Sabtu, 23 Agustus 2014

With You (1/2)





WITH YOU
“Astaga! Kau sudah tidak menyayangiku lagi? Ayolah, Viv, bahkan semut di sekolah ini juga tahu kalau hal itu benar-benar mustahil untuk dilakukan.”
“Lalu kau ingin tetap bertahan di kelas sepuluh ini?”
Elsa menggeleng pasrah dengan kepala yang ia sandarkan di atas meja. Suasana kelas yang ramai dan juga teriakan-teriakan aneh dari setiap siswa dikelasnya membuat kepala Elsa semakin berputar hebat. Pak Agus –guru matematikanya- berhalangan hadir dengan alasan rapat guru. Dan sudah menjadi ritual turun-temurun jika hal itu adalah hal yang paling membahagiakan bagi seluruh siswa di sekolahnya.
Tapi untuk kali ini Elsa benar-benar mengutuk “kebahagiaan” itu. ia ingat saat beberapa hari yang lalu ia menerima hasil tes ujian matematika. Elsa senang bukan main, karena baru kali itu ia mendapat coretan angka empat di kertas jawabannya. Ya, karena biasanya Elsa hanya akan mendapatkan dua kemungkinan angka. Jika bukan dua, maka satu. Brutal bukan?
Itu juga yang Pak Agus katakan padanya tempo lalu. Dan imbasnya...
“Ya Tuhan, jangankan untuk memintanya membantuku memahami soal-soal matematika. Melihatnya berbicara dengan orang lain saja baru dua kali. Kau ingin aku belajar dari pria yang pelit bicara seperti itu?”
“Aww,”
Elsa mengusap dahinya yang memerah. Vivta memang salah satu dari sekian banyak gadis yang senang sekali menggunakan kekerasan. Tapi apa salahnya? Ucapannya memang benar. Pria itu, pria yang dianggapnya tempramental karena sangat kontras dengan fisiknya. Siapa yang tak kenal dengan Eljoe? Pria paling tampan, paling kaya, paling berkarisma, dan paling genius di sekolahnya. Oh-oh, Elsa juga wanita yang normal bukan? Ia juga tertarik pada pria itu. tertarik dengan semuanya. Cara pria itu berjalan walau terkesan angkuh, cara pria itu menatap walau terkesan meremehkan, dan cara pria itu berbicara walau itu sama sekali tidak bisa disebut berbicara. Karena selama Elsa mengenal pria itu, ia hanya mendengar empat kata yang keluar dari bibirnya. –Minggir, Pergilah, Bukan, Urusanmu-
Kadang Elsa berpikir bahwa pria itu memiliki sedikit masalah dengan kejiwaannya, atau sesuatu yang mengganggu mentalnya. Mana ada orang yang memiliki stok kata sedikit seperti itu? Elsa yakin, jika Eljeo mengikuti world record, ia pasti akan menjadi manusia paling sedikit berbicara di dunia. 
“Aku tahu kau menyukainya?”
“Apa?” Elsa berbalik cepat. ‘Ten.. tentu saja tidak.”
“Cih,” Vivta mendesah remeh. “Kau harus lebih banyak belajar untuk berbohong. Bahkan kilatan matamu benar-benar mirip kilatan kagum. Kau tahu? Aku jadi ingat saat kau pertama kali bertegur sapa dengannya, matamu bahkan seperti mau keluar karena terpesona.”
“Berhenti bicara yang bukan-bukan.”
“Apanya yang bukan-bukan. Itu kenyataan. Apa kau sudah lupa? Apa perlu aku menceritakannya kembali, hmm?”

Flashback on

Bukk
            “Maaf,” Elsa menunduk dalam dan berlutut untuk memungut beberapa buku-bukunya yang terjatuh ke lantai. Astaga, apa salahnya hari ini? ia benar-benar dibuat kewalahan dengan semua tugas yang guru berikan sebagai remedial hasil tes ujiannya kemarin. Ia harus berlari dari perpustakaan ke kelas untuk meminjam buku sebagai referensi, belum lagi buku yang ia pinjam bukan hanya satu atau dua. Dan sekarang ia harus menabrak seseorang?
            “Astaga, maaf, sungguh, aku tidak sengaja. kau tidak apa-apa, kan?”
            Elsa lalu kembali berdiri, ia baru tersadar ketika matanya menatap Eljeo yang berdiri di depannya. Dengan kedua tangan yang ia jejalkan ke dalam saku celana, mata yang tajam, dan juga rahangnya yang tegas. Entah mengapa Elsa merasa berdebar dengan hal itu. jantungnya seperti enggan untuk memompa perlahan dan terus berlomba-lomba. Nafasnya juga seperti tertahan di tenggorokan, seperti ada sesuatu yang mengganjal di saluran pernafasannya. Pria itu...
            “Minggir,”
            Elsa terpaksa kembali terseret ke alam sadarnya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata dan perlahan mulai tersenyum kikuk sambil sedikit menggeser posisinya ke samping. Tanpa ba-bi-bu Eljeo melenggang melewati Elsa. Melewati semua keterkejutan gadis itu.
            “Sepertinya sebentar lagi matamu akan lepas dari tampatnya.”
            Elsa berbalik dan menatap jengah pada Vivta yang mengejeknya usil. Pasti gadis kasar itu sudah memergokinya menatap kagum Eljeo secara terang-terangan.
“Hey! Kalau kau menyukainya, kau harus bisa melawan seluruh siswi di sekolah ini.”
“Memang apa perduliku? Jodoh itu sudah teratur secara permanen. Jadi aku tidak perlu repot-repot untuk membasmi para gadis centil itu kalau Eljeo memang jodohku.”
“Percaya diri sekali, aku tidak menyebut siapa jodohmu. Dan itu, kau benar-benar mengagumi Eljeo ternyata. Sampai berharap bahwa dia akan menjadi jodohmu.”
“Apa?” Elsa baru tersadar akan ucapannya dan mengibaskan tangannya cepat. “Tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya...”
“Kau tidak bisa mengelak lagi, Elsa.”

Flashback end

            Elsa melemaskan bahunya, tentu saja ia ingat dengan hal itu. bahkan kejadian itu sering kali menjadi bunga tidurnya. Elsa memang bukan tipikal gadis yang mudah menyembunyikan sesuatu. Tentang perasaannya, ia memang menyukai Eljeo, bahkan mengaguminya. Tapi urusan cap “tempramental” yang ia berikan atas sikap dingin Eljeo yang terbilang akut selama ini membuat Elsa harus memutar otak jika ingin mengungkapkan gagasan perasaannya.
            Dan untuk kali ini, Elsa bahkan tak tahu apa ia harus tersenyum gembira atau mendesah keberatan karena Eljeo diberi titah oleh Pak Agus untuk membantunya mengerjakan soal matematika. Apa ia harus bersorak karena bisa dengan leluasa bertatapan dengan Eljeo, atau justru menjerit karena harus berhadapan dengan kata-kata pedas pria itu?
            “Ini demi nilaimu juga, kan?”
            “Ya, demi nilaiku juga.” Elsa seperti bernada enggan dalam ucapannya. Akhirnya ia menghela nafas panjang dan mengambil beberapa buku catatannya, sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki ke meja yang terletak di sudut kelas. Di sana ada Eljeo sedang memejamkan mata sambil bersamdar pada dinding kelas.
            “Demi nilaiku,”

_o0o_

            “Maaf, aku boleh duduk di sini?”      
            Eljeo membuka matanya. Badannya kembali tegak dan bersandar pada sandaran bangku. Tangannya dengan angkuh terlipat di depan dada dan menatap Elsa dengan enggan. Tanpa menunggu izin si pemilik, Elsa mendudukkan diri pada bangku di samping Eljeo lalu meletakkan buku-buku catatannya di atas meja.
            “Ini,” Elsa menyodorkan buku catatannya pada Eljeo. “Bisakah kau membantuku?” Eljeo hanya melirik Elsa dan menarik buku itu lalu membuka lembarannya. “Pak Agus bilang kau pakarnya matematika. Jadi ia menyuruhku untuk belajar darimu.”
            Eljoe sama sekali tidak menjawab. Walau dalam hati ia sangat mengerti maksud Elsa. Baginya ia tidak harus repot-repot untuk menjawab. Ia lalu meniti satu demi satu barisan angka di buku yang dipegangnya lalu menuliskan jawabannya.
            Elsa? Gadis itu tetap memperhatikan semua gerakan Eljeo. Seperti terhipnotis dalam pesona Eljoe yang bahkan terkesan mengabaikannya. Ia bahkan sempat menahan nafas ketika dengan lincahnya Eljeo menjawab semua soal matematika yang sama sekali tidak ia mengerti. Kegeniusan pria itu memang benar-benar nyata.
            “Apa?”
            Eljeo menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. Ia bukannya tidak tahu bahwa gadis itu terpaku melihatnya. Oh, ayolah, Eljeo tidah asing lagi dengan tatapan kagum para gadis untuknya. Baginya itu sudah seperti asupan sehari-hari. Jadi ia hanya perlu bersikap santai jika kembali melihat seorang gadis menatapnya seperti itu.
            “Tapi aku masih belum mengerti. Kau bahkan sama sekali tidak menjelaskan apa-apa padaku.”
            Eljeo menghela nafasnya lalu menrik buku catatan Elsa ke tengah-tengah mereka. Mengerti akan isyarat itu, Elsa juga ikut merapat dan memperhatikan baik-baik buku catatan yang sekarang menjadi fokus mereka –Elsa dan Eljoe- meski jantungnya sama sekali tidak bisa fokus pada apapun.
            “Seperti ini,” Eljeo lalu menulis secara perlahan tahap demi tahap penyelesaian salah satu soal di buku itu.
Tidak!
            Nafas Eljeo seperti tersangkut di tenggorokannya. Menghirup aroma mint yang menyeruak dari tubuh gadis itu bagai mengisi udara di paru-parunya. Terlaru banyak udara yang terisi sampai sesak rasanya. Ini aneh, dari mulai ia lahir sampai ia remaja seperti sekarang, Eljeo sama sekali anti dengan segala sesuatu yang membuatnya seperti patung. Seperti sekarang, entah mengapa dunianya tiba-tiba berhenti pada Elsa.
            “Eljeo, aku tidak mengerti dengan...” Elsa menghentikan kata-katanya karena menyadari Eljeo yang menatapnya dalam, terlalu dalam. Ia bahkan sempat bingung karena manik mata pria itu yang sama sekali enggan untuk lepas dari wajahnya.
Oh Tuhan, berhenti menatapku seperti itu...
Hati Elsa memanas dan naik ke wajahnya. Ia yakin sekarang pipinya sudah memerah.
“Dasar payah,”
“Apa?”
            Eljeo menarik cepat tangan Elsa untuk mendekatkan jarak mereka dan meraih pensil di samping buku. ”Perhatikan baik-baik.” Eljeo lalu menuliskan kembali cara-cara mengerjakan soal.
            Kenapa tiba-tiba seperti ini? Elsa sedikit melirik tangannya yang terpaut erat pada tangan Eljoe. Lalu tatapannya kembali pada wajah tampan Eljeo dan tersenyum tipis.
            “Jangan menatapku seperti itu, kau terlihat seperti harimau yang kelaparan.”
            “Hebat,” bukannya kesal, Elsa justru bertepuk tangan ringan dan tersenyum lebar. “Baru kali ini aku mendengarmu bicara sebanyak itu.”
            Eljeo melemparkan tatapan tajamnya dan berhasil membuat Elsa bungkam seketika. Tak perlu lagi berlama-lama dengan gadis itu, Eljeo berdiri dari bangkunya dan berjalan keluar kelas. Sejenak ia berhenti di ambang pintu dan tersenyum kecil. Baru kali ini ia merasa begitu lucu melihat ekspresi seseorang.

_o0o_

            “Bagaimana?”
            “Bagaimana apanya?”
            “Apalagi, tentu saja pertemuanmu dengan Eljeo.”
            “Hah...” Elsa menghela nafasnya sejenak lalu menatap Vivta jengkel. “Memangnya kau tidak melihatnya? Ia memang mengajariku cara mengerjakan soal, tapi setelah itu dia malah pergi begitu saja. Apa dimatanya aku ini makhluk yang tembus pandang?”
            Vivta tertawa keras sambil memegang perutnya. Beberapa siswa lain yang juga sedang berjalan di lapangan sekolah menuju gerbang –karena sudah waktunya para siswa untuk kembali ke rumah masing-masing- ikut menoleh dan berbisik heran. “Hanya itu saja?” Elsa kembali terkekeh, “Aku yakin terjadi sesuatu selain itu. kalau aku tidak salah, aku melihatmu sedang tersipu sampai pipimu memerah. Katakan padaku, apa Eljeo melakukan sesuatu seperti...”
            “Apa? Hah?” Elsa naik pitam sekaligus malu. Tentu saja, ia tertangkap basah tersipu malu di samping pria itu. Tunggu, apa mungkin Eljeo juga menyadari pipinya yang memerah? Astaga! Elsa semakin terhenyak karena tepat di samping gerbang Eljeo sedang berdiri sambil memperhatikannya. Memperhatikannya? Elsa cepat-cepat merapikan tatanan rambutnya yang sudah tak berbentuk, ia juga merapikan seragamnya yang sudah mulai kusut, wajahnya? Elsa panik. Apa yang akan ia lakukan dengan wajah seseram ini? penuh keringat dan juga minyak.
Aku tidak siap bertemu denganmu dengan penampilan seburuk ini, Eljeo...
            Elsa semakin mendekat pada Vivta dengan wajah yang ia sembunyikan di balik bahu Vivta. Maklum, tinggi badan Elsa memang tak seberaba.
            “Kenapa?”
           “Ssstt... jangan berisik.” Elsa mendesis panik sambil sesekali melirik Eljeo yang masih saja memperhatikannya. Elsa dan Vivta mulai mendekati gerbang dan terus berjalan, hingga mereka berdua -Vivta dan Elsa- sampai di gerbang, Elsa menahan nafasnya sejenak, semoga saja Eljeo tidak melihatnya...
            Dasar bodoh! Bahkan pria itu sudah memperhatikannya sejak tadi. Elsa sedikit terheran. Bahkan ketika ia sudah jelas-jelas melewati gerbang ia sama sekali tidak melihat reaksi apapun dari Eljeo. Tunggu, tunggu, kenapa sekarang jadi ia yang berharap?
            Elsa tak berani menoleh ke belakang. Walau hatinya merasa sedikit... kecewa.
            “Ada apa sih?”
            “Tidak,” Elsa menggeleng lesu. “Tidak ada apa-apa.”
Srett
            Elsa tercekat. Tangannya tiba-tiba ditarik seseorang dan...
            “Eljeo,”

To be continue...

Gimana? Seru nggak? Atau malah ceritanya berantakan dan nggak jelas? Maaf yaa... ini soalnya masih amatiran. Hehe
Mohon kommentnya,,,, biar bisa koreksi diri juga, ini Cuma dua part kok. Post yg ke dua udah end,
Makasih ^^

Tidak ada komentar: