MAKE ME BELIEVE
THAT... I LOVE YOU
Saat
ku tenggelam dalam sendu
Waktu
pun enggan untuk berlalu
“Pagi semua!” sapa
So-Eun dengan suara cemprengnya. Dress hijau selutut dengan bandana
putih yang melekat sempurna pada tubuhnya membuat Naura tampak lebih manis pagi
ini. Kakinya dengan riang mulai melangkah menuju kursinya, sambil
melompat-lompat kecil dan bersiul ria.
“Pagi, Chang-Min-ahh,”
So-Eun mulai mengeluarkan buku-bukunya
dari dalam ransel cokelatnya. Matanya dengan cepat menatap ngeri sebuah buku
yang tengah digenggam seorang pria di sampingnya. Buku tebal berjudulkan “STATISTIKA”.
“Min-ahh, aku
kagum denganmu,” ungkap Soeun dengan mata berbinar. Sontak Chang-Min yang duduk
di sampingnya menoleh, hanya menoleh tanpa mengucap satu kata-pun. Lalu pria
itu kembali fokus pada buku ditangannya.
“Kau itu luar
biasa.” Ucap So-Eun sambil mengacungkan kedua ibu jarinya kepada pria di sampingnya.
“Lalu?” tanya Chang-Min tanpa mengalihkan pandangannya.
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Dan tak untuk siapapun itu
“Lalu, kau harus
mulai bersikap wajar seperti manusia normal lainnya,” ucap So-Eun bersemangat.
Dengan cepat ia memutar kursinya menghadap Chang-Min. Memperhatikan
satu-persatu guratan indah yang terlukis di wajah tampan pria genius itu. Wajah
yang berhasil membuatnya mampu tersenyum kagum hanya karena menatapnya. Wajah
yang mampu menjungkir-balikkan dunianya.
“Sikapmu yang
dingin dan cuek itu seperti dinding besar yang menghalangimu dari dunia luar,” kata So-Eun
mulai bercerita. “Aku tahu itu sulit bagimu, tapi...“
“Tapi itu bukan
urusanmu.” ucap Chang-Min sakartis. Dengan perlahan ia mulai bangkit dan
melangkah keluar ruangan. Padahal lima belas menit lagi sang dosen killer akan mulai memasuki ruangan
tersebut. Untuk membahas apapun yang berhubungan dengan statistika.
Semakin
ku lihat masa lalu
Semakin
hatiku tak menentu
“Kita telalu
berbeda, Min-ahh”
“Kau itu genius,
sementara aku...“
Semilir angin yang
berhembus lembut, membuat Chang-Min kambali teringat akan kenangan itu.
Kenangan yang entah sampai kapan mampu ia lupakan, atau mungkin tak terlupakan.
Kenangan yang memaksanya harus memilih antara ego atau masa depannya, kenangan
yang menharuskannya memilih antara hati atau kehidupannya.
Chang-Min hanya
tersenyum miring. Menatap sinis pada hamparan rumput hijau yang tumbuh dengan
damai di sekelilingnya. Damai?, bahkan ia ragu apakah kata itu masih ada dalam
hidupnya. Mungkin ia bodoh, karena pilihan yang sempat ia kumandangkan dimasa
lalu berhasil merenggut semua kata damai dalam hari-harinya.
“Tara...!”
Chang-Min sedikit terkejut ketika suara cempreng itu mulai membahana di
sekitarnya, dan matanya dengan cepat menatap tajam sosok gadis manis yang duduk
disampingnya dengan sebatang lolipop di tangannya. “Aku tidak tahu kalau kau
juga suka taman,“ ucap So-Eun.
“Dan akan lebih
menyenangkan jika sambil memakan ini.” seketika So-Eun menyodorkan sebatang
lolipop pada Chang-Min.
“Aku bukan anak
kecil,”
“Aku tidak
mengatakan kau anak kecil,”
Chang-Min kembali
menghela nafas beratnya. Mencoba bersikap sabar menhadapi tingkah gadis
cempreng itu. “Yasudah kalau kau tidak mau,” dengan cepat tangan So-Eun
memasukkan lolipop tersebut ke dalam mulut mungilnya.
“Min-ahh, Mianhae,”
sontak Chang-Min menoleh menatap heran ekspresi menyesal yang terpancar dari
wajah So-Eun. “Aku tidak bermaksud...“
“Aku tahu,”
So-Eun kembali
menoleh. Terkesiap atas dua kata yang terucap dari pria dingin di sampingnya.
“Itu bukan salahmu.”
