Minggu, 14 September 2014

Miss The Memory




Miss the memory

Aku memang tak rupawan seperti seorang bidadari
Aku juga tak berlinang harta seperti seorang bangsawan
Aku juga tak seanggun para putri kerajaan
Aku hanyalah seorang manusia biasa
Yang mencoba menjalani hidup agar terbiasa

            Pagi ini cukup cerah. Itulah kalimat sederhana yang terlintas dalam bayangan gadis itu. Matahari yang dengan anggunnya berdiri tegak dan tersenyum pada dunia melalui sinarnya, seakan–akan melukiskan betapa bahagianya ia masih bisa menemani kehidupan para makhluk tuhan di bumi. Hembusan angin yang dengan merdunya menari-nari di udara, menumbuhkan secuil kesejukan. Dedaunan yang dengan damainya melambai–lambai penuh keindahan, menciptakan sebuah decak kagum bagi sebagian mata yang memandangnya.

            Gadis itu tersenyum kembali. Betapa inginnya ia menjadi seperti matahari, betapa inginnya ia melayang bebas seperti angin,  betapa inginnya ia merasa damai seperti dedaunan. Tapi ia sadar itu hanyalah sebuah angan-angan yang bahkan terlalu mustahil untuk terungkapkan. Karena ia hanyalah manusia biasa yang mencoba menjalani hidup agar terbiasa.

            Gadis itu mulai melangkah. Mencoba mengiris satu–persatu jarak yang membentang di hadapannya. Seakan–kan itu adalah sebuah benalu yang harus segera ia singkirkaan. Entahlah… langkahnya terasa amat sangat berat. Bagaikan ada berton–ton batu yang sedang bergelayut manis dikedua kakinya. Bukankah itu mudah? Hanya sekedar melangkahkan kaki untuk memperkecil jarak di hadapannya? Ya… semuanya akan terasa mudah. Mata sipit gadis itu mulai menatap sendu pada sebuah objek yang tertata apik di depannya. Dengan perlahan ia bersimpuh di hadapan obyek tersebut dan tersenyum getir.

Seberapapun aku mencoba melupakanmu
Aku tak akan bisa melakukannya
Akan begitu sulit bagiku untuk mengelak apalagi menghindar
Karena cinta akan terasa indah pada waktunya

            Gadis itu tertunduk lesu. Berusaha menyembunyikan ungkapan rasa yang mendesak keluar dari kedua mata sipitnya. Menahan berjuta-juta kecamuk hasrat yang seakan–akan menghimpit paru-parunya. Ingin rasanya ia berteriak meluapkan semua perasaan yag tertanam didadanya. Tangan gadis itu terulur ke permukaan sebuah gudukan tanah di hadapannya. Mengusapnya lembut dan kembali tersenyum getir. Perlahan butiran cair itu mulai meleleh dari matanya.

Aku datang,

Gumamnya lirih, ingin rasanya ia memeluk gudukan tanah tersebut dan menumpahkan seluruh emosi yang bahkan hampir meledak dalam dirinya. Kenangan itu mulai berputar dalam otaknya. Mengupas sedikit demi sedikit masa lalu yang pernah ia cicipi. Wajah itu kembali terlintas dipikirannya. Wajah polos seorang bocah kecil yang baginya sangat menyebalkan. Kenangan itu kembali berputar, mengingat kejadian konyol yang bahkan membuatnya kesal setengah mati ketika mengingatnya.

Sore itu masih sama seperti hari–hari sebelumnya. Dengan riangnya bocah kecil itu berlari-lari di halaman luas di depan rumahnya. Sore itu turun hujan, seakan langit tengah mengatakan pada jagad raya bahwa langit itu hidup, dan hujanlah yang membuat langit bagaikan hidup. Rintik demi rintik tetesan hujan itu mulai menyentuh wajah polosnya. Tanah yang semula masih terlihat teratur dengan mulusnya, kini mulai basah dan membuat lubang–lubang kecil tempat air hujan itu tergenang. Bahkan di permukaan tanah itu telah terbentuk beberapa jejak kaki kecil. Bocah kecil itu kembali tertawa senang ketika mengetahui bahwa kaki kecilnya telah berhasil membuat ukiran indah di atas tanah yang tak berdosa itu,

Kak, ayo ikut mandi hujan. Liat deh tanahnya jadi bolong–bolong gara–gara kaki adek, haha …” detik berikutnya bocah kecil itu langsung menarik tangan mungil seorang gadis yang sedari tadi hanya terduduk tenang di serambi rumahnya. Bocah itu terus menarik tangan sang gadis sampai ke tengah–tengah halaman. Mencoba berbagi kebahagiaan yang bocah itu rasakan. Setidaknya ia tidak terlalu egois untuk menikmati kebahagiaan yang ia rasakan sendiri. 

Gadis itu melotot kesal karena kelakuan si bocah. Bukankah tadi ia masih duduk dengan tenangnya di serambi rumah? Lalu mengapa sekarang tubuhnya tiba–tiba menjadi basah?. Bahkan kakinya terasa begitu enggan untuk berpijak di atas tanah lapang yang lunak itu. Bibir tipisnya berhasil meluncurkan berbagai sumpah-serapah karena saking kesalnya. Tak tahu kah bocah itu jika ia sangat tak menyukai hujan. Karena baginya hujan hanyalah penghalangnya. Penghalang bagi matahari yang selalu bersinar, dan membuat dunia terasa gelap, dan ia bisa pastikan ia tak akan bisa melakukan apapun di luar rumahnya jika ada hujan. Bukankah itu terdengar menyebalkan?.

Gadis itu lagi–lagi tersenyum getir. Butiran cair yang meleleh dari matanya semakin deras. Kenangan itu bagaikan sebuah duri yang tertancap dalam pada hatinya. Bahkan ia masih ingat betul betapa bahagianya wajah polos bocah itu ketika berada di tengah hujan.

Bocah kecil itu terus saja berlari–lari mengelilingi halaman rumahnya dengan merentangkan kedua tangan mungilnya. Bibir merahnya tersenyum senang ketika tetesan air hujan itu mulai membasahi tubuhnya. Perlahan tangan gadis itu mulai terulur ke depan. Mencoba menyentuh tetesan–tetesan hujan tersebut dengan telapak tangannya. Kedua sudut bibirnya mulai tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis yang terlihat begitu manis.

Kak, ayo main, jangan diam aja.dengan riangnya bocah kecil itu mulai meraih tangan si gadis dan mengajaknya berlari bersama kaki mungilnya. Awalnya si gadis begitu enggan melakukannya, tapi kemudian semua terasa berbeda. Rintik–rintik hujan yang menyentuh wajahnya bagai memberi sensasi damai dalam hatinya. Tangannya yang sudah terentang bebas mulai merasakan dinginnya hembusan angin. Kakinya yang berlari itu mulai merasa nyaman dengan pijakannya yang terasa hangat. Gadis itu… mulai menyukai hujan.

Mata sipit gadis itu mulai berbinar menatap bocah kecil di hadapannya yang tengah melompat–lompat senang. Kakinya mulai melangkah ringan mendekati bocah itu dan mengulurkan tangannya. “Kita suit, yang kalah harus jaga,ucap gadis itu dengan riangnya. Sore itu adalah hari terindah bagi si gadis. Berlari–lari mengejar sang bocah yang tertawa senang. Di tengah hujan deras yang bahkan dulu amat tak disukainya, tapi kini sangat diimpikannya. Itu semua berkat bocah kecil yang sekarang tengah berlari–lari di hadapannya. Ya… itu semua berkat adik laki lakinya.

Hiks… hiks…” isakan itupun keluar. Menggambarkan betapa pilunya perasaan gadis itu sekarang. Sungguh ia baru menyadari betapa ia sangat menyayangi adik laki-lakinya itu. Senyumnya, wajah polosnya, genggaman hangat tangan mungilnya, kini semua terasa begitu tabu. Bahkan sekarang hidupnya terasa begitu semu tanpa kehadiran bocah kecil itu. Ia tahu itu hanyalah sebuah kenangan, seberapapun ia merasa kesal terhadap bocah itu, satu hal yang akan selalu ia ingat. Karena cinta akan terasa indah pada waktunya, Dan kelak cinta itulah yang akan membuatnya sadar betapa ia sangat menyayangi adik laki–lakinya.

Kenagan tetaplah sebuah kenangan
Dan kenyataan tetaplah berjalan seperti sebuah kenyataan
Karena pada akhirnya
Kenangan tak akan pernah menjadi sebuah kenyataan
Tapi kenyataan akan melukiskan berjuta kenangan

Tidak ada komentar: