Jumat, 29 Agustus 2014

With You (2/2) -End-




WITH YOU
“Eljeo,” 
Pria itu tak menoleh tidak juga menjawab. Ia hanya tetap berjalan sambil memegang tangan Elsa menuju mobil. Ya, pria itu memang selalu memakai mobil ke sekolah. Eljeo membukakan pintu penumpang dan sedikit mendorong bahu Elsa hingga gadis itu masuk ke dalam mobil. Lalu ia berjalan menuju kursi kemudi dan mulai menjalankan mobil.
            Satu jam, tidak ada satupun dari mereka yang berani mengeluarkan suara. Hanya ada suara deruan nafas masing-masing dan juga decitan ban mobil-mobil yang melintas di jalanan yang menjadi satu-satunya saksi kebisuan mereka.
            Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat. Tempat yang begitu sepi dan juga sunyi. Tak ada barang yang berarti di sana. Hanya ada jajaran pohon yang cukup rindang untuk dijadikan tempat berteduh, juga beberapa bangku panjang sebagai tambahan pemanis pemandangan asri di sekitar mereka.
            “Kenapa?” Elsa duduk di samping Eljeo yang sudah duduk di bangku samping kolam kecil disudut taman. Pria itu masih tetap tenang sambil bersidekap di depan dada menatap lurus ke depan.
“Eljeo,” Elsa mendesah gusar. Sama sekali tak suka dengan sikap Eljeo yang terlalu mengabaikannya. “Apa sih salahnya menjawabku?” Eljeo masih enggan berbicara.
“Baik,” Elsa menarik nafasnya dalam-dalam. “Aku pergi.” Belum ada dua langkah Elsa menjauh. Eljeo sudah menarik tangannya membuat gadis itu kembali terduduk di sampingnya. Eljeo lalu menyandarkan kepalanya pada bahu kecil gadis itu dan memejamkan matanya. “Aku...” ucapnya
Elsa masih sabar menunggu dengan hati berdebar. Bagaimana tidak? Seseorang yang dikaguminya kini tiba-tiba bersikap... astaga! Jangan berharap yang tidak-tidak, Elsa!
“Biarkan tetap seperti ini.” Eljeo akhirnya buka suara. masih dengan nada yang berat dan lemah. Lebih kepada ingin menikmati dan mengingat bagaimana aroma tubuh gadis di sampingnya. Yang sedikit demi sedikit membuat saraf otak geniusnya hilang kendali dan... candu?
“Eljeo, aku...” Elsa kembali kehilangan suaranya. Meski banyak rangkaian kalimat yang tersusun di dalam kepalanya. “Malu...” dan malah kata konyol itu yang mampu ia ucapkan.
Eljeo enggan untuk menjauhkan kepalanya. “Lalu?” ucapnya. “Bukankah harusnya kau suka? Kau menyukaiku, kan?”
Elsa tambah kehilangan nyali. Jantungnya semakin keras memukul dada. lagi, ia menghela nafas berat. “Ya, meski akhirnya harus sepihak.”
“Siapa bilang?”
“Apa?” Elsa sontak menegakkan posisinya dan menbuat Eljeo membuka mata. “Jadi.. jadi...” Elsa lalu menutup mulutnya dengan punggung tangan. Matanya menampakkan cahaya berbinar yang membuat Eljeo tergelitik dan tersenyum diam-diam. “Kau juga menyukaiku?”
Eljeo menggedikkan bahunya, “Aku tidak bilang begitu.”
“Hah?” keterkejutannya lolos begitu saja. Lalu ia kembali melemaskan bahu dan menatap Eljeo takut-takut. “Apa maksudnya?”
“Tidak ada,”
Eljeo berdiri lalu berjalan beberapa langkah ke depan. Dengan tangan yang masih tetap tersimpan di balik saku celananya. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari sana dan meletakkannya di atas tanah. Elsa masih terdiam, sambil terus memperhatikan Eljeo dari belakang. Entah apa yang pria itu letakkan di atas tanah, namun saat ini perasaan Elsa sedikit kecewa.
            Eljeo lalu sedikit menyampingkan posisinya dan menatap Elsa. Memberikan isyarat tentang sesuatu yang ia letakkan di atas tanah, tepat di samping kaki jenjangnya. Tanpa menunggu waktu Elsa berlari ke arahnya dan memungut benda itu. sebuah gelang yang terbuat dari tali rapia berwarna merah yang tergeletak begitu saja di atas tanah. Elsa mendongak dengan ekspresi tak terbaca. Tadinya  ia memang ingin meraih gelang itu, namun terhenti karena kaki jenjang Eljeo yang tiba-tiba menginjak gelang itu.
            “Eljeo, ku mohon.” Pelupuk mata Elsa sudah berair ingin menangis. Ia masih tetap berlutut sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. Lalu ia menunduk dan menenggelamkan wajahnya di antara lekukan lututnya dan menangis.

Flashback on

            “Eljeo,” Eljeo berbalik dan menatap Elsa malas. Ini sudah waktunya kembali ke rumah. Ia sangat tidak suka jika waktunya diganggu dengan hal yang tak penting seperti ini. Elsa lalu berlari ke arahnya dengan senyum cerah sambil membawa sesuatu. “Ini untukmu,” tangannya terulur dengan sebuah gelang yang menurut Eljeo sama sekali tak menarik yang terbuat dari tali rapia berwarna merah.
            Karena tak ada respon apapun dari Eljeo. Elsa lalu memakaikan gelang itu pada pergelangan Eljeo dan bertepuk tangan ringan. “Bagus, kan? Ini hadiah dariku. Ya, meskipun hanya terbuat dari tali rapia dan tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Aku janji...”

Flasback of

           Elsa masih ingat beberapa potongan kisah percintaannya dengan Eljeo dulu. Ya, mungkin sikap Eljeo yang kelewat dingin adalah karena kesalahannya. Karena ia yang terlalu menginginkan pria itu hingga pria itu menjauh darinya dengan topeng sikap dinginnya. Tapi ia tak menyangka jika Eljeo akan seperti ini. gelang itu, gelang yang mungkin dianggap buruk oleh Eljeo adalah satu-satunya barang kenangan percintaan yang ia miliki. Meski kenangan percintaan itu sama sekali tidak bisa disebut percintaan karena hanya ia yang mencintai. Dan sekarang Eljeo malah menginjaknya tanpa bersalah.
Air mata Elsa semakin mengalir deras. Menatap gelang yang selama ini ia jaga baik-baik sudah tak berbentuk lagi di bawah kaki Eljeo.
Bukannya meminta maaf, Eljeo justru berlutut menghadap Elsa dan mengangkat dagu gadis itu. Jari panjanganya mengusap pipi Elsa. Elsa mendongak dan menatap Eljeo dengan mata bertanya-tanya. Meski hatinya masih sakit karena merasa tak dihargai. Ia tetap membuka mulut. “Bagaimana bisa gelang itu ada padamu? Bukankah waktu itu kau membuangnya?”
Eljeo tak menjawab, ia mengangkat sepatunya dan mengambil gelang itu lalu menunjukkannya di depan Elsa. “Kau masih bisa menyebut ini gelang?”
“Sini,” Elsa berusaha merebut gelang itu dari Eljeo, meski ia harus super sabar karena Eljeo malah membuang gelang itu jauh-jauh dari mereka. Ia hendak berdiri dan mengambil gelang itu sampai Eljeo malah menarik tangannya dan Elsa kembali terduduk di atas tanah.
“Apa? Katakan apa maumu sebenarnya, Eljeo? Aku tidak masalah jika kau memang tidak bisa membalas perasaanku, tapi tidak dengan hal ini. ini perasaanku, kenapa kau harus membuangnya. Itu adalah satu-satunya barang yang.. yang...” Elsa menegeluarkan emosinya sekuat tenaga. Kata-katanya berhenti begitu saja karena Eljeo mengacungkan sebuah gelang di depan wajahnya.
Bukan, itu bukan gelang yang terbuat dari tali rapia atau semacamnya. Itu benar-benar gelang sungguhan yang terbuat dari rangkaian rantai perak putih dengan hiasan inisial “El” yang tergantung manis di gelang itu.
Tubuh Elsa kaku karenanya. Tidak mengerti dengan apa yang Eljeo lakukan. Pria itu malah memakaikan gelang cantik itu di pergelangan tangan kanannya lalu menatap kembali ke wajah Elsa.
“Kau akan ku hukum jika gelang ini sampai hilang.”
Elsa mendekatkan tangannya lalu menatap gelang itu. “Kenapa kau memberikannya padaku? Apa maksudnya?”
“Ini adalah tanda bahwa kau milikku.” Sahut Eljeo dan menuntun Elsa untuk ikut berdiri. “Apa?” Elsa tertegun, “Milikmu, siapa? Aku?”
“Memang ada orang lain di sini?”
Elsa menggeleng dan entah mengapa hatinya menghangat begitu saja. Ia lalu tersenyum hingga matanya menyipit lalu berkata, “Ku kira kau tidak menyukaiku.”
“Itukan menurutmu?”
“Benarkah?” Elsa menghadap Eljeo, “Kau tidak sedang bercanda, kan?”
“Mungkin,” Eljeo menggedikkan bahu dan tersenyum miring. Bukannya marah, Elsa justru tertawa dan memukul bahu Eljeo main-main. “Dasar,” Elsa malah memeluk lengan kanan Eljeo lalu kembali mengangkat pergelangan tangannya. “El?” katanya.
“Elsa dan Eljeo? Sungguh?” Elsa benar-benar terperangah dengan gagasannya. Ia tak menyangka jika Eljeo bisa se-romantis ini. “Ku kira kau tidak menyukaiku, tapi... sejak kapan kau mulai memperhatikanku dan berinisiatif memberikan gelang ini?”
“Sejak,” Eljeo pura-pura berpikir. “Tabrakan itu,”
“Apa? Sejak tabrakan itu? itu kan lama sekali. Huh, kau benar-benar hebat untuk menyembunyikan perasaan.”  Elsa merengut dengan bibir yang sengaja ia majukan.
“Jangan cemberut seperti itu, kau bisa dalam bahaya. Nona.”
            “Terserah, yang penting aku tahu kau mencintaiku.”
            “Aku tidak bilang mencintaimu.”
            “Eljeo,” Elsa merengut sebal lalu melepaskan rangkulannya pada lengan Eljeo. “Menyebalkan.”
            Eljeo hanya tersenyum kecil dan merangkul bahu Elsa dengan posesive. “Lebih dari itu, Elsa.”
            “Apa?”
            “Jika kau tahu. Perasaanku lebih dari itu.”
            Elsa enggan untuk menjawab namun tetap tersenyum. Ia ikut menatap ke depan tempat di mana hamparan rumput hijau terbentang indah.
            Pada akhirnya, ia baru tahu bahwa Eljeo juga menyukainya. Meski dengan segala tanda tanya atas segala sikap dingin pria itu selama ini. Elsa tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi. Baginya, cukup jika Eljeo menerimanya.
            Semua akan indah baginya. Bagi kehidupan percintaannya di masa depan. 

                                                         
-THE END-

akhirnyaaaaaa ini cerpen abstrak selesai jugaaaaa.... maaf ya kalau tulisan dan EYD nya masih berantakan, karena saya juga msaih dalam tahap amatir. hehe

mohon komenannya guys.... ^^


  


Tidak ada komentar: