My Deddy
Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu, buat ku melambung
Bila duduk di depan meja riasnya.
Tangannya meraih sisir di sudut meja lalu ia sapukan di sela rambut panjangnya.
Detik berikutnya Bila terhenti begitu saja. Ketika mata sipitnya menatap satu
figur foto yang terbingai rapi meski terlihat kusam.
Gadis itu kembali meletakkan
sisirnya. Meraih bingkai foto tersebut dan tersenyum. Cetakan seorang pria
dengan kerutan di sekitar matanya yang memelukseorang gadis mungil. Gadis kecil
dengan baju pink terang yang tersenyum senang menampakkan giginya yang tak
lengkap.
Jari lentik gadis itu pelahan mulai
menyusuri bingkai tersebut. Setiap inci yang ia sentuh setiap itu juga hatinya
semakin sesak.
Ia teringat...
Dulu, saat usianya masih berada di
angka lima belas. Pria itu selalu memperingatinya sebelum tidur.
“Bi, kamu sudah tidur?” tanya Ayah
Bila saat itu.
“Belum, Pa.”
Setelahnya Sang Ayah membuka pintu
kamar Bila dan duduk di samping gadis itu. Bila sadar akan kehadiran Ayahnya,
ia meletakkan handphonenya di samping nakas lalu manatap Sang Ayah.
“Pa. Besok Bibi ada acara perpisahan
di sekolah. Papa jadi datang, kan?”
“Ya, Papa pasti datang. Nanti kalau
prestasi Bibi bagus...”
“Ada hadiahnya,” Bila memotong cepat
dengan mata berbinar. Ia selalu senang dengan gagasan itu. Walaupun kalimat
‘Nilai bagus’ belum tentu bisa ia pegang, Bila yakin Ayahnya akan tetap
menghadiahkannya sesuatu.
Sang Ayah melebarkan senyumnya lalu
mengusap rambut sebahu Bila dengan gerakan pelan.
“Dasar! Maunya itu,”
Bila ikut tersenyum. “Sudah malam,
Tidur sana, besok Bibi harus bangun pagi untuk persiapan acara. Jangan lupa
obat nyamuknya dipasang. Bibi kan tahu kamarnya banyak nyamuk.”
“Nggak apa-apa, kan biar berbagi
pahala. Kasih makan buat nyamuk.”
Bila terkekeh setelah mengucapkan
kalimat itu. Sang Ayah lalu berdiri dan berjalan keluar kamar.
“Jangan lupa baca doanya.” Ucap Sang
Ayah sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu yang tertutup
kembali.
Di sisimu terngiang hangat nafas segar harusm tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
“Bibi, kamu sudah siap?”
“Belum, Pa. Masih pakai baju.”
“Nanti kalau sudah selesai kita
sarapan dulu, baru berangkat.”
“Iyam lima menit lagi.”
Bila tergesa-gesa merapikan
kebayanya. Kembali ia meraih bubuk bedak di atas meja rias lalu mengoleskannya
ke sisi wajah. Untuk kesekian kalinya Bila mematut dirinya di depan cermin.
Dengan kebaya berwarna cokelat pudar yang melekat pas di tubuh kecilnya, juga
riasan tipis di sisi wajahnya. Gadis itu terlihat dua kali lebih manis dari
biasanya.
“Ternyata Papa nggak salah pilih
kebaya.”
Bila lalu beranjak dari tempatnya
dan keluar kamar untuk sarapan. Setelah ia sampai di ruang tamu –karena memang
di rumah itu tidak ada meja makan, sehingga semua kegiatan dilakukan di ruang
tamu-. Gadis itu duduk melantai di samping Sang Ayah.
“Anak Papa cantik juga ternyata.”
Bila memukul bahu Ayahnya main-main/
“Jadi selama ini jelek, gitu?”
“Sadar juga rupanya,”
“Papa!”
Bila semakin merengut sebal. Selalu
saja seperti ini setiap kali mereka sarapan bersama. Bila kadang termenung, apa
yang salah dengan Ayahnya hingga di usia ke empat puluh satupun pria itu masih
saja bersikap usil.
“Sarapan dulu,” Bila mengangkat
kepala dan menatap Sang Ayah. “Masak nasi goreng?”
Sang Ayah mengangguk.
“Kapan masaknya?”
“Tadi waktu Bila mandi.”
“Kok Bila nggak tahu.”
“Bila mandinya kelamaan.hampir
setengah jam di kamar mandi.”
Bila tersenyum aneh, “Kan biar nanti
waktu acara perpisahan bisa tetap wangi.”
“Ya, anak Papa sudah dewasa
rupanya.”
Entah untuk alasan apa Bila terharu
mendengarnya. Lama ia menatap Sang Ayah hingga tanpa sadar air mata Bila turun
dari matanya. Sang Ayah tersentak melihat Putrinya menangis.lalu mendekap gadis
itu ke dalam pelukannya.
“Kenapa menangis, hmm?”
“Tidak,” Bila menggeleng pelan.
“Meskipun Bila sudah dewasa, Bila tetap anak Papa, kan? Papa tetap sayang sama
Bila, kan?”
Air mata gadis itu terus mengalir.
Hingga gadis itu terisak pelan dan akhirnya menangis. Sementara Sang Ayah? Pria
paruh baya itu merangkul bahu Putrinya dan membiarkannya menangis.
“Bibi kan satu-satunya anak Papa.
Sampai kapanpun Bibi tetap jadi anak Papa. Sampai Papa tua nanti, sampai Papa
bisa menimang cucu Papa nanti. Papa tetap sayang sama Bibi.”
Bukannya mereda, tangisan Bila
justru semakin kuat. Membuat Sang Ayah dengan sabar mengusap bahunya yang
bergetar hebat.
Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu patuhi perintahmu jauhkan
godaan
Yang
mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa jangan sampai akhlakku
terbelenggu jatuh dan terinjak
Acara telah berlangsung meriah.
Semua orang terlihat begitu cerah. Tapi hal itu tak berlaku untuk Bila. Gadis
berkebaya cokelat pudar itu terus saja menatap ke samping. Ke tempat di mana
Sang Ayah duduk tenang di sana.
Sejak tadi pagi ia menangis. Bila
sama sekali tidak bisa merasa tenang. Entah hatinya, ebtah pikirannya, Bila
terus saja gelisah. Hingga tiba saatnya pada acara inti. Dimana semua siswa
memberikan bunga mawar yang mereka pegang kepada orang tua mereka
masing-masing.
Musik mulai mengalun dan lampu
perlahan meredup. Semua siswa berangsur beranjak dari tempatnya dan menghampiri
keluarga masing-masing. –Hal ini memang agenda rutin kegiatan perpisahan setiap
tahun. Sebagai simbol bahwa akhir penjuangan mereka di bangku SMA tak pernah
lepas dari peran orang tua.-
Perlahan Bila berdiri.
Bejalan dengan langkah lambat.
Seolah setiap langkahnya adalah jalan terjal penuh jurang. Penuh dengan
kehati-hatian. Mata gadis itu tetap lurus menatap sosok pria tua di seberang
sana yang juga tersenyum padanya.
Sedikit demi sedikit, Bila mulai
mengerti...
Kulit pria itu tak lagi mulus, penuh
dengan kerutan di sana-sini. Rambutnya juga tak hitam-lebat lagi. Hanya
menyisakan beberapa helai rambut purih di kepalanya. Badan tegap pria itu yang
dahulu selalu sigap memapah dan menggendongnya ketika ia terjatuh. Kini mulai
membungkuk. Dan Bila sadar, bahwa sekarang adalah waktunya untuk gadis itu yang
memapah Sang Ayah.
Satu lagi,
Hal yang menohok Bila sampai ke ulu
hati dan membuat air matanya terjatuh kembali. Adalah kehadiran pria itu, yang sama
dengan keberadaan dunianya. Senyuman pria itu yang sama dengan nafasnya.
Nasihat pria itu yang sama dengan tujuannya. Dan...
Kasih sayang pria itu yang sama
dengan jantungnya.
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji takkan khianati pintanya
Langkah Bila berhenti tepat di
hadapan Sang Ayah. Wajah tua pria itu semakin jelas dalam jarak pandangnya.
Wajah yang selama ini membuka harinya dan menutup tidurnya.
Ketika kelopak matanya terbuka, pria
itu akan dengan senang hati menyediakan seulas senyum hangat untuknya. Atau
tangan pria itu yang rela tergores pisau demi menghidangkan sepiring nasi untuk
sarapannya. Atau... kaki kuat pria itu yang selalu setia mengntar dan
menjaganya ke sekolah.
Hingga malam hari ketika lelah
hinggap pada diri Bila. Pria itu akan selalu menghiburnya. Dengan berbagai
candaan dan sikap usil khas Sang Ayah. Mengusap lembut rambut Bila hingga ia
tertidur. Dan mengecup dahinya sebagai penangkal mimpi buruk.
Dan terakhir...
Pria itu akan menarik selimut dan
menutupi tubuh Bila sebatas bahu. Berjaga-jaga agar Putrinya tidak menggigil
karena angin malam, atau sekedar menghindari tubuh gadis itu dari gigitan
nyamuk. Segalanya, pria itu lakukan demi menjaga Putri kecilnya.
Bila mengulurkan setangkai bunga
mawarnya.
Hal yang sama sekali tak seimbang
dengan apa yang Ayahnya lakukan selama ini untuknya. Sang Ayah menyambut uluran
Bila dan tersunyum bahagia.
“Selamat, Bibi sudah lulus
sekarang.”
Detik berikutnya Bila melingkarkan
tangannya pada bahu Sang Ayah dan menangis. Terisak dalam pelukan Ayahnya.
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan
ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Bila semakin mengeratkan pelukannya
dan menenggelamkan wajahnya pada bahu Sang Ayah. Tangan Sang Ayah terangkat
mengusap bahu Bila pelan. Mencoba menenangkan isakan Putrinya.
“Bibi...” Bila mencoba meredakan
isakannya, “Bibi sayang Papa.”
“Iya, Papa juga sayang Bibi.”
Perlahan Bila melepaskan pelukannya
dan menatap Sang Ayah dengan mata sembab.
“Pa. Bibi janji,” ucapnya. “Kalu
Bibi besar nanti, Papa akan jadi orang pertama yang Bibi bahagiakan. Kalau
nanti Bibi jadi keliling dunia, Papa adalah orang pertama yang akan Bibi ajak.
Kalau nanti Bibi punya banyak uang, Papa adalah orang pertama yang Bibi belikan
mobil dan rumah yang besar. Dan...”
Bila menatap Sang Ayah dalam-dalam.
“Kalau kalau Bibi punya anak nanti, Papa adalah pria pertama ygn boleh menimang
anak Bibi. Setelah suami Bibi. Jadi Papa harus tetap sehat, ya?”
“Ya, Nak,” Sang Ayah mengangguk
dengan air mata yang mulai mengalir karena terharu. “Papa akan selalu ada buat
Bibi. Kapanpun Bibi butuhkan.”
Dan kini, Bila kembali tertarik pada
dunia nyatanya. Cetakan figur yang ada di tangan gadis itu benar-benar menjadi
simbol kenangannya, bersama Sang Ayah.
Bila menatap cermin di depannya.
Matanya sembab karena menangis ketika mengingat seuntai kenangannya dengan Sang
Ayah. Tiba-tiba pintu terbuka dan di sana seorang pria tua berdiri
menghadapnya.
“Bi,”
Bila cepat-cepat menghapus air
matanya dan menoleh. “Ya, Pa.”
“Tuh, pujaan hati Bibi sudah datang.”
Bila berdiri dan menghampiri Sang
Ayah. Ya... Bila telah melakoni janjinya. Karena malam ini adalah pertama
kalinya Bila mengundang seorang lelaki ke rumahnya.
Terbukti, bahwa janji Bila di masa
lalu akan ia tepati hingga kini. Demi Sang Ayah, untuk Sang Ayah, sumber
kebahagiaannya.
-End-
Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa selesai jugaaa..... fiuhh *elap keringet.
aku terinspirasi dari lagunya gita dan ada band,,, dan waktu lagi dengerin lgu itu tiba-tiba jadi keinget sama Papa. jadilah terlahir cerpen ini... ^^
yang ufah baca, mohon komnenya yaaa... makasih ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar