KAMU
Ku sadari mungkin ini suratan
takdirku
Kau dan aku tak mungkin bersatu
Hana kembali termenung dalam diamnya.
Hari semakin mendung membuat suasana disekitar jangkauannya semakin menjauh.
Rintik demi rintik tetesan hujan mulai menyentuh tangan mungilnya. Kepala gadis
itu mendongak, mencoba mengamati satu-persatu air langit yang turun dengan
anggunnya. Bibir tipisnya tersenyum getir menyadari bahwa langit sangat jauh
dari jarak jangkauannya. Sejauh mata memandang, selihai lidah berucap, seberat
hati memohon, langit tak akan dengan mudah menghampirinya bahkan menatapnya.
Memangnya ia siapa, seorang bidadari? Sampai-sampai langit harus menatapnya.
“Hah...” Hana
kembali menghela nafas. Otaknya kembali mencerna satu kenyataan yang membuatnya
remuk, hancur, dan terjatuh. Kenyataan bahwa mungkin takdir bukan hanya
miliknya, bukan hanya untuknya. Seperti air dan api, seperti siang dan malam,
seperti takdir dan keinginan. Mereka tak akan bisa bersatu. Ketika keinginan
Hana adalah untuk bersatu, maka takdir akan mengadu. Bahwa terkadang takdir
bukan hanya mengucap kata bersama, tapi juga berpisah.
Walau hati terus menangis
Tak ku sesali semua yang telah terjadi
Mata hazel gadis itu mulai berkaca-kaca. Perlahan menuntun tetesan air mata yang meluncur bebas dari kedua matanya. Otaknya dengan paksa menyeret ingatan Hana tentang kepingan kenangan yang sempat terlukis indah di dalam hatinya. Kala itu, Hana sedang bermain-main disebuah taman kota di dekat danau. Kakinya terayun bebas saat ayunan yang ia duduki mulai melayang bebas di udara.
Pluk
“Aww” ringis Hana tertahan. Mata hazelnya
dengan cepat menatap sinis sosok pria tinggi yang tengah berdiri di hadapannya
dengan sebuah buku di tangannya.
“Alvin! Kamu itu anak akselerasi, apa
kamu nggak bisa bedain mana kepala, mana gendang?” ucap Hana sambil mengusap
kepalanya. Pria yang dipanggil Alvin itu hanya tertawa pelan dan menggedikkan
bahu “Menurutmu?”
Hana kembali mendengus gusar.
Terkadang ia harus banyak bersabar menghadapi tingkah dingin sahabatnya itu. “Menurutku,
gelar akselerasi yang kamu sandang itu cuma priorotas, padahal aslinya, beuh...
lebih buruk dari kata idiot.” Alvin kembali tersenyum tipis mendengar ocehan
sahabatnya. Dengan perlahan ia mulai berlutut di hadapan Hana.
“Han, ada yang mau aku omongin,”
“Apa?”
“Aku... udah jadian sama Tifanny.”
Kubiarkan waktu
menemani
Hati yang dirundung sepi
Hana kembali
menjerit dalam tangisnya. Menyisakan isakan-isakan pilu yang keluar dari bibir
tipisnya. Sakit, amat terasa sakit. Bahkan ia sendiri tak menyangka bahwa kata
itu yang akan ia dengar dari sahabat tercintanya. Sahabat yang ia cintai.
Siapa yang
tak mengenal Tifanny?. Gadis tinggi, anggun, dan juga pintar yang berhasil
memikat setiap pria bahkan pada pandangan pertama. Termasuk sahabatnya.
Dan sekarang
kemungkinan terburuk yang sempat ia pikirkan telah terjadi. Tinggal-lah ai
sendiri. Tanpa candaan sahabatnya, tanpa senyum sahabatnya, tanpa kehadiran
Alvin. Kupu-kupu yang sejak dulu ia kagumi, kini sudah hinggap dibunga yang
lain. Dia, sudah terlambat.
Maafkan kejujuranku
walau menyakitkan
Dan mungkin
takkan bisa ku lupakan hingga akhir nanti
“Kamu, jadian sama Tifanny?” tanya
Hana dengan mata melebar. Jantungnya terpacu cepat, darahnya berdesir hebat,
tidak mungkin...
“Hmm,” Alvin mengangguk pasti. “Sejak
kemarin.”
Hana tertohok. Dunia disekitarnya
serasa mengecil dan menghimpitnya. Menyesakkan. “T.. tapi...“
“Alvin!” Hana dan Alvin sontak
menoleh ke sumber suara. Menampilkan sosok wanita manis dengan senyum indah dan
tangan yang melambai lembut memberikan salam hangat, Alvin juga ikut melambai. Sepersekian detik
berikutnya ia kembali menolehkan wajah menghadap Hana.
“Wajah kamu pucat, kamu sakit?” tanya
Alvin khawatir dan meletakkan telapak tangannya di atas dahi Hana. Memastikan
tubuh gadis itu baik-baik saja.
“Vin,” ucap Hana sembari menatap
lurus mata onyx Alvin.
“Aku, aku sayang kamu.” Kata Hana
dengan nada bergetar hebat. Mati-matian gadis itu menahan laju air matanya.
Tidak! Ia tidak boleh menangis.
“Aku tahu”, sahut Alvin. “Karena itu
kamu mau jadi sahabatku. Menemaniku, memelukku ketika aku terjatuh, tersenyum
ketika aku bahagia, dan mendukung semua yang aku lakukan”
“Sampai kapanpun, kamu akan menjadi
sahabat terbaikku. Hana, you’re my best freind.” ucap Alvin sambil
mengcak lebut rambut Hana.
Ku lepaskan cinta
ini
Ku rela
berkorban
Hana tercengang, Tapi kemudian ia
tersenyum. Tangannya mulai terangkat dan menggengan tangan kekar sahabatnya. “Aku
percaya sama kamu Vin. Jaga dia baik-baik, jangan pernah nyakitin hatinya
sedikitpun.”
“Aku janji,”
Alvin mulai bangkit dari posisinya.
Tangannya melambai bebas di udara sebagai salam perpisahan untuk Hana
sahabatnya. Perlahan Alvin mulai melangkah menjauh dan menghampiri seorang
gadis yang menunggunya. Hana hanya mampu
tersenyum getir melihat betapa bahagianya Alvin ketika menghapiri Tifanny di
seberang sana.
Sekarang ia baru sadar. Bahwa
terkadang cinta bukan sekedar memiliki. Karena mencintai bukan sekedar untuk
dicintai.
Tak mengapa
Namun kau harus bahagia...
this is my firs post guys.....
comment please... ^^

1 komentar:
Casino of Las Vegas, NV - Mapyro
Find 수원 출장샵 the closest Casino of 남원 출장샵 Las Vegas 안동 출장샵 to Fremont Street in Las Vegas. Free parking, 3121 제주 출장샵 Fremont 안양 출장샵 St, Las Vegas.
Posting Komentar