Miss the memory
Aku
memang tak rupawan seperti seorang bidadari
Aku
juga tak berlinang harta seperti seorang bangsawan
Aku
juga tak seanggun para putri kerajaan
Aku
hanyalah seorang manusia biasa
Yang
mencoba menjalani hidup agar terbiasa
Pagi ini
cukup cerah. Itulah kalimat sederhana yang terlintas dalam bayangan gadis itu.
Matahari yang dengan anggunnya berdiri tegak dan tersenyum pada dunia melalui
sinarnya, seakan–akan melukiskan betapa bahagianya ia masih bisa menemani
kehidupan para makhluk tuhan di bumi. Hembusan angin yang dengan merdunya
menari-nari di udara, menumbuhkan secuil kesejukan. Dedaunan yang dengan
damainya melambai–lambai penuh keindahan, menciptakan sebuah decak kagum bagi
sebagian mata yang memandangnya.
Gadis itu tersenyum kembali. Betapa
inginnya ia menjadi seperti matahari, betapa inginnya ia melayang bebas seperti
angin, betapa inginnya ia merasa damai
seperti dedaunan. Tapi ia sadar itu hanyalah sebuah angan-angan yang bahkan
terlalu mustahil untuk terungkapkan. Karena ia hanyalah manusia biasa yang
mencoba menjalani hidup agar terbiasa.
Gadis itu mulai melangkah. Mencoba
mengiris satu–persatu jarak yang membentang di hadapannya. Seakan–kan
itu adalah sebuah benalu yang harus segera ia singkirkaan. Entahlah… langkahnya
terasa amat sangat berat. Bagaikan ada berton–ton batu yang sedang bergelayut
manis dikedua kakinya. Bukankah itu mudah? Hanya sekedar melangkahkan kaki untuk memperkecil
jarak di hadapannya? Ya… semuanya akan terasa mudah. Mata sipit gadis itu mulai
menatap sendu pada sebuah objek yang tertata apik di depannya. Dengan perlahan ia bersimpuh di hadapan obyek
tersebut dan tersenyum getir.
Seberapapun
aku mencoba melupakanmu
Aku
tak akan bisa melakukannya
Akan
begitu sulit bagiku untuk mengelak apalagi menghindar
Karena
cinta akan terasa indah pada waktunya
Gadis
itu tertunduk lesu. Berusaha menyembunyikan ungkapan rasa yang mendesak keluar
dari kedua mata sipitnya. Menahan berjuta-juta kecamuk hasrat yang seakan–akan
menghimpit paru-parunya. Ingin rasanya ia berteriak meluapkan semua perasaan
yag tertanam didadanya. Tangan gadis itu terulur ke permukaan sebuah gudukan
tanah di hadapannya. Mengusapnya lembut dan kembali tersenyum getir. Perlahan
butiran cair itu mulai meleleh dari matanya.
“Aku
datang,”
Gumamnya lirih, ingin rasanya ia memeluk gudukan tanah tersebut dan
menumpahkan seluruh emosi yang bahkan hampir meledak dalam dirinya. Kenangan
itu mulai berputar dalam otaknya. Mengupas sedikit demi sedikit masa lalu yang
pernah ia cicipi. Wajah itu kembali terlintas dipikirannya. Wajah polos seorang bocah kecil yang baginya sangat menyebalkan.
Kenangan itu kembali berputar, mengingat kejadian konyol yang bahkan membuatnya
kesal setengah mati ketika mengingatnya.
Sore itu masih sama seperti hari–hari sebelumnya. Dengan riangnya
bocah kecil itu berlari-lari di halaman luas di depan rumahnya. Sore itu turun
hujan, seakan langit tengah mengatakan pada jagad raya bahwa langit itu hidup,
dan hujanlah yang membuat langit bagaikan hidup. Rintik demi rintik tetesan
hujan itu mulai menyentuh wajah polosnya. Tanah yang semula masih terlihat
teratur dengan mulusnya, kini mulai basah dan membuat lubang–lubang kecil
tempat air hujan itu tergenang. Bahkan di permukaan tanah itu telah terbentuk
beberapa jejak kaki kecil. Bocah kecil itu kembali tertawa senang ketika
mengetahui bahwa kaki kecilnya telah berhasil membuat ukiran indah di atas
tanah yang tak berdosa itu,
“Kak,
ayo ikut mandi hujan. Liat deh tanahnya jadi bolong–bolong gara–gara kaki adek,
haha …” detik berikutnya bocah kecil itu langsung menarik tangan mungil seorang gadis yang
sedari tadi hanya terduduk tenang di serambi rumahnya. Bocah itu terus menarik
tangan sang gadis sampai ke tengah–tengah halaman. Mencoba berbagi kebahagiaan
yang bocah itu rasakan. Setidaknya ia tidak terlalu egois untuk menikmati
kebahagiaan yang ia rasakan sendiri.
Gadis itu melotot kesal karena kelakuan si bocah. Bukankah tadi ia
masih duduk dengan tenangnya di serambi rumah? Lalu mengapa sekarang tubuhnya tiba–tiba menjadi basah?. Bahkan kakinya terasa
begitu enggan untuk berpijak di atas tanah lapang yang lunak itu. Bibir
tipisnya berhasil meluncurkan berbagai sumpah-serapah karena saking kesalnya.
Tak tahu kah bocah itu jika ia sangat tak
menyukai hujan. Karena baginya hujan
hanyalah penghalangnya. Penghalang bagi matahari yang selalu bersinar, dan membuat dunia
terasa gelap, dan ia bisa pastikan ia tak akan bisa melakukan apapun di luar
rumahnya jika ada hujan. Bukankah itu terdengar menyebalkan?.
Gadis itu lagi–lagi tersenyum getir. Butiran cair yang meleleh dari
matanya semakin deras. Kenangan itu bagaikan sebuah duri yang tertancap dalam
pada hatinya. Bahkan ia masih ingat betul betapa bahagianya wajah polos bocah
itu ketika berada di tengah hujan.
Bocah kecil itu terus saja berlari–lari mengelilingi halaman
rumahnya dengan merentangkan kedua tangan mungilnya. Bibir merahnya tersenyum
senang ketika tetesan air hujan itu mulai membasahi tubuhnya. Perlahan tangan
gadis itu mulai terulur ke depan. Mencoba menyentuh tetesan–tetesan hujan tersebut
dengan telapak tangannya. Kedua sudut bibirnya mulai tertarik ke atas,
membentuk senyuman tipis yang terlihat begitu manis.
“Kak,
ayo main, jangan diam aja.” dengan riangnya bocah kecil itu mulai meraih tangan si gadis dan
mengajaknya berlari bersama kaki mungilnya. Awalnya si gadis begitu enggan
melakukannya, tapi kemudian semua terasa berbeda. Rintik–rintik hujan yang
menyentuh wajahnya bagai memberi sensasi damai dalam hatinya. Tangannya yang
sudah terentang bebas mulai merasakan dinginnya hembusan angin. Kakinya yang
berlari itu mulai merasa nyaman dengan pijakannya yang terasa hangat. Gadis itu…
mulai menyukai hujan.
Mata sipit gadis itu mulai berbinar menatap bocah kecil di hadapannya
yang tengah melompat–lompat senang. Kakinya mulai melangkah ringan mendekati
bocah itu dan mengulurkan tangannya. “Kita suit, yang kalah harus jaga,” ucap gadis itu dengan
riangnya. Sore itu adalah hari terindah bagi si gadis. Berlari–lari mengejar
sang bocah yang tertawa senang. Di tengah hujan deras yang bahkan dulu amat tak
disukainya, tapi kini sangat diimpikannya. Itu semua berkat bocah kecil yang sekarang tengah
berlari–lari di hadapannya. Ya… itu semua berkat adik laki lakinya.
“Hiks…
hiks…” isakan
itupun keluar. Menggambarkan betapa pilunya perasaan gadis itu sekarang.
Sungguh ia baru menyadari betapa ia sangat menyayangi adik laki-lakinya itu.
Senyumnya, wajah polosnya, genggaman hangat tangan mungilnya, kini semua terasa
begitu tabu. Bahkan sekarang hidupnya terasa begitu semu tanpa kehadiran bocah
kecil itu. Ia tahu itu hanyalah sebuah kenangan, seberapapun ia merasa kesal terhadap
bocah itu, satu hal yang akan selalu ia ingat. Karena cinta akan terasa
indah pada waktunya, Dan kelak cinta itulah yang akan membuatnya sadar betapa ia sangat menyayangi
adik laki–lakinya.
Kenagan
tetaplah sebuah kenangan
Dan
kenyataan tetaplah berjalan seperti sebuah kenyataan
Karena pada akhirnya
Kenangan
tak akan pernah menjadi sebuah kenyataan
Tapi
kenyataan akan melukiskan berjuta kenangan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar