Kamis, 21 Agustus 2014

Kamu...





KAMU

Ku sadari mungkin ini suratan takdirku
Kau dan aku tak mungkin bersatu

Hana kembali termenung dalam diamnya. Hari semakin mendung membuat suasana disekitar jangkauannya semakin menjauh. Rintik demi rintik tetesan hujan mulai menyentuh tangan mungilnya. Kepala gadis itu mendongak, mencoba mengamati satu-persatu air langit yang turun dengan anggunnya. Bibir tipisnya tersenyum getir menyadari bahwa langit sangat jauh dari jarak jangkauannya. Sejauh mata memandang, selihai lidah berucap, seberat hati memohon, langit tak akan dengan mudah menghampirinya bahkan menatapnya. Memangnya ia siapa, seorang bidadari? Sampai-sampai langit harus menatapnya.
            “Hah...” Hana kembali menghela nafas. Otaknya kembali mencerna satu kenyataan yang membuatnya remuk, hancur, dan terjatuh. Kenyataan bahwa mungkin takdir bukan hanya miliknya, bukan hanya untuknya. Seperti air dan api, seperti siang dan malam, seperti takdir dan keinginan. Mereka tak akan bisa bersatu. Ketika keinginan Hana adalah untuk bersatu, maka takdir akan mengadu. Bahwa terkadang takdir bukan hanya mengucap kata bersama, tapi juga berpisah.

Walau hati terus menangis
Tak ku sesali semua yang telah terjadi
 
Mata hazel gadis itu mulai berkaca-kaca. Perlahan menuntun tetesan air mata yang meluncur bebas dari kedua matanya. Otaknya dengan paksa menyeret ingatan Hana tentang kepingan kenangan yang sempat terlukis indah di dalam hatinya. Kala itu, Hana sedang bermain-main disebuah taman kota di dekat danau. Kakinya terayun bebas saat ayunan yang ia duduki mulai melayang bebas di udara.
Pluk
“Aww” ringis Hana tertahan. Mata hazelnya dengan cepat menatap sinis sosok pria tinggi yang tengah berdiri di hadapannya dengan sebuah buku di tangannya.
“Alvin! Kamu itu anak akselerasi, apa kamu nggak bisa bedain mana kepala, mana gendang?” ucap Hana sambil mengusap kepalanya. Pria yang dipanggil Alvin itu hanya tertawa pelan dan menggedikkan bahu “Menurutmu?”
Hana kembali mendengus gusar. Terkadang ia harus banyak bersabar menghadapi tingkah dingin sahabatnya itu. “Menurutku, gelar akselerasi yang kamu sandang itu cuma priorotas, padahal aslinya, beuh... lebih buruk dari kata idiot.” Alvin kembali tersenyum tipis mendengar ocehan sahabatnya. Dengan perlahan ia mulai berlutut di hadapan Hana.
“Han, ada yang mau aku omongin,”
“Apa?”
“Aku... udah jadian sama Tifanny.”

Kubiarkan waktu menemani
Hati yang dirundung sepi

            Hana kembali menjerit dalam tangisnya. Menyisakan isakan-isakan pilu yang keluar dari bibir tipisnya. Sakit, amat terasa sakit. Bahkan ia sendiri tak menyangka bahwa kata itu yang akan ia dengar dari sahabat tercintanya. Sahabat yang ia cintai.
            Siapa yang tak mengenal Tifanny?. Gadis tinggi, anggun, dan juga pintar yang berhasil memikat setiap pria bahkan pada pandangan pertama. Termasuk sahabatnya.
            Dan sekarang kemungkinan terburuk yang sempat ia pikirkan telah terjadi. Tinggal-lah ai sendiri. Tanpa candaan sahabatnya, tanpa senyum sahabatnya, tanpa kehadiran Alvin. Kupu-kupu yang sejak dulu ia kagumi, kini sudah hinggap dibunga yang lain. Dia, sudah terlambat.

Maafkan kejujuranku walau menyakitkan
Dan mungkin takkan bisa ku lupakan hingga akhir nanti

“Kamu, jadian sama Tifanny?” tanya Hana dengan mata melebar. Jantungnya terpacu cepat, darahnya berdesir hebat, tidak mungkin...
“Hmm,” Alvin mengangguk pasti. “Sejak kemarin.”
Hana tertohok. Dunia disekitarnya serasa mengecil dan menghimpitnya. Menyesakkan. “T.. tapi...“
“Alvin!” Hana dan Alvin sontak menoleh ke sumber suara. Menampilkan sosok wanita manis dengan senyum indah dan tangan yang melambai lembut memberikan salam hangat,  Alvin juga ikut melambai. Sepersekian detik berikutnya ia kembali menolehkan wajah menghadap Hana.
“Wajah kamu pucat, kamu sakit?” tanya Alvin khawatir dan meletakkan telapak tangannya di atas dahi Hana. Memastikan tubuh gadis itu baik-baik saja.
“Vin,” ucap Hana sembari menatap lurus mata onyx Alvin.  
“Aku, aku sayang kamu.” Kata Hana dengan nada bergetar hebat. Mati-matian gadis itu menahan laju air matanya. Tidak! Ia tidak boleh menangis.
“Aku tahu”, sahut Alvin. “Karena itu kamu mau jadi sahabatku. Menemaniku, memelukku ketika aku terjatuh, tersenyum ketika aku bahagia, dan mendukung semua yang aku lakukan”            
“Sampai kapanpun, kamu akan menjadi sahabat terbaikku. Hana, you’re my best freind.” ucap Alvin sambil mengcak lebut rambut Hana.

Ku lepaskan cinta ini
Ku rela berkorban

Hana tercengang, Tapi kemudian ia tersenyum. Tangannya mulai terangkat dan menggengan tangan kekar sahabatnya. “Aku percaya sama kamu Vin. Jaga dia baik-baik, jangan pernah nyakitin hatinya sedikitpun.”
“Aku janji,”
Alvin mulai bangkit dari posisinya. Tangannya melambai bebas di udara sebagai salam perpisahan untuk Hana sahabatnya. Perlahan Alvin mulai melangkah menjauh dan menghampiri seorang gadis yang menunggunya. Hana hanya  mampu tersenyum getir melihat betapa bahagianya Alvin ketika menghapiri Tifanny di seberang sana.
Sekarang ia baru sadar. Bahwa terkadang cinta bukan sekedar memiliki. Karena mencintai bukan sekedar untuk dicintai.

Tak mengapa 
Namun kau harus bahagia...



 this is my firs post guys.....

comment please... ^^

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Casino of Las Vegas, NV - Mapyro
Find 수원 출장샵 the closest Casino of 남원 출장샵 Las Vegas 안동 출장샵 to Fremont Street in Las Vegas. Free parking, 3121 제주 출장샵 Fremont 안양 출장샵 St, Las Vegas.