WITH YOU
“Astaga! Kau sudah tidak
menyayangiku lagi? Ayolah, Viv, bahkan semut di sekolah ini juga tahu kalau hal
itu benar-benar mustahil untuk dilakukan.”
“Lalu kau ingin tetap bertahan di
kelas sepuluh ini?”
Elsa menggeleng pasrah dengan kepala
yang ia sandarkan di atas meja. Suasana kelas yang ramai dan juga
teriakan-teriakan aneh dari setiap siswa dikelasnya membuat kepala Elsa semakin
berputar hebat. Pak Agus –guru matematikanya- berhalangan hadir dengan alasan
rapat guru. Dan sudah menjadi ritual turun-temurun jika hal itu adalah hal yang
paling membahagiakan bagi seluruh siswa di sekolahnya.
Tapi untuk kali ini Elsa benar-benar
mengutuk “kebahagiaan” itu. ia ingat saat beberapa hari yang lalu ia menerima
hasil tes ujian matematika. Elsa senang bukan main, karena baru kali itu ia
mendapat coretan angka empat di kertas jawabannya. Ya, karena biasanya Elsa
hanya akan mendapatkan dua kemungkinan angka. Jika bukan dua, maka satu. Brutal
bukan?
Itu juga yang Pak Agus katakan
padanya tempo lalu. Dan imbasnya...
“Ya Tuhan, jangankan untuk
memintanya membantuku memahami soal-soal matematika. Melihatnya berbicara
dengan orang lain saja baru dua kali. Kau ingin aku belajar dari pria yang
pelit bicara seperti itu?”
“Aww,”
Elsa mengusap dahinya yang memerah.
Vivta memang salah satu dari sekian banyak gadis yang senang sekali menggunakan
kekerasan. Tapi apa salahnya? Ucapannya memang benar. Pria itu, pria yang
dianggapnya tempramental karena sangat kontras dengan fisiknya. Siapa yang tak
kenal dengan Eljoe? Pria paling tampan, paling kaya, paling berkarisma, dan
paling genius di sekolahnya. Oh-oh, Elsa juga wanita yang normal bukan? Ia juga
tertarik pada pria itu. tertarik dengan semuanya. Cara pria itu berjalan walau
terkesan angkuh, cara pria itu menatap walau terkesan meremehkan, dan cara pria
itu berbicara walau itu sama sekali tidak bisa disebut berbicara. Karena selama
Elsa mengenal pria itu, ia hanya mendengar empat kata yang keluar dari
bibirnya. –Minggir, Pergilah, Bukan, Urusanmu-
Kadang Elsa berpikir bahwa pria itu
memiliki sedikit masalah dengan kejiwaannya, atau sesuatu yang mengganggu
mentalnya. Mana ada orang yang memiliki stok kata sedikit seperti itu? Elsa
yakin, jika Eljeo mengikuti world record, ia pasti akan menjadi manusia
paling sedikit berbicara di dunia.
“Aku tahu kau menyukainya?”
“Apa?” Elsa berbalik cepat. ‘Ten..
tentu saja tidak.”
“Cih,” Vivta mendesah remeh. “Kau
harus lebih banyak belajar untuk berbohong. Bahkan kilatan matamu benar-benar
mirip kilatan kagum. Kau tahu? Aku jadi ingat saat kau pertama kali bertegur
sapa dengannya, matamu bahkan seperti mau keluar karena terpesona.”
“Berhenti bicara yang bukan-bukan.”
“Apanya yang bukan-bukan. Itu
kenyataan. Apa kau sudah lupa? Apa perlu aku menceritakannya kembali, hmm?”
Flashback on
Bukk
“Maaf,” Elsa
menunduk dalam dan berlutut untuk memungut beberapa buku-bukunya yang terjatuh
ke lantai. Astaga, apa salahnya hari ini? ia benar-benar dibuat kewalahan
dengan semua tugas yang guru berikan sebagai remedial hasil tes ujiannya
kemarin. Ia harus berlari dari perpustakaan ke kelas untuk meminjam buku
sebagai referensi, belum lagi buku yang ia pinjam bukan hanya satu atau dua.
Dan sekarang ia harus menabrak seseorang?
“Astaga, maaf,
sungguh, aku tidak sengaja. kau tidak apa-apa, kan?”
Elsa lalu kembali
berdiri, ia baru tersadar ketika matanya menatap Eljeo yang berdiri di
depannya. Dengan kedua tangan yang ia jejalkan ke dalam saku celana, mata yang
tajam, dan juga rahangnya yang tegas. Entah mengapa Elsa merasa berdebar dengan
hal itu. jantungnya seperti enggan untuk memompa perlahan dan terus
berlomba-lomba. Nafasnya juga seperti tertahan di tenggorokan, seperti ada
sesuatu yang mengganjal di saluran pernafasannya. Pria itu...
“Minggir,”
Elsa terpaksa
kembali terseret ke alam sadarnya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata dan
perlahan mulai tersenyum kikuk sambil sedikit menggeser posisinya ke samping.
Tanpa ba-bi-bu Eljeo melenggang melewati Elsa. Melewati semua keterkejutan
gadis itu.
“Sepertinya
sebentar lagi matamu akan lepas dari tampatnya.”
Elsa berbalik dan
menatap jengah pada Vivta yang mengejeknya usil. Pasti gadis kasar itu sudah
memergokinya menatap kagum Eljeo secara terang-terangan.
“Hey! Kalau kau
menyukainya, kau harus bisa melawan seluruh siswi di sekolah ini.”
“Memang apa
perduliku? Jodoh itu sudah teratur secara permanen. Jadi aku tidak perlu
repot-repot untuk membasmi para gadis centil itu kalau Eljeo memang jodohku.”
“Percaya diri
sekali, aku tidak menyebut siapa jodohmu. Dan itu, kau benar-benar mengagumi
Eljeo ternyata. Sampai berharap bahwa dia akan menjadi jodohmu.”
“Apa?” Elsa
baru tersadar akan ucapannya dan mengibaskan tangannya cepat. “Tidak, bukan itu
maksudku. Aku hanya...”
“Kau tidak bisa
mengelak lagi, Elsa.”
Flashback end
Elsa melemaskan
bahunya, tentu saja ia ingat dengan hal itu. bahkan kejadian itu sering kali
menjadi bunga tidurnya. Elsa memang bukan tipikal gadis yang mudah
menyembunyikan sesuatu. Tentang perasaannya, ia memang menyukai Eljeo, bahkan
mengaguminya. Tapi urusan cap “tempramental” yang ia berikan atas sikap dingin
Eljeo yang terbilang akut selama ini membuat Elsa harus memutar otak jika ingin
mengungkapkan gagasan perasaannya.
Dan untuk kali
ini, Elsa bahkan tak tahu apa ia harus tersenyum gembira atau mendesah
keberatan karena Eljeo diberi titah oleh Pak Agus untuk membantunya mengerjakan
soal matematika. Apa ia harus bersorak karena bisa dengan leluasa bertatapan
dengan Eljeo, atau justru menjerit karena harus berhadapan dengan kata-kata
pedas pria itu?
“Ini demi nilaimu
juga, kan?”
“Ya, demi nilaiku
juga.” Elsa seperti bernada enggan dalam ucapannya. Akhirnya ia menghela nafas
panjang dan mengambil beberapa buku catatannya, sebelum akhirnya ia
melangkahkan kaki ke meja yang terletak di sudut kelas. Di sana ada Eljeo
sedang memejamkan mata sambil bersamdar pada dinding kelas.
“Demi nilaiku,”
_o0o_
“Maaf, aku boleh
duduk di sini?”
Eljeo membuka
matanya. Badannya kembali tegak dan bersandar pada sandaran bangku. Tangannya
dengan angkuh terlipat di depan dada dan menatap Elsa dengan enggan. Tanpa
menunggu izin si pemilik, Elsa mendudukkan diri pada bangku di samping Eljeo
lalu meletakkan buku-buku catatannya di atas meja.
“Ini,” Elsa
menyodorkan buku catatannya pada Eljeo. “Bisakah kau membantuku?” Eljeo hanya
melirik Elsa dan menarik buku itu lalu membuka lembarannya. “Pak Agus bilang
kau pakarnya matematika. Jadi ia menyuruhku untuk belajar darimu.”
Eljoe sama sekali
tidak menjawab. Walau dalam hati ia sangat mengerti maksud Elsa. Baginya ia
tidak harus repot-repot untuk menjawab. Ia lalu meniti satu demi satu barisan
angka di buku yang dipegangnya lalu menuliskan jawabannya.
Elsa? Gadis itu
tetap memperhatikan semua gerakan Eljeo. Seperti terhipnotis dalam pesona Eljoe
yang bahkan terkesan mengabaikannya. Ia bahkan sempat menahan nafas ketika
dengan lincahnya Eljeo menjawab semua soal matematika yang sama sekali tidak ia
mengerti. Kegeniusan pria itu memang benar-benar nyata.
“Apa?”
Eljeo menaikkan
sebelah alisnya dan tersenyum miring. Ia bukannya tidak tahu bahwa gadis itu
terpaku melihatnya. Oh, ayolah, Eljeo tidah asing lagi dengan tatapan kagum
para gadis untuknya. Baginya itu sudah seperti asupan sehari-hari. Jadi ia
hanya perlu bersikap santai jika kembali melihat seorang gadis menatapnya
seperti itu.
“Tapi aku masih
belum mengerti. Kau bahkan sama sekali tidak menjelaskan apa-apa padaku.”
Eljeo menghela
nafasnya lalu menrik buku catatan Elsa ke tengah-tengah mereka. Mengerti akan
isyarat itu, Elsa juga ikut merapat dan memperhatikan baik-baik buku catatan
yang sekarang menjadi fokus mereka –Elsa dan Eljoe- meski jantungnya sama
sekali tidak bisa fokus pada apapun.
“Seperti ini,”
Eljeo lalu menulis secara perlahan tahap demi tahap penyelesaian salah satu
soal di buku itu.
Tidak!
Nafas Eljeo
seperti tersangkut di tenggorokannya. Menghirup aroma mint yang
menyeruak dari tubuh gadis itu bagai mengisi udara di paru-parunya. Terlaru
banyak udara yang terisi sampai sesak rasanya. Ini aneh, dari mulai ia
lahir sampai ia remaja seperti sekarang, Eljeo sama sekali anti dengan segala
sesuatu yang membuatnya seperti patung. Seperti sekarang, entah mengapa
dunianya tiba-tiba berhenti pada Elsa.
“Eljeo, aku tidak
mengerti dengan...” Elsa menghentikan kata-katanya karena menyadari Eljeo yang
menatapnya dalam, terlalu dalam. Ia bahkan sempat bingung karena manik mata
pria itu yang sama sekali enggan untuk lepas dari wajahnya.
Oh Tuhan, berhenti menatapku seperti itu...
Hati Elsa memanas dan naik ke
wajahnya. Ia yakin sekarang pipinya sudah memerah.
“Dasar payah,”
“Apa?”
Eljeo menarik
cepat tangan Elsa untuk mendekatkan jarak mereka dan meraih pensil di samping
buku. ”Perhatikan baik-baik.” Eljeo lalu menuliskan kembali cara-cara
mengerjakan soal.
Kenapa
tiba-tiba seperti ini? Elsa sedikit melirik tangannya yang terpaut erat
pada tangan Eljoe. Lalu tatapannya kembali pada wajah tampan Eljeo dan
tersenyum tipis.
“Jangan menatapku seperti
itu, kau terlihat seperti harimau yang kelaparan.”
“Hebat,” bukannya
kesal, Elsa justru bertepuk tangan ringan dan tersenyum lebar. “Baru kali ini
aku mendengarmu bicara sebanyak itu.”
Eljeo melemparkan
tatapan tajamnya dan berhasil membuat Elsa bungkam seketika. Tak perlu lagi
berlama-lama dengan gadis itu, Eljeo berdiri dari bangkunya dan berjalan keluar
kelas. Sejenak ia berhenti di ambang pintu dan tersenyum kecil. Baru kali ini
ia merasa begitu lucu melihat ekspresi seseorang.
_o0o_
“Bagaimana?”
“Bagaimana
apanya?”
“Apalagi, tentu
saja pertemuanmu dengan Eljeo.”
“Hah...” Elsa
menghela nafasnya sejenak lalu menatap Vivta jengkel. “Memangnya kau tidak
melihatnya? Ia memang mengajariku cara mengerjakan soal, tapi setelah itu dia
malah pergi begitu saja. Apa dimatanya aku ini makhluk yang tembus pandang?”
Vivta tertawa
keras sambil memegang perutnya. Beberapa siswa lain yang juga sedang berjalan
di lapangan sekolah menuju gerbang –karena sudah waktunya para siswa untuk
kembali ke rumah masing-masing- ikut menoleh dan berbisik heran. “Hanya itu
saja?” Elsa kembali terkekeh, “Aku yakin terjadi sesuatu selain itu. kalau aku
tidak salah, aku melihatmu sedang tersipu sampai pipimu memerah. Katakan
padaku, apa Eljeo melakukan sesuatu seperti...”
“Apa? Hah?” Elsa
naik pitam sekaligus malu. Tentu saja, ia tertangkap basah tersipu malu di
samping pria itu. Tunggu, apa mungkin Eljeo juga menyadari pipinya yang
memerah? Astaga! Elsa semakin terhenyak karena tepat di samping gerbang Eljeo
sedang berdiri sambil memperhatikannya. Memperhatikannya? Elsa cepat-cepat
merapikan tatanan rambutnya yang sudah tak berbentuk, ia juga merapikan
seragamnya yang sudah mulai kusut, wajahnya? Elsa panik. Apa yang akan ia lakukan
dengan wajah seseram ini? penuh keringat dan juga minyak.
Aku tidak siap bertemu denganmu dengan penampilan seburuk ini,
Eljeo...
Elsa semakin
mendekat pada Vivta dengan wajah yang ia sembunyikan di balik bahu Vivta.
Maklum, tinggi badan Elsa memang tak seberaba.
“Kenapa?”
“Ssstt... jangan
berisik.” Elsa mendesis panik sambil sesekali melirik Eljeo yang masih saja
memperhatikannya. Elsa dan Vivta mulai mendekati gerbang dan terus berjalan,
hingga mereka berdua -Vivta dan Elsa- sampai di gerbang, Elsa menahan nafasnya
sejenak, semoga saja Eljeo tidak melihatnya...
Dasar bodoh!
Bahkan pria itu sudah memperhatikannya sejak tadi. Elsa sedikit terheran.
Bahkan ketika ia sudah jelas-jelas melewati gerbang ia sama sekali tidak
melihat reaksi apapun dari Eljeo. Tunggu, tunggu, kenapa sekarang jadi ia yang
berharap?
Elsa tak berani
menoleh ke belakang. Walau hatinya merasa sedikit... kecewa.
“Ada apa sih?”
“Tidak,” Elsa
menggeleng lesu. “Tidak ada apa-apa.”
Srett
Elsa tercekat. Tangannya tiba-tiba ditarik seseorang dan...
“Eljeo,”
To be continue...
Gimana? Seru nggak? Atau malah ceritanya berantakan dan nggak
jelas? Maaf yaa... ini soalnya masih amatiran. Hehe
Mohon kommentnya,,,, biar bisa koreksi diri juga, ini Cuma dua part
kok. Post yg ke dua udah end,
Makasih ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar