Rabu, 03 September 2014

Losing Control




 Losing Control

You completely disarmed all of me
I think I’m losing control                                                                                                   There’s no way something this sweet can be bad for me
I want to love you
        
         “Jay,” Yura berlari-lari kecil menghampiri Jay yang terus berjalan di koridor. Susana sekolah yang cukup ramai –karena memang sedang jam istirahat- membuat suara Yura tenggelam di antara suara-suara para siswa SMA Bangga Nusa. Kakinya yang kecil juga membuat Yura kehilangan jejak pria itu.
            “Pria itu, apa sih yang ia makan, kenapa jalannya cepat sekali?”
            “Apa yang kau pikirkan, Yu?”
            “Astaga!” Yura terkesiap “Kau lagi, suka sekali menggangguku.”
            “Oh, kau merasa terganggu rupanya.”
         “Tentu saja, kau baru pindah ke sekolah ini seminggu yang lalu. Jangan sok akrab denganku, Enva.”
         “Woah, kau galak sekali untuk ukuran seorang wanita. Pantas saja Jay tak pernah melirikmu. Mana ada pria yang menyukai pria galak sepertimu.”
      “Enak saja!” Yura memukul bahu pria bernama Enva itu keras-keras. “Jangan sembarangan kalau bicara.”
            “Aku serius. Aku juga seorang pria, jadi aku tahu bagaimana selera seorang pria.”
            “Tch, aku sangat-sangat meragukan nalurimu sebagai seorang pria.”
            “Apa? Kau ingin aku membuktikannya?”
       “Tidak perlu repot-repot. Karena aku juga tidak akan mempercayainya.” Setelah mengatakannya Yura melenggengkan dengan langkah menyebalkan. Enva hampir tertawa melihatnya. Yura berjalan di depannya bukan dengan langkah biasa. Kaki pendeknya ia paksakan melenggang bak seorang model terkenal dengan wajah yang ia angkat tinggi-tinggi. Hingga akhirnya gadis itu tersandung sesuatu dan menstabilkan kembali langkah anehnya.
            “Gadis itu,”

_o0o_
      
         “Siapa sih yang menciptakan rumus super rumit seperti ini? kurang kerjaan sekali,” Yura mendesah gusar sambil sesekali menggaruk belakang kepalanya karena merasa pusing, ah bukan, bahkan dia hampir mual karena harus mengerjakan tugas fisika yang di luar batas kemampuannya –setidaknya itu menurutnya-
           Mata lebarnya melirik sebal pada gerombolan siswa di kelasnya yang begitu ribut di sudut kelas. Apalagi kalau bukan karena si pria menyebalkan bernama Enva itu. satu-satunya pria yang menurut Yura sangatlah menyebalkan.
            “Bagaimana dengan yang ini?”
            “Aku masih belum paham, En, bisa ajari aku lagi?”
            “En, bagaimana dengan nomor sepuluh?”
            Kalimat itu begitu bising ditelinga Yura. Sejak seminggu yang lalu Enva pindah ke sekolahnya. –ke kelasnya- suasana kelas selalu berisik seperti ini. Karena kemampuan pria itu di bidang pengolahan angka, membuatnya menjadi idola baru di kelas mereka.
           “Kertas jawabanmu masiih kosong. Kau tidak mau belajar dari Enva?”
           “Tidak,” Yura menjawab cepat. Walau dalam hati ia juga ingin karena bagaimanapun caranya ia memahami soal matematika itu, ia tidak akan paham, sama sekali.                                  “Lalu bagaimana? Kau ingin tugasmu tetap kosong seperti itu?” Zaza yang duduk di samping Yura melirik buku yang ada di depan Yura lalu mendesah prihatin.
           “Ayolah, dia sama sekali tidak menyebalkan seperi perkiraanmu.”
           Yura menoleh dan menarik bukunya lalu berdiri dari kursinya. “Baik kalau begitu.”
           Zaza senang setengah mati karena ia kira Yura akan meminta bantuan Enva untuk menyelesaikan tugasnya. Pasalnya gadis itu selalu saja bermuka masam jika berhubungan dengan Enva, entah apa alasannya.
          Senyum Zaza hilang begitu saja karena Yura justru berbelok ke arah pintu kelas dan melewatinya. Ke mana gadis itu pergi pada jam pelajaran seperti ini?
          Enva? Sungguh, dari semua gadis yang sejak tadi mengerubunginya seperti semut, hanya ada satu gadis yang diharapkannya. Gadis yang mungkin juga akan menghampirinya. Tapi harapan itu harus ia telan bulat-bulat karena gadis itu justru lebih memilih untuk keluar dari kelas.
        Sejenak ia melupakan semua orang yang masih memanggil namanya dan terpaku pada ambang pintu kelas. Matanya tak pernah lepas, satu detikpun. Seperti jika saja tatapan itu memiliki nyawa, ia akan bisa menyeret Yura kembali ke kelas mereka dan menarik gadis itu untuk duduk di sampingnya.
       “Enva?” Enva terkesiap dan melirik Rose yang melambaikan tangan di depan wajahnya. “Apa yang kau pikirkan? Kenapa melamun?”
           “Tidak,” Enva tersenyum aneh dan kembali melirik buku tugas yang Rose pegang. “Kau masih belum mengerti?”
           “Ya, bisa ajarkan aku lagi,”
           Enva menghela nafasnya sejenak lalu menegakkan posisinya. “Kita ulang dari awal.”

_o0o_

Are you a human? How can you be so beautiful?
Look at that face that is smiling at me
           
        Yura melangkahkan kakinya menuju koridor tepat di seberang kelasnya. Langkahnya ia pelankan seperti mengendap-endap ketika ia melewati ruang guru. Tampak begitu ramai sepertinya. Samar-samar ia mendengar suara para guru yang sedang tertawa membicarakan sesuatu. Oh, ayolah, niatnya keluar dari kelas hanya untuk menyegarkan pikiran dari soal matematika dan juga pria menyebalkan itu. tapi ia justru berujung di depan ruang guru seperti ini. Sepertinya Tuhan sama sekali tidak mendukung niatnya.
            “Yu,”
            Yura berjengit saking terkejutnya. Tubuhnya seketika menegap dengan tangan yang terjulur mantap di sisi tubuhnya. Seperti posisi sempurna saat upacara bendera di hari senin.
            “Kau sedang apa di sini?”
         Yura menoleh cepat. “Kau,” desisnya, “Kenapa kau ada di mana-mana? Kau ingin membuat jantungku copot?”
          Enva yang masih berdiri beberapa langkah di depan Yura hanya terkekeh geli lalu mendekati gadis itu. “Kenapa kau keluar dari kelas? Kau tidak tahu aturan sekolah ini? padahal kau lebih lama berada di sekolah ini daripada aku.”
            Tanpa menjawab Yura melangkah meninggalkan Enva.
 “Hey,” Enva tidak perlu berlari-lari untuk mengejar gadis itu. karena langkah Yura bahkan hanya setengah dari langkahnya. “Yura, tunggu.”
 Langkah Yura berhenti begitu saja dan berbalik “Apa?”
 “Kemari,” Enva meraih tangan Yura dan menarik gadis itu menuju taman di belakang sekolah. Mereka lalu duduk di bangku panjang di bawah pohon di sudut taman.
 “Kau mau apa membawaku ke sini?”
 Enva menarik buku yang dibawa Yura lalu membukanya. “Kalau kau tidak bisa mengerjakannya, kenapa tidak bertanya padaku? Apa gengsimu itu melebihi tembok Cina, hmm?”
 Yura enggan menjawab dan hanya memalingkan wajah. Walau ia sadar bahwa pipinya pasti sudah memerah karena tertangkap basah oleh Enva. Tapi tetap saja Yura memasangkan tampang sebal andalannya. Apalagi kalau bukan untuk menutupi gengsinya.
 “Kau tidak mau ku ajari?”
 “Kau tidak perlu repot-repot.”
 “Siapa bilang aku kereportan. Kau tahu? Jarang sekali aku menawari bantuan seperti ini, biasanya orang-orang yang meminta bantuanku.”
 “Ish, sombong sekali.”
 Yura berbalik dan hendak menarik bukunya walau Enva memiliki reflek yang lebih bagus.
 “Yu,” ucapnya lembut. “Aku..”
 “Tunggu,” Yura memotong cepat. “Yu? Darimana kau dapat panggilan seperti itu?”
 “Kenapa?” Enva menatap Yura jahil. “Itu panggilan sayangku untukmu. jadi tidak ada orang lain yang boleh memanggilmu denga panggilan seperi itu.”
 Entah untuk alasan apa wajah Yura kembali memanas lalu ia menunduk dalam. Membuat Enva yang memperhatikannya menahan senyum setengah mati. “Kenapa pipimu merah seperti itu?” ucapnya usil.
 “Tidak,” Yura semakin menundukkan kepalanya dengan tangan yang memegangi kedua sisi pipinya. Berharap rona merah itu bisa hilang saat itu juga. Enva hampir saja meledakkan tawanya kalau saja ia tidak menahannya dengan tangannya. Mendengar ucapan Yura yang terdengar begitu lucu dengan nada malu-malu membuat Enva harus menahan mati-matian tangannya agar tidak mencubit kedua pipi gadis itu.
 “Tidak bagaimana? Jelas-jelas...”
 “Berhenti menggodaku!” dan akhirnya Enva melepas tawanya.
Yura hanya merengut sebal sambil sesekali mengerjapkan matanya melihat tawa Enva yang sedikit membuatnya terpaku. Tawa pria itu yang membuat wajah orientalnya semakin tampan dan mempesona, juga suara tawanya yang membuat Yura sedikit merasa... terkesima?
 Oh-oh, berhenti berpikiran yang bukan-bukan Yura! Ingat dia adalah pria yang menyebalkan. Ya, pria yang menyebalkan dengan tampang yang mempesona. Ish, hentikan omong kosongmu, Yura!
 Pria itu perlahan meredakan tawanya dan kembali fokus pada buku tugas Yura. Sesekali tangannya menunjuk beberapa angka sebagai langkah untuk mengerjakan soal lalu menjelaskannya pelan-pelan. Segitu mahirnya ia? Hingga membuat Yura hilang fokus, bukan, hanya saja fokusnya sedikit tergeser karena suguhan wajah menawan Enva yang entah dari sudut mana mampu mempesonanya.
 Bibir Enva terus saja bergerak. Dari terseyum sampai menggeram gemas karena Yura yang terus saja menggeleng tidah paham. Hingga kegiatan mereka terhenti begitu saja karena seseorang yang entah sejak kapan ada di depan mereka lalu menarik tangan Yura secepat kilat.
 “Oh? Jay.”
 “Apa? Kau masih bisa bermesraan dengannya?”
 Yura tergagap, “A-apa, tentu saja tidak, aku hanya-hanya..”
 “Kami hanya sedang bersenang-senang.” Enva berdiri cepat dan langsung menarik tangan Yura hingga gadis itu berdiri tepat di sampingnya.
 “Ku kira kau tidak akan keberatan, kan?”
 “Cih,” Jay tersenyum masam lalu menatap tautan tangan Yura dan juga Enva. “Dan ku kira tipe gadis pujaanmu bukan yang seperti dia.”
 Dia? Yura berpaling cepat dan menatap Jay penuh tanya. Setelah kalimat Jay yang terdengar begitu menyindir kehadirannya. Genggaman tangan Enva pada tangannya semakin erat, sebagai simbol bahwa emosinya sedang tersulut saat ini.
 “Kau tidak suka? Jangan bersikap seolah-olah kau memperdulikanya, Jay.”
 “Yah...” Jay pura-pura mendesah pasrah, “Akhirnya aku ketahuan juga.” Katanya. Membuat Enva semakin menggertak rahangnya dan tersenyum sinis. Sementara Yura, gadis itu bahkan tak mengerti satu kalimatpun dari semua perbincangan mereka. Ia hanya bisa tetap memandang keduanya dengan tatapan takut karena aura mengerikan yang mengelilinginya begitu kuat.
 “Kalau begitu berhenti mengganggunya.”
 “Aku sama sekali tidak mengganggunya, En. Kalau kau bisa menelitinya dengan otak encermu itu, kau akan tahu bahwa gadis ini yang terus menggangguku.”
 Kali ini tatapan Jay berpaling pada Yura yang terpatung dengan wajah menegang. Tangannya yang digenggam Enva juga semakin dingin dan berkeringat, kalimat itu.. bagaikan palu yang memukulnya telak hingga sudut terdalam. Ia terpojok...
“Satu lagi,” Jay menegakkan tubuhnya agar terlihat lebih mantap lalu menatap keduanya bergantian. “Aku akan mengatakannya sekarang sebelum semuanya semakin jauh.” Katanya, “Aku meminta dengan sangat-sangat, jangan pernah menggangguku lagi, kapan atau dimanapun.” Ucapnya dengan nada lantang.
“Bahkan hanya untuk berbasa-basi. Dengan kata lain anggap kita tidak pernah kenal. See?”
Oksigennya lenyap begitu saja. Bahkan anginpun juga tahu kalau saat ini paru-parunya seperti terjepit hingga membuat nafasnya berhenti beberapa detik. Remasan tangan Enva kembali menarik Yura dari alam keterkejutannya. Detik berikutnya hambatan nafas itu terdesak dan naik ke jantungnya hingga terpompa begitu cepat. Dan memaksa air matanya untuk turun.
Melihat Jay yang melenggang penuh pesona –yang kini terlihat begitu menjijikkan di mata Yura- membuat kaki Yura kehilangan keseimbangan hingga tubuh mungil gadis itu ambruk menyentuh tanah. hampir menyentuh tanah jika Enva tidak dengan sigap memegang bahunya dan membimbing gadis itu untuk kembali duduk di bangku taman sekolah.
“En...”
Tanpa pikir panjang Yura melingkarkan tangannya pada bahu kokoh Enva lalu menangis di sana. Menumpahkan perasaan dan juga kenangannya. Sebegitu rendahkah dirinya di mata Jay sampai pria itu mengatakan untuk bersikap tidak mengenalnya? Atau sebegitu burukkah dirinya sampai Jay mengatakan kalimat sekasar itu?
Mengganggunya?
Yura seperti ingin sekali meneriaki irisan hatinya yng begitu perih. Tentang sikapnya dulu yang begitu mengagumi sosok Jay hingga membuatnya rela mengikuti pria itu kemanapun, dan menyapanya dengan mata berbinar. Benarkah itu semua membuat Jay risih dan terganggu?
“Aku benci melihatmu menangisi pria lain.” Enva sama sekali tidak mengangkat tangannya untuk setidaknya mengusap bahu Yura demi menenangkan tangisan gadis itu. hal yang selalu dilakukan orang lain jika ada yang menangis dipalukannya.
“Jadi berhenti menangis,” tapi itu tidak berlaku bagi Enva. Ia tidak mengucapkan kata-kata lembut yang menenangkan tapi malah mengucapkan tiga kata dengan nada final. Seperti keputusan para hakim di persidangan yang tidak bisa diganggu gugat.
Akhirnya Yura mengangkat kepala. Masih dengan air mata yang memenuhi pelupuk mata besarnya.
“Aku sedang bersedih kenapa kau tidak bisa berkata yang lembut sedikit saja,”  

_o0o_

Are you really mine? Is this all a dream?
I want to give you my all
        
            Yura terus saja tersenyum senang ketika kakinya melangkah ringan melewati koridor menuju kelasnya. Hatinya membuncah ketika mengetahui bahwa pria itu sudah duduk di bangkunya dengan tenang. Siapa lagi kalau bukan Enva? Pria yang akhir-akhir ini selalu menemani dan menghiburnya ketika tempo lalu ia mendapat pukulan berat dari pengakuan Jay. Ia semakin mendekati pria itu.
            “Pagi, En.” Matanya berbinar, suaranya lantang, dan bibirny tersenyum. cukup menjadi bukti bahwa suasana hati Yura sangat baik saat ini.
            “Pagi, Yu, bagimana PR-mu?”
            “Setidaknya sedikit lebih mudah karena kemarin ada seseorang dengan baik hati mau mengajariku.”
            “Wah, ku kira kau harus memberikan hadiah pada orang itu.”
            “Kau ini,” Yura memukul bahu Enva main-main. “Kalau begitu caranya, aku bisa bangrut. Kau kan tahu otakku pas-pasan.”
            Enva terkekeh pelan. “Duduklah,” ia menepuk bangku di sebelahnya dan di sambut baik oleh Yura.
            “En,”
            “Hmm?
            “Enva,”
            “Apa?”
            “Enva,”
            Enva menoleh cepat. “Apa sih?”
            Yura tertawa dan mecubit kedua pipi Enva. Hal yang membuat jantung pria itu terpacu begitu cepat.
            “Kau menggemaskan,” Enva masih terlalu sulit menemukan suaranya kembali. “Sejujurnya aku sangat berterima kasih karena kau tetap mau menemaniku selama ini.”
            “Lalu?” Enva mencoba kembali menstabilkan suaranya.
            “Ku rasa aku menyukaimu.”
            Enva menahan nafasnya sejenak dengan setipis senyum jahil dibibirnya. “Aku tidak suka dengan gadis yang blak-blakan seperti itu,”
            “A-apa?” Yura kini memutar tubuhnya agar lebih leluasa menatap Enva. “Aku tidak mengerti.” Ucapnya gugup.
            “Kau, sikapmu, wajar jika Jay menjauhimu. Mana ada pria yang tertarik pada gadis blak-blakan sepertimu?”
            “Kalau kau tidak suka, ya sudah, tidak usah mendebatku dengan hal yang berbau Jay!”
            Yura berdiri cepat lalu kembali ke bangkunya. Ia sudah bersusah payah sejak semalam. Tentang semua hal yang begitu mengusik pikirannya, dan mengganggu perasaannya belakangan ini. Dan itu semua ia yakini karena Enva.
            Tapi respon pria itu benar-benar buruk. Blak-blakan? Terus saja mengejaknya dengan hal itu! bahkan Enva juga enggan untuk menerima sifat aslinya. Yura mengela nafasnya dan bahunya melemas begitu saja.

_o0o_

I wasn’t like this 
but I keep getting greedy

Jam demi jam pelajaran Yura lewati begitu saja. Tanpa ada niat dan gairah. Matanya sesekali menatap Enva yang duduk beberapa meter di sampingnya. Ia baru menyadari bahwa pria itu begitu tampan jika dalam sikap tenang seperti itu. juga mata elangnya yang menatap pasti pada papan tulis. Pikirannya melayang entah kemana sampai obyek pengamatannya –Enva- tiba-tiba saja berdiri dan izin keluar kelas.
Bola mata Yura mengikuti langkah Enva hingga hilang di balik pintu kelas. Hatinya bertanya-tanya, apa yang akan pria itu lakukan di saat jam pelajaran saat ini?
Yura kembali mencoba fokus pada bukunya, walau jujur hatinya masih terganggu atas pernyataan Enva tadi pagi.
           Excause me,”
          Radio sekolah terdengar mengeluarkan suara. Sound sekolah yang biasa digunakan untuk memberikan informasi kepada para murid. Dan sekarang sound itu berbunyi tapi Yura seperti familiar dengan suara itu.
            “Maaf mengganggu waktu kalian semua,”
            Yura semakin menajamkan pendengarannya. “Aku seperti mengenalnya.”
           “Pertama, aku minta maaf kepada seorang gadis yang mungkin masih kesal karena sikapku tadi pagi.” Ucap orang itu yang membuat seisi kelas –atau bahkan seisi sekolah terdiam karena itu bukanlah hal yang biasa mereka dengar melalui sound-
        “Gadis dengan otak pas-pasan dan sifat yang aneh untuk ukuran seorang gadis.” Orang itu berhenti sejenak, “Aku tahu kau sedang mendengarkanku sekarang. Ehm, ingat! Aku hanya akan mengatakannya satu kali, oke? Tidak ada replay atau slow motion seperti di film-film.”
       Yura terkesiap, sadar atau tidak ia seperti memiliki suatu firasat tentang hal ini. Matanya menelisik liar pada seisi kelas yang sedang menatapnya dengan... kagum?
        Bahkan guru yang sedang mengajar di depan kelas juga ikut tersenyum sambil menatapnya. Kenapa? Kenapa semua orang menatapnya seperti itu?
           “Yu, taraf perasaanku bukan hanya suka. Tapi lebih dari sekedar membutuhkan. Jika saat ini kau hanya akan mengatakan tertarik padaku, maka jangan salahkan aku jika dikemudian hari aku akan membuatmu lebih dari sekedar tertarik padaku. Aku...” orang itu berhenti beberapa detik hingga membuat semua orang seperti menahan nafas menunggu kelanjutannya.
            “Kau milikku,”
          Semua hening. Para guru yang sedang mengajar atau berada diruang guru, juga para murid yang sedang asik menjalani pelajaran olehraga, bahkan staf sekolah juga terdiam karena dua kata yang terdengar dari sound sekolah mereka.
            Yura membelalakkan matanya lebar-lebar, otaknya berhenti berputar dan dunianya menyentak begitu keras hingga sesuatu di balik dadanya berdebar tak beraturan. Juga sengatan-sengatan aneh yang mengalir di sepanjang saraf tubuhnya membuat Yura kembali kehilangan oksigennya. Enva...
            “Kau dengar, dua kata itu lebih dari sekedar kalimat ‘aku mencintaimu’ jadi jangan pernah cemberut atau protes lagi kalau aku juga sama dengan orang lain yang mengabaikanmu. Mengerti? Dan ini hadiahku untukmu, Yu. Hadiah dari seorang Enva untuk Yura.”
            Detik berikutnya suara Enva yang sejak tadi memenuhi seisi sekolah kini berganti dengan alunan merdu dengan petikan gitar lembut. Enva, pria itu menyanyikan sebuah lagu untuknya, untuk Yura.

Why is it like this? The feelings get bigger
Why am I like this? A me that I didn’t even know has awakened
Because of your love
   
Because of you
Because of you alone
Yes, you awakened me
            
        Nada per-nada begitu indah terlantun ditelinga Yura. Hatinya menghangat karena mendengar suara Enva yang begitu lembut bernyanyi melalui sound. Yura yang masih terpaku hanya mengerjapkan mata besarnya berkali-kali. Sampai semua orang bertepuk tangan dan bersiul melihatnya dengan pipi memerah.
            “Apa-apaan si-En itu. ia bahkan langsung menyatakan ‘kau milikku’ tanpa ada acara tembak-menembak terlebih dahulu.”
            “Enva keren sekali, pasti butuh nyali besar untuk bisa melakukan ini semua. Apalagi di dengar oleh seisi sekolah.”
            “Kau benar, beruntung sekali Yura. Huaaa, aku iri.”
       Semua orang berteriak histeris dengan wajah merona. Apalagi Yura, gadis yang mungkin saja kini menjadi bahan perbincangan seisi sekolah itu hanya bisa menunduk dalam demi menundukkan wajahnya yang sudah tak tahu seperti apa. Hatinya membuncah, sungguh, tidak menyangka jika Enva akan bertingkah sejauh ini untuknya.     Pria itu benar-benar gila rupanya!
            Hingga beberapa saat kemudian Enva muncul dari balik pintu kelas dengan ekspresi datar namun Yura yakin mata pria itu juga memancarkan hal yang sama dengannya, bahagia.
           “Maaf,” pria itu menundukkan kepalanya sedikit untuk memberikan hormat pada guru yang sedang mengajar di kelasnya. Beberapa langkah ia maju menuju bangku Yura lalu menatap gadis itu dengan mata berbinar.
            See? Now, you’re my girl, Yu!”

Can’t let you go
No matter what kind of days come
Love everything of me

           
 This is my new post... pengen banget suatu saat aku bisa kayak Yura -xD-

comenntnya yaaaa tengsyu,.... ^^

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Dari segi alur cerita ini seru tapi penyampaian kata-katanya saat berbicara satu sama lain terlalu to the point sedikit kurang menjiwai jadi krang feel aja menurut aku :) but for EYD this great!