“Min-ahh, aku tidak
tahu apa yang membuatmu begitu terpaku akan masa lalu, tapi...“
Naura menarik
nafasnya dalam-dalam.”Tapi masa lalu bukanlah pilihan. Masa lalu hanya sekedar
percobaan agar kamu bisa memilih dimasa depan. Kamu hidup memang dari masa
lalu, tapi kamu hidup bukan untuk masa lalu.” ucap So-Eun lembut dengan senyum tipisya.
Tetapi
satu sinar terangi jiwaku
Saat
ku melihat senyummu
Jantung Chang-Min
terpacu. Entah itu sihir atau kenyataan, tapi kata-kata lembut So-Eun mampu
membuat dunianya seakan berhenti. Fokusnya benar-benar terpaku pada wajah
Naura, pada senyum tipisnya. Otak geniusnya kosong seketika. Lidah tajam yang
selalu ia tunjukkan seolah-olah kelu tak bernyawa. Bukan, seharusnya bukan ini
yang ia rasakan.
“Aku percaya kau
bisa.” So-Eun kembali berucap dan itu sukses membuat Chang-Min terdiam. Bahkan
tanpa sadar ia menahan nafasnya.
“So-Eun...”
ucap Chang-Min terbata.
“Tentang masa
laluku..”
Dan
kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih
indah
“Min-ahh, aku
lelah,” keluh So-Eun sambil mengusap betisnya. Chang-Min hanya tersenyum tipis
dan mengacak lembut rambut So-Eun. Dengan perlahan ia menggenggam tangan So-Eun
dan menuntunya menuju bangku halte.
“Malam ini indah,”
gumam So-Eun ketika mata indahnya menatap kagum pada hamparan langit di atas
sana. Mata yang membuat Chang-Min sadar bahwa ia tak lagi sendirian. “Tapi kau
lebih indah,” Kata-kata Chang-Min sukses menghangatkan hatinya, bahkan naik
sampai ke wajahnya. Ia... tersipu.
Diam-diam Chang-Min
tersenyum. Itu kenyataan, ia bukan tipikal pria yang mudah mengumbar pujian.
Tapi sekarang ia mulai meragukan pernyataan tersebut.
Kau
bawa cintaku setinggi angkasa
Membuat ku
merasa sempurna
Entah apa yang
kini membuatnya merasa tertuntut. Tertuntut untuk terus memberikan pujian pada So-Eun,
hanya pada gadis itu. Senyumnya semakin merekah ketika sebuah gagasan yang
terbesit dalam pikirannya berhasil menjawab segalanya. Bahwa mungkin, pujian
adalah salah satu cara untuk menahannya. Menahan agar gadis itu tetap ada
disisinya. Menahan agar cintanya tetap sempurna bersama gadis itu, bersama
gadisnya.
“Chang-Min!”
Chang-Min terlonjak ketika suara cempreng So-Eun terdengar oleh telinganya.
“Melamun?” tanya So-Eun.
“Tentang kita,”
“Apa?’
“Chang-Min dan
So-Eun.”
So-Eun semakin
heran ketika Chang-Min kembali mengeluarkan kalimat ambigunya. Baru beberapa
bulan yang lalu semua sikap ambigu pria itu tentang masa lalunya terjawab. Lalu
apakah sekarang ia akan bersikap ambigu lagi?. Sudah cukup So-Eun menekan
perasaannya untuk mengembalikan pria itu dari kesendirian. Lalu apakah sekarang
pria itu akan kembali memilih untuk sendiri?.
“Kita terlalu
berbeda, Sso-ahh,”
“Apa?”
“Kau begitu
ceria, sementara aku...“
Dan
membuatku utuh
Tuk
menjalani hidup
“Chang-Min! kau
udah janji nggak akan bahas tentang ini lagi.” desah So-Eun gusar. Bahkan air
matanya mulai jatuh perlahan. “Maaf...”
“Maaf karena
setelah ini mungkin aku akan lebih memilih ego-ku,”
“Min-ahh...”
“Maaf, karena aku
mungkin tidak akan melepaskanmu.” seketika So-Eun terdiam. Tunggu, apa
maksudnya itu?.
“Terima kasih
karena telah menunjukkan masa depan padaku. Terima kasih karena telah membuatku
percaya bahwa kau adalah satu-satunya pilihan untuk masa depanku. Terima kasih
karena telah membuatku mengerti arti cinta. Terima kasih karena telah membuat
hidupku lebih indah.”
Berdua
denganmu selama-lamanya
Engkaulah
yang terbaik untukku
-End-
Yeyyy... akhirnya jadi juga nihh ff g danta. hehe xD komenannya please ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar