Tittle : Meet Again
Cast : Cho Kyu-Hyun
Kim So-Eun
Kim Soo-Hyun
Rating : PG-15/Straight
Author : Zashi
Genre : Romance
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kim So-Eun, gadis itu terus saja
berlarian mengitari sekeliling halaman rumah barunya. Baru hari ini, ia dan
kedua orang tuanya –dan jangan lupakan kakak laki-lakinya-memutuskan untuk
pindah ke daerah Myeong-Dong, dengan alasan bahwa daerah itu lebih dekat dengan
kampusnya dibandingkan dengan rumahnya yang lama.
“Jinja!
Kim So-Eun, apa yang kau lakukan?”
Kim Soo-Hyun, muncul dari balik
tubuh So-Eun lalu menarik tangan gadis itu masuk ke dalam rumah.
“Ish, wae,
oppa? Aku hanya sedang melihat-lihat halaman rumah ini.” So-Eun merengut
sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menyapu cepat sekeliling
interior dalam rumahnya yang kini mulai terhias beberapa prabotan rumah. Lalu detik
berikutnya So-Eun melihat Sang Ibu yang sedang menyusun beberapa peralatan
dapur di sudut ruangan tempat ia berdiri sekarang. dengan cepat kakinya
melangkah, meninggalkan sang Kakak yang hanya bisa mendengus sebal melihat
tingkah kekanakan Adiknya.
“Eomma? Kenapa
Eomma melakukannya sendiri? Kenapa tidak meminta bantuanku?” So-Eun
mengmabil satu buah panci besar lalu meletakkannya di atas lemari yang
tergantung di dinding dapur. Sang Ibu menoleh lalu tersenyum simpul. “Apanya
yang harus dibantu? Eomma hanya sedang merapikan barang-barang ini
saja.”
“Seharusnya kau
menyadarinya dari awal, pendek.” Kim Soo-Hyun menghampiri mereka berdua lalu
duduk di pantry daPur dan meneguk satu gelas air putih. “Kami semua
sibuk menata rumah ini dan kau hanya asik memandangi halaman rumah.” Ucapnya.
So-Eun tak
menjawab. Ia lalu kembali meletakkan beberapa peralatan dapurnya ke dalam
lemari dan menyerngit heran.
“Eomma, kemana
sendok-sendok kita yang lama?”
“Eoh?” Nyonya Kim
menoleh pada putrinya, “Eomma lupa. Semua sendok kita sudah Eomma
buang. Juga ada beberapa yang hilang.”
“Kenapa dibuang?”
“Ada beberapa yang
sudah tak layak pakai lagi, Sso-Ah. Daripada disimpan, jadi Eomma buang
saja.”
So-Eun mengangguk
paham lalu. “Apakah perlu aku membelinya di supermarket di dekat sini?”
“Ya,” Nyonya Kim
mengangguk cepat. Tanpa menunggu lama So-Eun langsung melesat menuju pintu
utama rumahnya. Langkahnya sedikit terhenti ketika melihat Sang Kakak masih
asik meneguk air putih di gelasnya, mungkin pria itu kelelahan setelah membantu
Appa dan yang lainnya menata rumah besar ini.
So-Eun berjalan
mendekati Kakaknya lalu berdiri di sampingnya. “Oppa ingin menitip
sesuatu? Sepertinya lelah sekali,”
Soo-Hyun menoleh, “Tumben sekali kau mau menawariku, biasanya juga
langsung pergi begitu saja.”
“Ish,” So-Eun
memukul bahu Soo-Hyun main-main. “Aku serius, jelek.”
“Baiklah-baiklah,”
Soo-Hyun seperti berpikir sejenak. “Belikan aku minuman dingin saja, sepertinya
itu akan mengembalikan staminaku.”
Setelah
mengangguk, So-Eun kembali melangkah menuju supermarket yang bahkan ia juga tak
tahu ada dimana. Dia kan baru di daerah sini.
_o0o_
Kyu-Hyun melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari supermarket yang
hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Matanya kembali memeriksa kantung
yang ia pegang memastikan barang belanjaannya tidak ada yang tertinggal atau
terlupakan. Kyu-Hyun sudah terbiasa dengan hal ini. berbelanja dan memenuhi
kebutuhannya sendiri. Hal yang sudah harus ia lakukan semenjak memutuskan untuk
tinggal sendiri di rumahnya sejak dua tahun yang lalu.
“Permisi,”
Kyu-Hyun mendongakkan kepalanya. Lalu metanya menatap seorang gadis yang
berdiri di depannya dengan malas. Ia harus cepat-cepat kembali ke rumah.
Perutnya sudah meronta-ronta ingin diisi.
Gadis itu melirik
kantung belanjaanya lalu kembali menatap wajah Kyu-Hyun. “Kau tahu dimana letak
supermarket di dekat sini?”
“Di sana,”
Kyu-Hyun menunjukkan letak supermarket yang tadi baru saja ia datangi. Lalu
menatap gadis itu penuh tanya. Sepertinya orang baru. Karena selama dua tahun
Kyu-Hyun hidup di daerah ini, tak ada satu orang gadispun yang memiliki wajah
seperti gadis yang sekarang berdiri di depannya.
Gadis itu lalu
membungkuk hormat lalu menggumamkan terima kasih sebelum ia berlalu dari
hadapan Kyu-Hyun.
Kyu-Hyun berbalik
dan menatap kepergian gadis itu. Sepertinya ia pernah melihat wajah itu. wajah
yang begitu terlihat damai ketika tersenyum tadi. tapi entah itu dimana. Dan
detik berikutnya Kyu-Hyun ikut menarik sudut bibirnya ke atas membentuk
senyuman.
“Gadis itu manis juga.”
Drrrtt... drrrtttt....
Kyu-Hyun
sontak meraih ponselnya di saku celana lalu menempelkan benda canggih itu
ketelinganya.
“Ya,
ada apa?”
“Jinjayo?
Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Arasseo,
tentu saja aku akan datang.”
“Mmm,
tunggu aku. Dan pastikan sediakan makanan yang lezat, ok?” Kyu-Hyun tertawa
pelan setelahnya lalu meletakkan kembali ponselnya ke dalam saju
celananya.
_o0o_
“Gadis itu, apa sih yang
dilakukannya di sepermarket? Kenapa lama sekali.”
Soo-Hyun
mendengus sebal lalu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyandarkan
tubuh tegapnya pada diding rumah. Ia sedang menunggu So-Eun di teras rumah
semenjak sepuluh menit yang lalu. Tapi gadis cerewet otu belum juga datang.
Gerbang
rumah perlahan bergeser dan menampilkan Kim So-Eun di baliknya. Gadis itu
membawa dua kantung belanjaan besar di tangannya lalu dengan terseok-seok
berjalan menuju teras.
“Jinja,
Oppa! Tidak bisakah kau sedikit berbaik hati untuk membantu adikmu yang lucu
ini?”
Soo-Hyun
tertawa renyah, “Lucu kepalamu!”
Ya,
gadis itu memang rencananya hanya ingin membeli sendok di supermarket. Tapi
setelah ia mendapat telepon dari Sang Kakak untuk membeli beberapa bahan
makanan, ia harus rela berjalan kembali menuju salah satu pasar tradisional di
sana. Dan pulang dengan dua kantung belanjaan penuh seperti ini.
“Memang
siapa yang mau datang? Apa Oppa mengundang seorang wanita sampai harus
ada acara makan malam segala?”
Soo-Hyun
meraih kantung belanjaan yang So-Eun bawa lalu nerjalan masuk ke dalam rumah
diikuti oleh gadis itu. “Hanya seorang teman. Namja.”
So-Eun
lalu duduk di pantry dapur karena Sang Kakak mulai menyusun bahan-bahan
makanan ke dalam kulkas. So-Eun meraih botol minuman di atas meja lalu
menuangkannya ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis. Cuaca di luar
benar-benar ekstrim.
“Oh
ya,” Soo-Hyun menginterupsi kegiatan So-Eun. “Jangan berpikir untuk tertarik
padanya. Gadis pendek sepertimu sama sekali tidak pantas jika disandingkan
dengan pria genius sepertinya.”
So-Eun
tersedak mendengarnya, lalu siap membuka mulutnya untuk menyemburkan segala
bentuk macam protes atas perkataan Soo-Hyun. Jika saja Nyonya dan Tuan Kim
tidak muncul dari lantai dua lalu duduk bersama mereka.
“Temanmu
itu jadi datang?” tanya Tuan Kim.
“Ya,
tentu saja. Ia pasti datang. bahkan rumahnya tepat berseberangan dengan rumah
kita.”
Tuan
Kim mengangguk paham lalu menatap Putriya aneh. “Kau kenapa Sso-Ah?”
So-Eun
menoleh pada Ayahnya lalu kembali menatap Soo-Hyun kesal. “Aku baru saja
mendengar seseorang menghinaku seenaknya, Appa.”
Nyonya
Kim ikut menyerngitkan dahinya heran, “Menghinamu? Siapa?”
“Orang
paling jelek dan meyebalkan yang pernah ada di rumah ini.” jawab So-Eun
lantang.
Serentak
Nyonya dan Tuan Kim menoleh pada putra sulung mereka. Lalu Nyonya Kim menghela
nafasnya sejenak. “Astaga Soo-Hyun, berhenti menggoda adikmu! Kau ini,”
“Siapa
yang menggodanya? Aku berkata sesuai kenyataan.”
“Oppa!”
_o0o_
Malam sudah tiba dan entah mengapa So-Eun benar-benar gugup kali ini.
padahal ini bukan pertama kalinya keluarga mereka mengundang seseorang untuk
makan malam di rumah. Soo-Hyun dan Appa-nya yang sama-sama bergelut di
dunia bisnis membuat mereka mau atau tidak mau harus sering kedatangan tamu
seorang kolega atau mitra bisnis keluarganya.
So-Eun ikut
membantu Nyonya kim untuk menyiapkan makanan ke meja makan. Sepertinya sebentar
lagi tamu mereka akan segera datang.
Detik berikutnya
terdengar suara seorang laki-laki di ambang pintu utama. So-Eun seperti
mengenalnya. Gadis itu sama sekali takut untuk menoleh dan melihat siapa yang
datang. Ia hanya meremas kedua ujung dressnya dan berdiri di samping
meja makan.
“Eomma, kenalkan,
ini temanku, Kyu-Hyun.”
So-Eun sontak
mendongak cepat dan menatap pria tinggi yang berdiri tepat di samping Soo-Hyun.
Astaga... mulut So-Eun hampir saja menganga ketika mengetahui bahwa pria itu
adalah Kyu-Hyun, dan, dan.. matilah kau So-Eun! Pria itu yang tadi siang
bertemu denganmu kan? Pria itu benar-beanr berubah...
So-Eun bahkasn
sampai tidak bisa menyadarinya.
“Hay, Sso-Ah.”
Kali ini Kyu-Hyun beralih pada So-Eun dan melemparkan senyuman tipisnya pada
gadis itu. senyum yang begitu menyebalkan di mata So-Eun. Senyum yang
membuatnya kembali teringat tentang kelakuan Kyu-Hyun padanya dulu.
Dulu, Kyu-Hyun dan
So-Eun pernah bertetangga hingga So-Eun memutuskan untuk pindah karena Sang
Ayah yang juga dipindah tugaskan keluar kota. Saat mereka sama-sama berusia
sepuluh tahun. Kyu-Hyun suka sekali mengganggunya. Saat So-Eun sedang bermain
boneka panda kesukaannya misalnya, Kyu-Hyun pernah mengusilinya dan melemparkan
boneka panda itu ke tong smapah hingga So-Eun menangis. Akhirnya pria
menyebalkan itu hanya tertawa girang setelah So-Eun mendapatkan kembali
bonekanya yang sudah bau sampah dengan wajah merengut dan wajah yang penuh
cairan di sana-sini. –entah itu cairan air mata atau cairan hidungnya karena ia
menangis-
Dan sekarang ia
kembali bertemu dengan pria menyebalkan itu?
“Kenapa melamun,
Sso-Ah? Kau tidak ingat dengannya? Dia dulu tetangga kita.” Nyonya Kim
menyadarkan So-Eun kembali.
“Y-ya,” jawab
So-Eun terbata. “Tentu saja aku ingat.”
Tak berapa lama
Tuan Kim turun dari lantai dua lalu mereka semua memulai santapan malam mereka
di meja makan.
“Ah, Ajhumma jadi
penasaran. Bagaimana kabarmu Kyu? Pasti kau sudah bekerja.” Nyonya Kim memulai
pembicaraan.
“Ya, aku
memulainya dengan menjadi manajer di salah satu perusahaan bidang properti.”
“Bagaimana dengan
kuliahmu?”
“Baik, tahun
kemarin aku sudah menyelesaikan master-ku di Jerman.”
“Wah, kau memang
tumbuh menjadi anak yang sukses, Kyu.” Komentar Nyonya Kim.
“Tentu saja, tidak
seperti si pendek. Kuliahnya tidak pernah selesai.” So-Eun menoleh cepat pada
Kakaknya.
“Siapa yang kau bilang pendek, huh?”
“Siapa lagi, tentu
saja kau.”
So-Eun hampir saja
melemparkan sendoknya pada Soo-Hyun jika tidak ditahan oleh Nyonya Kim. “Kalian
ini, di sini ada Kyu-Hyun. Sopan sedikit.”
So-Eun kembali
membetulkan posisi duduknya. Berbeda dengan Soo-Hyun yang hanya terkekeh pelan.
Sementara Kyu-Hyun?
Pria itu sama sekali tak bisa fokus pada makanannya. Padahal ia yakin sekali
bahwa semua menu yang ada di maja makan adalah makanan favoritnya. Tapi ia tak
melirik makanan itu sedikitpun. Kyu-Hyun terus saja memperhatikan wajah Kim
So-Eun. Ya, wajah yang beberapa tahun lalu selalu dipenuhi oleh ingus dan air
mata ketika ia menjahili gadis itu, sekarang sudah secantik ini?
Kulitnya putih dan
halus. Juga suaranya yang lembut tidak cempreng seperti dulu. Kyu-Hyun hampir
saja tak mempercayai bahwa gadis itu adalah Kim So-Eun, adik teman lamanya.
_o0o_
“Dasar jelek, kalau saja aku sedang tidak terburu-buru. Aku pasti
sudah mencincang-cincang tubuh kurusnya itu!”
So-Eun terus
meruntuk kesal di sepanjang jalan menuju kampusya. Hanya beberapa meter lagi
hingga So-Eun memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tadi pagi ia berniat meminta
–atau lebih tepatnya memaksa- Soo-Hyun untuk mengantarkannya ke kampus. Tapi
pria itu malah beralasan bahwa ia masih sangat sibuk dan tidak sempat
mengantarnya. Jadilah So-Eun harus berlati-lari sepanjang jalan, berharap ia
akan tepat waktu.
“Astaga!” So-Eun
terlonjak dan membulatkan matanya sempurna ketika Kyu-Hyun tiba-tiba saja sudah
berdiri di depannya.
“K-kau? Kenapa ada
di sini?”
“Memangnya
kenapa?”
Kyu-Hyun
memasukkan tangannya ke dalam saku celanya. “Aku hanya ingin melihatmu saja.”
“Yang beanr saja!”
So-Eun mencibir malas. Membuat Kyu-Hyun
gemas saja.
“Minggir! Aku
sudah hampir telat,”
“Yang telat kan
dirmu, kenapa harus aku yang minggir?”
Omo! Soeun
benar-benar naik pitam kali ini. “Karena kau menghalangi jalanku, Tuan Cho!”
Kyu-Hyun menarik
satu sudut bibirnya, “Kau masih ingat namaku ternyata,”
“Tentu saja, aku tidak akan melupakan orang yang sudah mengusiliku
hingga ke ubun-ubun.” Jawab So-Eun cepat lalu dengan paksa mendorong bahu
Kyu-Hyun agar ia bisa sesegera mungkin sampai di kampusnya.
Baru dua langkah
So-Eun sudah terhenti karena Kyu-Hyun tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Prai
itu menyandarkan dagunya di bahu kecil So-Eun. “Bogoshippo,”
So-Eun terpaku,
sama sekali tidak bisa mencerna apapun. Tiba-tiba saja jantungnya bedetak dua
kali lebih cepat mendengar suara Kyu-Hyun yang lemah dan berat.
“Kau tahu seberapa
kacaunya aku saat tahu kau pindah dan tidak bisa melihatmu lagi?” Kyu-Hyun
mengeratkan pelukannya.
“M-memangnya
kenapa? Kenapa kau jadi kacau?” Soeun meruntuki kebodohannya kuat-kuat.
Bagaimana mungkin malah kalimat itu yang ia ucapkan? Bodoh, bodoh!
“Tentu saja karena
tidak ada lagi yang bisa aku usili.”
Kyu-Hyun
tersaenyum senang di balik bahu So-Eun. Ia tahu gadis itu pasti sedang meruntuk
sekarang. Hal yang selalu Kyu-Hyun sukai dari gadis itu.
“Kau kan bisa cari
gadis lain yang bisa kau usili.”
“Tapi tidak ada
ygn sepertimu.”
So-Eun kembali
terdiam. ia seperti menemukan makna lain dalam ucapan Kyu-Hyun barusan. O-oh,
berhenti berpikiran aneh-aneh, So-Eun. Lepaskan pelukan pria itu dan..
“Astaga! Aku
telat!” So-Eun sontak melepaskan pelukan Kyu-Hyun lalu menghadap prai itu.
“Kyu, bagaimanapun juga aku senang bisa bertemu denganmu lagi.” So-Eun
menundukkan kepalany hormat lalu tersenyum tipis. “Sampai ketemu lagi,”
Melihat kepergian
So-Eun yang semakin menghilang dari pandangannya. Kyu-Hyun hampir saja menarik
tangan gadis itu agar tetap di sampingnya. Sungguh, ia masih tidak rela melihat
gadis itu pergi lagi darinya.
Ia seperti
mengidap suatu trauma karena sempat kehilangan gadis itu.
Tapi Kyu-Hyun
masih mencoba tersenyum. paling tidak kali ini hal itu tak akan ia biarkan
terjadi. Karena So-Eun sudah ada tepat di samping rumahnya. Dan secepat mungkin
ia akan menarik gadis itu untuk tinggal di rumahnya, bersamanya. Bersama
anak-anak mereka kelak.
-End-
JENG JEEEENGGGGGGG
inilah ff pertamaku.. maaf kalau abstrakk yaaa
mohon komen ^^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar