau yang tumbuh dengan damai di sekelilingnya. Damai?, bahkan ia ragu apakah kata itu masih ada dalam hidupnya. Mungkin ia bodoh, karena pilihan yang sempat ia kumandangkan dimasa lalu berhasil merenggut semua kata damai dalam hari-harinya.
            “Tara...!” Chang-Min sedikit terkejut ketika suara cempreng itu mulai membahana di sekitarnya, dan matanya dengan cepat menatap tajam sosok gadis manis yang duduk disampingnya dengan sebatang lolipop di tangannya. “Aku tidak tahu kalau kau juga suka taman,“ ucap So-Eun.
“Dan akan lebih menyenangkan jika sambil memakan ini.” seketika So-Eun menyodorkan sebatang lolipop pada Chang-Min.
            “Aku bukan anak kecil,”
            “Aku tidak mengatakan kau anak kecil,”
            Chang-Min kembali menghela nafas beratnya. Mencoba bersikap sabar menhadapi tingkah gadis cempreng itu. “Yasudah kalau kau tidak mau,” dengan cepat tangan So-Eun memasukkan lolipop tersebut ke dalam mulut mungilnya.
            “Min-ahh, Mianhae,” sontak Chang-Min menoleh menatap heran ekspresi menyesal yang terpancar dari wajah So-Eun. “Aku tidak bermaksud...“
            “Aku tahu,”
            So-Eun kembali menoleh. Terkesiap atas dua kata yang terucap dari pria dingin di sampingnya. “Itu bukan salahmu.”
            “Min-ahh, aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu terpaku akan masa lalu, tapi...“
            Naura menarik nafasnya dalam-dalam.”Tapi masa lalu bukanlah pilihan. Masa lalu hanya sekedar percobaan agar kamu bisa memilih dimasa depan. Kamu hidup memang dari masa lalu, tapi kamu hidup bukan untuk masa lalu.”  ucap So-Eun lembut dengan senyum tipisya.

Tetapi satu sinar terangi  jiwaku                           
Saat ku melihat senyummu

            Jantung Chang-Min terpacu. Entah itu sihir atau kenyataan, tapi kata-kata lembut So-Eun mampu membuat dunianya seakan berhenti. Fokusnya benar-benar terpaku pada wajah Naura, pada senyum tipisnya. Otak geniusnya kosong seketika. Lidah tajam yang selalu ia tunjukkan seolah-olah kelu tak bernyawa. Bukan, seharusnya bukan ini yang ia rasakan.
            “Aku percaya kau bisa.” So-Eun kembali berucap dan itu sukses membuat Chang-Min terdiam. Bahkan tanpa sadar ia menahan nafasnya.
“So-Eun...” ucap Chang-Min terbata.
            “Tentang masa laluku..”

Dan kau hadir merubah segalanya                                                                  
Menjadi lebih indah

            “Min-ahh, aku lelah,” keluh So-Eun sambil mengusap betisnya. Chang-Min hanya tersenyum tipis dan mengacak lembut rambut So-Eun. Dengan perlahan ia menggenggam tangan So-Eun dan menuntunya menuju bangku halte.
            “Malam ini indah,” gumam So-Eun ketika mata indahnya menatap kagum pada hamparan langit di atas sana. Mata yang membuat Chang-Min sadar bahwa ia tak lagi sendirian. “Tapi kau lebih indah,” Kata-kata Chang-Min sukses menghangatkan hatinya, bahkan naik sampai ke wajahnya. Ia... tersipu.
            Diam-diam Chang-Min tersenyum. Itu kenyataan, ia bukan tipikal pria yang mudah mengumbar pujian. Tapi sekarang ia mulai meragukan pernyataan tersebut.

Kau bawa cintaku setinggi angkasa              
Membuat ku merasa sempurna

Entah apa yang kini membuatnya merasa tertuntut. Tertuntut untuk terus memberikan pujian pada So-Eun, hanya pada gadis itu. Senyumnya semakin merekah ketika sebuah gagasan yang terbesit dalam pikirannya berhasil menjawab segalanya. Bahwa mungkin, pujian adalah salah satu cara untuk menahannya. Menahan agar gadis itu tetap ada disisinya. Menahan agar cintanya tetap sempurna bersama gadis itu, bersama gadisnya.
“Chang-Min!” Chang-Min terlonjak ketika suara cempreng So-Eun terdengar oleh telinganya. “Melamun?” tanya So-Eun.
“Tentang kita,”
“Apa?’
“Chang-Min dan So-Eun.”
            So-Eun semakin heran ketika Chang-Min kembali mengeluarkan kalimat ambigunya. Baru beberapa bulan yang lalu semua sikap ambigu pria itu tentang masa lalunya terjawab. Lalu apakah sekarang ia akan bersikap ambigu lagi?. Sudah cukup So-Eun menekan perasaannya untuk mengembalikan pria itu dari kesendirian. Lalu apakah sekarang pria itu akan kembali memilih untuk sendiri?.
            “Kita terlalu berbeda, Sso-ahh,”
            “Apa?”
“Kau begitu ceria, sementara aku...“

Dan membuatku utuh                                                                                                                  
Tuk menjalani hidup

            “Chang-Min! kau udah janji nggak akan bahas tentang ini lagi.” desah So-Eun gusar. Bahkan air matanya mulai jatuh perlahan. “Maaf...”
            “Maaf karena setelah ini mungkin aku akan lebih memilih ego-ku,”
            “Min-ahh...”
            “Maaf, karena aku mungkin tidak akan melepaskanmu.” seketika So-Eun terdiam. Tunggu, apa maksudnya itu?.
            “Terima kasih karena telah menunjukkan masa depan padaku. Terima kasih karena telah membuatku percaya bahwa kau adalah satu-satunya pilihan untuk masa depanku. Terima kasih karena telah membuatku mengerti arti cinta. Terima kasih karena telah membuat hidupku lebih indah.”

Berdua denganmu selama-lamanya                                                                                      Engkaulah yang terbaik untukku

-End-

Yeyyy... akhirnya jadi juga nihh ff g danta. hehe xD komenannya please ^^

Tidak ada komentar: