Losing Control
You completely disarmed all of me
I think I’m losing control There’s no way something this sweet can be bad for me
I want to love you
I think I’m losing control There’s no way something this sweet can be bad for me
I want to love you
“Jay,” Yura berlari-lari kecil menghampiri Jay yang
terus berjalan di koridor. Susana sekolah yang cukup ramai –karena memang
sedang jam istirahat- membuat suara Yura tenggelam di antara suara-suara para
siswa SMA Bangga Nusa. Kakinya yang kecil juga membuat Yura kehilangan jejak
pria itu.
“Pria
itu, apa sih yang ia makan, kenapa jalannya cepat sekali?”
“Apa
yang kau pikirkan, Yu?”
“Astaga!”
Yura terkesiap “Kau lagi, suka sekali menggangguku.”
“Oh,
kau merasa terganggu rupanya.”
“Tentu
saja, kau baru pindah ke sekolah ini seminggu yang lalu. Jangan sok akrab
denganku, Enva.”
“Woah,
kau galak sekali untuk ukuran seorang wanita. Pantas saja Jay tak pernah
melirikmu. Mana ada pria yang menyukai pria galak sepertimu.”
“Enak
saja!” Yura memukul bahu pria bernama Enva itu keras-keras. “Jangan sembarangan
kalau bicara.”
“Aku
serius. Aku juga seorang pria, jadi aku tahu bagaimana selera seorang
pria.”
“Tch,
aku sangat-sangat meragukan nalurimu sebagai seorang pria.”
“Apa?
Kau ingin aku membuktikannya?”
“Tidak
perlu repot-repot. Karena aku juga tidak akan mempercayainya.” Setelah
mengatakannya Yura melenggengkan dengan langkah menyebalkan. Enva hampir
tertawa melihatnya. Yura berjalan di depannya bukan dengan langkah biasa. Kaki
pendeknya ia paksakan melenggang bak seorang model terkenal dengan wajah yang
ia angkat tinggi-tinggi. Hingga akhirnya gadis itu tersandung sesuatu dan
menstabilkan kembali langkah anehnya.
“Gadis
itu,”
_o0o_
“Siapa
sih yang menciptakan rumus super rumit seperti ini? kurang kerjaan sekali,” Yura
mendesah gusar sambil sesekali menggaruk belakang kepalanya karena merasa
pusing, ah bukan, bahkan dia hampir mual karena harus mengerjakan tugas fisika
yang di luar batas kemampuannya –setidaknya itu menurutnya-
Mata
lebarnya melirik sebal pada gerombolan siswa di kelasnya yang begitu ribut di
sudut kelas. Apalagi kalau bukan karena si pria menyebalkan bernama Enva itu.
satu-satunya pria yang menurut Yura sangatlah menyebalkan.
“Bagaimana
dengan yang ini?”
“Aku
masih belum paham, En, bisa ajari aku lagi?”
“En,
bagaimana dengan nomor sepuluh?”
Kalimat
itu begitu bising ditelinga Yura. Sejak seminggu yang lalu Enva pindah ke sekolahnya. –ke kelasnya- suasana kelas selalu berisik seperti ini. Karena
kemampuan pria itu di bidang pengolahan angka, membuatnya menjadi idola baru di
kelas mereka.
“Kertas
jawabanmu masiih kosong. Kau tidak mau belajar dari Enva?”
“Tidak,”
Yura menjawab cepat. Walau dalam hati ia juga ingin karena bagaimanapun caranya
ia memahami soal matematika itu, ia tidak akan paham, sama sekali. “Lalu
bagaimana? Kau ingin tugasmu tetap kosong seperti itu?” Zaza yang duduk di
samping Yura melirik buku yang ada di depan Yura lalu mendesah prihatin.
“Ayolah,
dia sama sekali tidak menyebalkan seperi perkiraanmu.”
Yura
menoleh dan menarik bukunya lalu berdiri dari kursinya. “Baik kalau begitu.”
Zaza
senang setengah mati karena ia kira Yura akan meminta bantuan Enva untuk
menyelesaikan tugasnya. Pasalnya gadis itu selalu saja bermuka masam jika berhubungan
dengan Enva, entah apa alasannya.
Senyum
Zaza hilang begitu saja karena Yura justru berbelok ke arah pintu kelas dan
melewatinya. Ke mana gadis itu pergi pada jam pelajaran seperti ini?
Enva?
Sungguh, dari semua gadis yang sejak tadi mengerubunginya seperti semut, hanya
ada satu gadis yang diharapkannya. Gadis yang mungkin juga akan menghampirinya.
Tapi harapan itu harus ia telan bulat-bulat karena gadis itu justru lebih
memilih untuk keluar dari kelas.
Sejenak
ia melupakan semua orang yang masih memanggil namanya dan terpaku pada ambang
pintu kelas. Matanya tak pernah lepas, satu detikpun. Seperti jika saja tatapan
itu memiliki nyawa, ia akan bisa menyeret Yura kembali ke kelas mereka dan
menarik gadis itu untuk duduk di sampingnya.
“Enva?”
Enva terkesiap dan melirik Rose yang melambaikan tangan di depan wajahnya. “Apa
yang kau pikirkan? Kenapa melamun?”
“Tidak,”
Enva tersenyum aneh dan kembali melirik buku tugas yang Rose pegang. “Kau masih
belum mengerti?”
“Ya,
bisa ajarkan aku lagi,”
Enva
menghela nafasnya sejenak lalu menegakkan posisinya. “Kita ulang dari awal.”
_o0o_
Are you a human? How can you be so beautiful?
Look at that face that is smiling at me
Look at that face that is smiling at me
Yura
melangkahkan kakinya menuju koridor tepat di seberang kelasnya. Langkahnya ia
pelankan seperti mengendap-endap ketika ia melewati ruang guru. Tampak begitu
ramai sepertinya. Samar-samar ia mendengar suara para guru yang sedang tertawa
membicarakan sesuatu. Oh, ayolah, niatnya keluar dari kelas hanya untuk
menyegarkan pikiran dari soal matematika dan juga pria menyebalkan itu. tapi ia
justru berujung di depan ruang guru seperti ini. Sepertinya Tuhan sama sekali
tidak mendukung niatnya.
“Yu,”
Yura
berjengit saking terkejutnya. Tubuhnya seketika menegap dengan tangan yang
terjulur mantap di sisi tubuhnya. Seperti posisi sempurna saat upacara bendera
di hari senin.
“Kau
sedang apa di sini?”
Yura
menoleh cepat. “Kau,” desisnya, “Kenapa kau ada di mana-mana? Kau ingin membuat
jantungku copot?”
Enva
yang masih berdiri beberapa langkah di depan Yura hanya terkekeh geli lalu
mendekati gadis itu. “Kenapa kau keluar dari kelas? Kau tidak tahu aturan
sekolah ini? padahal kau lebih lama berada di sekolah ini daripada aku.”
Tanpa
menjawab Yura melangkah meninggalkan Enva.
“Hey,” Enva
tidak perlu berlari-lari untuk mengejar gadis itu. karena langkah Yura bahkan
hanya setengah dari langkahnya. “Yura, tunggu.”
Langkah Yura
berhenti begitu saja dan berbalik “Apa?”
“Kemari,”
Enva meraih tangan Yura dan menarik gadis itu menuju taman di belakang sekolah.
Mereka lalu duduk di bangku panjang di bawah pohon di sudut taman.
“Kau mau apa
membawaku ke sini?”
Enva menarik
buku yang dibawa Yura lalu membukanya. “Kalau kau tidak bisa mengerjakannya,
kenapa tidak bertanya padaku? Apa gengsimu itu melebihi tembok Cina, hmm?”
Yura enggan
menjawab dan hanya memalingkan wajah. Walau ia sadar bahwa pipinya pasti sudah
memerah karena tertangkap basah oleh Enva. Tapi tetap saja Yura memasangkan
tampang sebal andalannya. Apalagi kalau bukan untuk menutupi gengsinya.
“Kau tidak
mau ku ajari?”
“Kau tidak
perlu repot-repot.”
“Siapa
bilang aku kereportan. Kau tahu? Jarang sekali aku menawari bantuan seperti
ini, biasanya orang-orang yang meminta bantuanku.”
“Ish,
sombong sekali.”
Yura
berbalik dan hendak menarik bukunya walau Enva memiliki reflek yang lebih
bagus.
“Yu,”
ucapnya lembut. “Aku..”
“Tunggu,”
Yura memotong cepat. “Yu? Darimana kau dapat panggilan seperti itu?”
“Kenapa?” Enva
menatap Yura jahil. “Itu panggilan sayangku untukmu. jadi tidak ada orang lain
yang boleh memanggilmu denga panggilan seperi itu.”
Entah untuk
alasan apa wajah Yura kembali memanas lalu ia menunduk dalam. Membuat Enva yang
memperhatikannya menahan senyum setengah mati. “Kenapa pipimu merah seperti
itu?” ucapnya usil.
“Tidak,”
Yura semakin menundukkan kepalanya dengan tangan yang memegangi kedua sisi
pipinya. Berharap rona merah itu bisa hilang saat itu juga. Enva hampir saja
meledakkan tawanya kalau saja ia tidak menahannya dengan tangannya. Mendengar
ucapan Yura yang terdengar begitu lucu dengan nada malu-malu membuat Enva harus
menahan mati-matian tangannya agar tidak mencubit kedua pipi gadis itu.
“Tidak
bagaimana? Jelas-jelas...”
“Berhenti
menggodaku!” dan akhirnya Enva melepas tawanya.
Yura hanya
merengut sebal sambil sesekali mengerjapkan matanya melihat tawa Enva yang
sedikit membuatnya terpaku. Tawa pria itu yang membuat wajah orientalnya
semakin tampan dan mempesona, juga suara tawanya yang membuat Yura sedikit
merasa... terkesima?
Oh-oh,
berhenti berpikiran yang bukan-bukan Yura! Ingat dia adalah pria yang
menyebalkan. Ya, pria yang menyebalkan dengan tampang yang mempesona. Ish,
hentikan omong kosongmu, Yura!
Pria itu
perlahan meredakan tawanya dan kembali fokus pada buku tugas Yura. Sesekali
tangannya menunjuk beberapa angka sebagai langkah untuk mengerjakan soal lalu
menjelaskannya pelan-pelan. Segitu mahirnya ia? Hingga membuat Yura hilang
fokus, bukan, hanya saja fokusnya sedikit tergeser karena suguhan wajah menawan
Enva yang entah dari sudut mana mampu mempesonanya.
Bibir Enva
terus saja bergerak. Dari terseyum sampai menggeram gemas karena Yura yang
terus saja menggeleng tidah paham. Hingga kegiatan mereka terhenti begitu saja
karena seseorang yang entah sejak kapan ada di depan mereka lalu menarik tangan
Yura secepat kilat.
“Oh? Jay.”
“Apa? Kau
masih bisa bermesraan dengannya?”
Yura
tergagap, “A-apa, tentu saja tidak, aku hanya-hanya..”
“Kami hanya
sedang bersenang-senang.” Enva berdiri cepat dan langsung menarik tangan Yura
hingga gadis itu berdiri tepat di sampingnya.
“Ku kira kau
tidak akan keberatan, kan?”
“Cih,” Jay
tersenyum masam lalu menatap tautan tangan Yura dan juga Enva. “Dan ku kira
tipe gadis pujaanmu bukan yang seperti dia.”
Dia? Yura berpaling cepat dan menatap Jay
penuh tanya. Setelah kalimat Jay yang terdengar begitu menyindir kehadirannya.
Genggaman tangan Enva pada tangannya semakin erat, sebagai simbol bahwa emosinya
sedang tersulut saat ini.
“Kau tidak
suka? Jangan bersikap seolah-olah kau memperdulikanya, Jay.”
“Yah...” Jay
pura-pura mendesah pasrah, “Akhirnya aku ketahuan juga.” Katanya. Membuat Enva
semakin menggertak rahangnya dan tersenyum sinis. Sementara Yura, gadis itu
bahkan tak mengerti satu kalimatpun dari semua perbincangan mereka. Ia hanya
bisa tetap memandang keduanya dengan tatapan takut karena aura mengerikan yang
mengelilinginya begitu kuat.
“Kalau
begitu berhenti mengganggunya.”
“Aku sama
sekali tidak mengganggunya, En. Kalau kau bisa menelitinya dengan otak encermu
itu, kau akan tahu bahwa gadis ini yang terus menggangguku.”
Kali ini
tatapan Jay berpaling pada Yura yang terpatung dengan wajah menegang. Tangannya
yang digenggam Enva juga semakin dingin dan berkeringat, kalimat itu.. bagaikan
palu yang memukulnya telak hingga sudut terdalam. Ia terpojok...
“Satu lagi,” Jay menegakkan tubuhnya agar
terlihat lebih mantap lalu menatap keduanya bergantian. “Aku akan mengatakannya
sekarang sebelum semuanya semakin jauh.” Katanya, “Aku meminta dengan
sangat-sangat, jangan pernah menggangguku lagi, kapan atau dimanapun.” Ucapnya
dengan nada lantang.
“Bahkan
hanya untuk berbasa-basi. Dengan kata lain anggap kita tidak pernah kenal. See?”
Oksigennya
lenyap begitu saja. Bahkan anginpun juga tahu kalau saat ini paru-parunya
seperti terjepit hingga membuat nafasnya berhenti beberapa detik. Remasan
tangan Enva kembali menarik Yura dari alam keterkejutannya. Detik berikutnya
hambatan nafas itu terdesak dan naik ke jantungnya hingga terpompa begitu
cepat. Dan memaksa air matanya untuk turun.
Melihat Jay
yang melenggang penuh pesona –yang kini terlihat begitu menjijikkan di mata
Yura- membuat kaki Yura kehilangan keseimbangan hingga tubuh mungil gadis itu
ambruk menyentuh tanah. hampir menyentuh tanah jika Enva tidak dengan sigap
memegang bahunya dan membimbing gadis itu untuk kembali duduk di bangku taman
sekolah.
“En...”
Tanpa pikir
panjang Yura melingkarkan tangannya pada bahu kokoh Enva lalu menangis di sana.
Menumpahkan perasaan dan juga kenangannya. Sebegitu rendahkah dirinya di mata
Jay sampai pria itu mengatakan untuk bersikap tidak mengenalnya? Atau sebegitu
burukkah dirinya sampai Jay mengatakan kalimat sekasar itu?
Mengganggunya?
Yura seperti
ingin sekali meneriaki irisan hatinya yng begitu perih. Tentang sikapnya dulu
yang begitu mengagumi sosok Jay hingga membuatnya rela mengikuti pria itu
kemanapun, dan menyapanya dengan mata berbinar. Benarkah itu semua membuat Jay
risih dan terganggu?
“Aku benci
melihatmu menangisi pria lain.” Enva sama sekali tidak mengangkat tangannya
untuk setidaknya mengusap bahu Yura demi menenangkan tangisan gadis itu. hal
yang selalu dilakukan orang lain jika ada yang menangis dipalukannya.
“Jadi
berhenti menangis,” tapi itu tidak berlaku bagi Enva. Ia tidak mengucapkan
kata-kata lembut yang menenangkan tapi malah mengucapkan tiga kata dengan nada
final. Seperti keputusan para hakim di persidangan yang tidak bisa diganggu
gugat.
Akhirnya
Yura mengangkat kepala. Masih dengan air mata yang memenuhi pelupuk mata
besarnya.
“Aku sedang
bersedih kenapa kau tidak bisa berkata yang lembut sedikit saja,”
_o0o_
Are you really mine? Is this all a dream?
I want to give you my all
I want to give you my all
Yura
terus saja tersenyum senang ketika kakinya melangkah ringan melewati koridor
menuju kelasnya. Hatinya membuncah ketika mengetahui bahwa pria itu sudah duduk
di bangkunya dengan tenang. Siapa lagi kalau bukan Enva? Pria yang akhir-akhir
ini selalu menemani dan menghiburnya ketika tempo lalu ia mendapat pukulan
berat dari pengakuan Jay. Ia semakin mendekati pria itu.
“Pagi,
En.” Matanya berbinar, suaranya lantang, dan bibirny tersenyum. cukup menjadi
bukti bahwa suasana hati Yura sangat baik saat ini.
“Pagi,
Yu, bagimana PR-mu?”
“Setidaknya
sedikit lebih mudah karena kemarin ada seseorang dengan baik hati mau
mengajariku.”
“Wah,
ku kira kau harus memberikan hadiah pada orang itu.”
“Kau
ini,” Yura memukul bahu Enva main-main. “Kalau begitu caranya, aku bisa
bangrut. Kau kan tahu otakku pas-pasan.”
Enva
terkekeh pelan. “Duduklah,” ia menepuk bangku di sebelahnya dan di sambut baik
oleh Yura.
“En,”
“Hmm?
“Enva,”
“Apa?”
“Enva,”
Enva
menoleh cepat. “Apa sih?”
Yura
tertawa dan mecubit kedua pipi Enva. Hal yang membuat jantung pria itu terpacu
begitu cepat.
“Kau
menggemaskan,” Enva masih terlalu sulit menemukan suaranya kembali. “Sejujurnya
aku sangat berterima kasih karena kau tetap mau menemaniku selama ini.”
“Lalu?”
Enva mencoba kembali menstabilkan suaranya.
“Ku
rasa aku menyukaimu.”
Enva
menahan nafasnya sejenak dengan setipis senyum jahil dibibirnya. “Aku tidak
suka dengan gadis yang blak-blakan seperti itu,”
“A-apa?”
Yura kini memutar tubuhnya agar lebih leluasa menatap Enva. “Aku tidak
mengerti.” Ucapnya gugup.
“Kau,
sikapmu, wajar jika Jay menjauhimu. Mana ada pria yang tertarik pada gadis
blak-blakan sepertimu?”
“Kalau
kau tidak suka, ya sudah, tidak usah mendebatku dengan hal yang berbau Jay!”
Yura
berdiri cepat lalu kembali ke bangkunya. Ia sudah bersusah payah sejak semalam.
Tentang semua hal yang begitu mengusik pikirannya, dan mengganggu perasaannya
belakangan ini. Dan itu semua ia yakini karena Enva.
Tapi
respon pria itu benar-benar buruk. Blak-blakan? Terus saja mengejaknya dengan
hal itu! bahkan Enva juga enggan untuk menerima sifat aslinya. Yura mengela
nafasnya dan bahunya melemas begitu saja.
_o0o_
I wasn’t like this
but
I keep getting greedy
Jam demi jam
pelajaran Yura lewati begitu saja. Tanpa ada niat dan gairah. Matanya sesekali
menatap Enva yang duduk beberapa meter di sampingnya. Ia baru menyadari bahwa
pria itu begitu tampan jika dalam sikap tenang seperti itu. juga mata elangnya
yang menatap pasti pada papan tulis. Pikirannya melayang entah kemana sampai
obyek pengamatannya –Enva- tiba-tiba saja berdiri dan izin keluar kelas.
Bola mata
Yura mengikuti langkah Enva hingga hilang di balik pintu kelas. Hatinya
bertanya-tanya, apa yang akan pria itu lakukan di saat jam pelajaran saat ini?
Yura kembali
mencoba fokus pada bukunya, walau jujur hatinya masih terganggu atas pernyataan
Enva tadi pagi.
“Excause
me,”
Radio
sekolah terdengar mengeluarkan suara. Sound sekolah yang biasa digunakan
untuk memberikan informasi kepada para murid. Dan sekarang sound itu
berbunyi tapi Yura seperti familiar dengan suara itu.
“Maaf
mengganggu waktu kalian semua,”
Yura
semakin menajamkan pendengarannya. “Aku seperti mengenalnya.”
“Pertama,
aku minta maaf kepada seorang gadis yang mungkin masih kesal karena sikapku
tadi pagi.” Ucap orang itu yang membuat seisi kelas –atau bahkan seisi sekolah
terdiam karena itu bukanlah hal yang biasa mereka dengar melalui sound-
“Gadis
dengan otak pas-pasan dan sifat yang aneh untuk ukuran seorang gadis.” Orang
itu berhenti sejenak, “Aku tahu kau sedang mendengarkanku sekarang. Ehm, ingat!
Aku hanya akan mengatakannya satu kali, oke? Tidak ada replay atau slow
motion seperti di film-film.”
Yura
terkesiap, sadar atau tidak ia seperti memiliki suatu firasat tentang hal ini.
Matanya menelisik liar pada seisi kelas yang sedang menatapnya dengan... kagum?
Bahkan
guru yang sedang mengajar di depan kelas juga ikut tersenyum sambil
menatapnya. Kenapa? Kenapa semua orang menatapnya seperti itu?
“Yu,
taraf perasaanku bukan hanya suka. Tapi lebih dari sekedar membutuhkan. Jika
saat ini kau hanya akan mengatakan tertarik padaku, maka jangan salahkan aku
jika dikemudian hari aku akan membuatmu lebih dari sekedar tertarik padaku.
Aku...” orang itu berhenti beberapa detik hingga membuat semua orang seperti
menahan nafas menunggu kelanjutannya.
“Kau
milikku,”
Semua
hening. Para guru yang sedang mengajar atau berada diruang guru, juga para
murid yang sedang asik menjalani pelajaran olehraga, bahkan staf sekolah juga
terdiam karena dua kata yang terdengar dari sound sekolah mereka.
Yura
membelalakkan matanya lebar-lebar, otaknya berhenti berputar dan dunianya
menyentak begitu keras hingga sesuatu di balik dadanya berdebar tak beraturan.
Juga sengatan-sengatan aneh yang mengalir di sepanjang saraf tubuhnya membuat
Yura kembali kehilangan oksigennya. Enva...
“Kau dengar, dua kata itu lebih dari sekedar kalimat
‘aku mencintaimu’ jadi jangan pernah cemberut atau protes lagi kalau aku juga
sama dengan orang lain yang mengabaikanmu. Mengerti? Dan ini hadiahku untukmu,
Yu. Hadiah dari seorang Enva untuk Yura.”
Detik
berikutnya suara Enva yang sejak tadi memenuhi seisi sekolah kini berganti
dengan alunan merdu dengan petikan gitar lembut. Enva, pria itu menyanyikan
sebuah lagu untuknya, untuk Yura.
Why is it like this? The feelings get bigger
Why am I like this? A me that I didn’t even know has awakened
Because of your love
Why am I like this? A me that I didn’t even know has awakened
Because of your love
Because of you
Because of you alone
Yes, you awakened me
Because of you alone
Yes, you awakened me
Nada
per-nada begitu indah terlantun ditelinga Yura. Hatinya menghangat karena
mendengar suara Enva yang begitu lembut bernyanyi melalui sound. Yura
yang masih terpaku hanya mengerjapkan mata besarnya berkali-kali. Sampai semua
orang bertepuk tangan dan bersiul melihatnya dengan pipi memerah.
“Apa-apaan
si-En itu. ia bahkan langsung menyatakan ‘kau milikku’ tanpa ada acara
tembak-menembak terlebih dahulu.”
“Enva
keren sekali, pasti butuh nyali besar untuk bisa melakukan ini semua. Apalagi
di dengar oleh seisi sekolah.”
“Kau
benar, beruntung sekali Yura. Huaaa, aku iri.”
Semua
orang berteriak histeris dengan wajah merona. Apalagi Yura, gadis yang mungkin
saja kini menjadi bahan perbincangan seisi sekolah itu hanya bisa menunduk
dalam demi menundukkan wajahnya yang sudah tak tahu seperti apa. Hatinya
membuncah, sungguh, tidak menyangka jika Enva akan bertingkah sejauh ini
untuknya. Pria itu benar-benar gila
rupanya!
Hingga
beberapa saat kemudian Enva muncul dari balik pintu kelas dengan ekspresi datar
namun Yura yakin mata pria itu juga memancarkan hal yang sama dengannya, bahagia.
“Maaf,”
pria itu menundukkan kepalanya sedikit untuk memberikan hormat pada guru yang
sedang mengajar di kelasnya. Beberapa langkah ia maju menuju bangku Yura lalu menatap
gadis itu dengan mata berbinar.
“See?
Now, you’re my girl, Yu!”
Can’t let you go
No matter what kind of days come
Love everything of me
No matter what kind of days come
Love everything of me
This is my new post... pengen banget suatu saat aku bisa kayak Yura -xD-
comenntnya yaaaa tengsyu,.... ^^

1 komentar:
Dari segi alur cerita ini seru tapi penyampaian kata-katanya saat berbicara satu sama lain terlalu to the point sedikit kurang menjiwai jadi krang feel aja menurut aku :) but for EYD this great!
Posting Komentar