WITH YOU
“Eljeo,”
Pria itu tak menoleh tidak juga
menjawab. Ia hanya tetap berjalan sambil memegang tangan Elsa menuju mobil. Ya,
pria itu memang selalu memakai mobil ke sekolah. Eljeo membukakan pintu
penumpang dan sedikit mendorong bahu Elsa hingga gadis itu masuk ke dalam
mobil. Lalu ia berjalan menuju kursi kemudi dan mulai menjalankan mobil.
Satu jam, tidak
ada satupun dari mereka yang berani mengeluarkan suara. Hanya ada suara deruan
nafas masing-masing dan juga decitan ban mobil-mobil yang melintas di jalanan
yang menjadi satu-satunya saksi kebisuan mereka.
Hingga akhirnya
mereka sampai di sebuah tempat. Tempat yang begitu sepi dan juga sunyi. Tak ada
barang yang berarti di sana. Hanya ada jajaran pohon yang cukup rindang untuk
dijadikan tempat berteduh, juga beberapa bangku panjang sebagai tambahan
pemanis pemandangan asri di sekitar mereka.
“Kenapa?” Elsa
duduk di samping Eljeo yang sudah duduk di bangku samping kolam kecil disudut
taman. Pria itu masih tetap tenang sambil bersidekap di depan dada menatap
lurus ke depan.
“Eljeo,” Elsa mendesah gusar. Sama
sekali tak suka dengan sikap Eljeo yang terlalu mengabaikannya. “Apa sih
salahnya menjawabku?” Eljeo masih enggan berbicara.
“Baik,” Elsa menarik nafasnya
dalam-dalam. “Aku pergi.” Belum ada dua langkah Elsa menjauh. Eljeo sudah
menarik tangannya membuat gadis itu kembali terduduk di sampingnya. Eljeo lalu
menyandarkan kepalanya pada bahu kecil gadis itu dan memejamkan matanya. “Aku...”
ucapnya
Elsa masih sabar menunggu dengan
hati berdebar. Bagaimana tidak? Seseorang yang dikaguminya kini tiba-tiba
bersikap... astaga! Jangan berharap yang tidak-tidak, Elsa!
“Biarkan tetap seperti ini.” Eljeo
akhirnya buka suara. masih dengan nada yang berat dan lemah. Lebih kepada ingin
menikmati dan mengingat bagaimana aroma tubuh gadis di sampingnya. Yang sedikit
demi sedikit membuat saraf otak geniusnya hilang kendali dan... candu?
“Eljeo, aku...” Elsa kembali
kehilangan suaranya. Meski banyak rangkaian kalimat yang tersusun di dalam
kepalanya. “Malu...” dan malah kata konyol itu yang mampu ia ucapkan.
Eljeo enggan untuk menjauhkan
kepalanya. “Lalu?” ucapnya. “Bukankah harusnya kau suka? Kau menyukaiku, kan?”
Elsa tambah kehilangan nyali.
Jantungnya semakin keras memukul dada. lagi, ia menghela nafas berat. “Ya,
meski akhirnya harus sepihak.”
“Siapa bilang?”
“Apa?” Elsa sontak menegakkan
posisinya dan menbuat Eljeo membuka mata. “Jadi.. jadi...” Elsa lalu menutup
mulutnya dengan punggung tangan. Matanya menampakkan cahaya berbinar yang
membuat Eljeo tergelitik dan tersenyum diam-diam. “Kau juga menyukaiku?”
Eljeo menggedikkan bahunya, “Aku
tidak bilang begitu.”
“Hah?” keterkejutannya lolos begitu
saja. Lalu ia kembali melemaskan bahu dan menatap Eljeo takut-takut. “Apa
maksudnya?”
“Tidak ada,”
Eljeo berdiri lalu berjalan beberapa
langkah ke depan. Dengan tangan yang masih tetap tersimpan di balik saku
celananya. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari sana dan meletakkannya di atas
tanah. Elsa masih terdiam, sambil terus memperhatikan Eljeo dari belakang. Entah
apa yang pria itu letakkan di atas tanah, namun saat ini perasaan Elsa sedikit
kecewa.
Eljeo lalu sedikit
menyampingkan posisinya dan menatap Elsa. Memberikan isyarat tentang sesuatu
yang ia letakkan di atas tanah, tepat di samping kaki jenjangnya. Tanpa
menunggu waktu Elsa berlari ke arahnya dan memungut benda itu. sebuah gelang
yang terbuat dari tali rapia berwarna merah yang tergeletak begitu saja di atas
tanah. Elsa mendongak dengan ekspresi tak terbaca. Tadinya ia memang ingin meraih gelang itu, namun
terhenti karena kaki jenjang Eljeo yang tiba-tiba menginjak gelang itu.
“Eljeo, ku mohon.”
Pelupuk mata Elsa sudah berair ingin menangis. Ia masih tetap berlutut sambil
menutup mulutnya dengan punggung tangan. Lalu ia menunduk dan menenggelamkan
wajahnya di antara lekukan lututnya dan menangis.
Flashback on
“Eljeo,” Eljeo
berbalik dan menatap Elsa malas. Ini sudah waktunya kembali ke rumah. Ia sangat
tidak suka jika waktunya diganggu dengan hal yang tak penting seperti ini. Elsa
lalu berlari ke arahnya dengan senyum cerah sambil membawa sesuatu. “Ini
untukmu,” tangannya terulur dengan sebuah gelang yang menurut Eljeo sama sekali
tak menarik yang terbuat dari tali rapia berwarna merah.
Karena tak ada
respon apapun dari Eljeo. Elsa lalu memakaikan gelang itu pada pergelangan
Eljeo dan bertepuk tangan ringan. “Bagus, kan? Ini hadiah dariku. Ya, meskipun
hanya terbuat dari tali rapia dan tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Aku janji...”
Flasback of
Elsa masih ingat
beberapa potongan kisah percintaannya dengan Eljeo dulu. Ya, mungkin sikap
Eljeo yang kelewat dingin adalah karena kesalahannya. Karena ia yang terlalu
menginginkan pria itu hingga pria itu menjauh darinya dengan topeng sikap
dinginnya. Tapi ia tak menyangka jika Eljeo akan seperti ini. gelang itu,
gelang yang mungkin dianggap buruk oleh Eljeo adalah satu-satunya barang kenangan
percintaan yang ia miliki. Meski kenangan percintaan itu sama sekali tidak bisa
disebut percintaan karena hanya ia yang mencintai. Dan sekarang Eljeo malah
menginjaknya tanpa bersalah.
Air mata Elsa semakin mengalir
deras. Menatap gelang yang selama ini ia jaga baik-baik sudah tak berbentuk lagi
di bawah kaki Eljeo.
Bukannya meminta maaf, Eljeo justru
berlutut menghadap Elsa dan mengangkat dagu gadis itu. Jari panjanganya
mengusap pipi Elsa. Elsa mendongak dan menatap Eljeo dengan mata bertanya-tanya.
Meski hatinya masih sakit karena merasa tak dihargai. Ia tetap membuka mulut.
“Bagaimana bisa gelang itu ada padamu? Bukankah waktu itu kau membuangnya?”
Eljeo tak menjawab, ia mengangkat
sepatunya dan mengambil gelang itu lalu menunjukkannya di depan Elsa. “Kau
masih bisa menyebut ini gelang?”
“Sini,” Elsa berusaha merebut gelang
itu dari Eljeo, meski ia harus super sabar karena Eljeo malah membuang gelang
itu jauh-jauh dari mereka. Ia hendak berdiri dan mengambil gelang itu sampai
Eljeo malah menarik tangannya dan Elsa kembali terduduk di atas tanah.
“Apa? Katakan apa maumu sebenarnya,
Eljeo? Aku tidak masalah jika kau memang tidak bisa membalas perasaanku, tapi
tidak dengan hal ini. ini perasaanku, kenapa kau harus membuangnya. Itu adalah
satu-satunya barang yang.. yang...” Elsa menegeluarkan emosinya sekuat tenaga.
Kata-katanya berhenti begitu saja karena Eljeo mengacungkan sebuah gelang di
depan wajahnya.
Bukan, itu bukan gelang yang terbuat
dari tali rapia atau semacamnya. Itu benar-benar gelang sungguhan yang terbuat
dari rangkaian rantai perak putih dengan hiasan inisial “El” yang tergantung
manis di gelang itu.
Tubuh Elsa kaku karenanya. Tidak
mengerti dengan apa yang Eljeo lakukan. Pria itu malah memakaikan gelang cantik
itu di pergelangan tangan kanannya lalu menatap kembali ke wajah Elsa.
“Kau akan ku hukum jika gelang ini
sampai hilang.”
Elsa mendekatkan tangannya lalu
menatap gelang itu. “Kenapa kau memberikannya padaku? Apa maksudnya?”
“Ini adalah tanda bahwa kau
milikku.” Sahut Eljeo dan menuntun Elsa untuk ikut berdiri. “Apa?” Elsa
tertegun, “Milikmu, siapa? Aku?”
“Memang ada orang lain di sini?”
Elsa menggeleng dan entah mengapa
hatinya menghangat begitu saja. Ia lalu tersenyum hingga matanya menyipit lalu
berkata, “Ku kira kau tidak menyukaiku.”
“Itukan menurutmu?”
“Benarkah?” Elsa menghadap Eljeo,
“Kau tidak sedang bercanda, kan?”
“Mungkin,” Eljeo menggedikkan bahu
dan tersenyum miring. Bukannya marah, Elsa justru tertawa dan memukul bahu
Eljeo main-main. “Dasar,” Elsa malah memeluk lengan kanan Eljeo lalu kembali
mengangkat pergelangan tangannya. “El?” katanya.
“Elsa dan Eljeo? Sungguh?” Elsa
benar-benar terperangah dengan gagasannya. Ia tak menyangka jika Eljeo bisa
se-romantis ini. “Ku kira kau tidak menyukaiku, tapi... sejak kapan kau mulai
memperhatikanku dan berinisiatif memberikan gelang ini?”
“Sejak,” Eljeo pura-pura berpikir.
“Tabrakan itu,”
“Apa? Sejak tabrakan itu? itu kan
lama sekali. Huh, kau benar-benar hebat untuk menyembunyikan perasaan.” Elsa merengut dengan bibir yang sengaja ia
majukan.
“Jangan cemberut seperti itu, kau
bisa dalam bahaya. Nona.”
“Terserah, yang
penting aku tahu kau mencintaiku.”
“Aku tidak bilang
mencintaimu.”
“Eljeo,” Elsa
merengut sebal lalu melepaskan rangkulannya pada lengan Eljeo. “Menyebalkan.”
Eljeo hanya
tersenyum kecil dan merangkul bahu Elsa dengan posesive. “Lebih dari
itu, Elsa.”
“Apa?”
“Jika kau tahu.
Perasaanku lebih dari itu.”
Elsa enggan untuk
menjawab namun tetap tersenyum. Ia ikut menatap ke depan tempat di mana
hamparan rumput hijau terbentang indah.
Pada akhirnya, ia
baru tahu bahwa Eljeo juga menyukainya. Meski dengan segala tanda tanya atas
segala sikap dingin pria itu selama ini. Elsa tidak akan mempermasalahkan hal
itu lagi. Baginya, cukup jika Eljeo menerimanya.
Semua akan indah
baginya. Bagi kehidupan percintaannya di masa depan.
akhirnyaaaaaa ini cerpen abstrak selesai jugaaaaa.... maaf ya kalau tulisan dan EYD nya masih berantakan, karena saya juga msaih dalam tahap amatir. hehe
mohon komenannya guys.... ^^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar