Change
Kau begitu bersinar hingga mustahil bagiku untuk bisa memilikimu
“Kau dari mana saja? Apa di restoranmu itu tidak ada jam?”
So-Eun berhenti dengan nafas pendek-pendek. Ia memegang dadanya dan
sedikit menelan ludah susah payah. Ia paham dengan ekspresi datar Kyu-Hyun yang
sedikit membuat jantungnya berdebar hebat. Astaga... apa ia telah melakukan
kesalahan lagi?
“Tentu saja, bodoh!” seakan mengerti dengan jalan pikiran So-Eun,
Kyu-Hyun kembali berujar dengan nada mendesis. Ia sama sekali benci jika waktu
sepuluh menitnya terbuang begitu saja hanya untuk menunggu gadis lelet seperti
So-Eun. Padahal gadis itu yang tempo lalu memohon dengan sangat padanya untuk
bertemu pada waktu yang mereka sepakati. Lihat sekarang siapa yang justru
melanggar kesepakatan?
So-Eun melirik jam tangannya lalu kembali menatap Kyu-Hyun. “Aku
hanya terlambat sepuluh menit. Lagi pula tadi...”
“Hanya kau bilang?”
So-Eun berhenti bicara dan menatap bingung wajah Kyu-Hyun. “Kau
bisa bayangkan berapa juta won yang hilang dalam waktu sepuluh menit hanya
karena aku harus menunggumu?” Kyu-Hyun menaikkan nada suaranya satu oktaf.
Tangannya terkepal di samping tubuh dengan wajah memerah kesal.
So-Eun menunduk menyadari hal itu. Ia tidak pernah berani
bertatapan langsung dengan Kyu-Hyun jika dalam situasi seperti ini. Gadis itu
membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun kembali menutupnya saat
seseorang muncul dari balik punggung Kyu-Hyun. Menginterupsi kemarahan Kyu-Hyun
dan membuatnya terpaksa untuk berbalik.
“Eoh? Mi-Chan.” Kyu-Hyun tanpa sadar menyebut nama itu. Gadis
dengan tinggi semampai juga kaki jenjang, apalagi dengan blazzer hitam
resmi yang membalut tubuh langsingnya itu tersenyum mengetahui jika Kyu-Hyun
bisa mengenalinya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Mi-Chan tertawa pelan dengan punggung tangan yang ia letakkan di
depan mulut. Dan hal itu sedikit membuat Kyu-Hyun tertegun. Mi-Chan memang
gadis yang lembut dan anggun. “Aku kemari untuk menjemputmu sajangnim. Waktumu
sudah lebih dari sepuluh menit. Karena lima belas menit lagi kita masih ada
rapat dengan dewan direksi. Apa Anda lupa?”
Kyu-Hyun tersadar setelahnya. Ia mengangguk paham lalu bersiap
melangkah mengikuti Mi-Chan menuju mobil.
“Oppa,”
So-Eun terbelalak. Bagaimana bisa Kyu-Hyun dengan mudah berpaling
dan menjauh meninggalkannya. Cepat-cepat ia berlari mengejar Kyu-Hyun dan
menghadang langkah pria itu. “Oppa, kita masih harus bicara.”
“Ck,” Kyu-Hyun berdecak malas. “Lain kali saja. Salah siapa yang
terrlalu mengulur waktu?”
Tanpa ba-bi-bu, Kyu-Hyun kembali berjalan melewatinya. Lalu bersama
dengan Mi-Chan –yang So-Eun ketahui adalah sekertaris kesayangan Kyu-Hyun—
memasuki mobil yang terparkir tak jauh darinya lalu benar-benar menghilang di
ujung pandangan So-Eun.
So-Eun menghela nafasnya perlahan. Ia harus sabar. Ini semua juga
karena kesalahannya. Kalau bukan karena Chang-Min, pemilik restoran tempat ia
bekerja, tidak menyuruhnya untuk membuat resep baru. Ia pasti tidak akan
terlambat dan seperti ini. Untung saja ia bisa menjelaskan keinginannya bertemu
Kyu-Hyun hingga Chang-Min bersedia melepaskannya.
Dengan langkah lunglai So-Eun kembali berjalan menyusuri trotoar.
Ia akan kembali ke restoran dan melanjutkan pekerjaannya. Kalau sudah begini,
tidak ada gunanya ia mengejar Kyu-Hyun atau memohon pada pria itu untuk
memaafkannya. Pria yang sudah selama lima bulan ke belakang sepakat untuk
menjadi tunangannya.
Sepakat? Bukan perjodohan sama sekali. Mereka layaknya pasangan
yang lain. Saling mengenal lalu berkomunikasi baik. Dan akhirnya dekat dan
saling mencintai. Oh... So-Eun sepertinya sangat meragukan gagasan terakhir. Ia
ingat bagaimana air wajah Kyu-Hyun saat pertama kali So-Eun mengatakan
perasaannya. Saat itu, dengan wajah datar tanpa senyum sedikitpun Kyu-Hyun
mengangguk pelan dan menghela nafas.
Awalnya So-Eun tidak memberatkan hal itu. Karena di kampusnya dulu
Kyu-Hyun memang terkenal dengan pria yang minim ekspresi. Tapi sekarang? Ia
merasa perangai Kyu-Hyun padanya semakin menjadi-jadi. Tak sekalipun pria itu
menelepon atau mengirim pesan padanya seperti layaknya pasangan normal. Kalau
bukan karena So-Eun yang dengan segala kesabarannya menghubungi Kyu-Hyun lebih
dulu. Mungkin sampai saat ini mereka tidak tahu berapa nomor kontak satu sama
lain.
_o0o_
Tapi aku yakin masih ada jalan untuk bisa mendapatkanmu
“Kenapa? Apa hasilnya mengecewakan?”
“Tidak,” Chang-Min menggeleng pelan dan kembali menyuapkan makanan
yang So-Eun hidangkan. Suasana restoran saat ini cukup ramai meskipun jarum jam
sudah ada di angka sepuluh dan matahari sudah tak ada lagi. Tapi di ruangan itu
hanya ada mereka berdua. Chang-Min si pemilik restoran dan So-Eun si koki
restoran.
Beberapa saat yang lalu So-Eun memang menjalankan titah Chang-Min
untuk membuat resep baru pada menu restoran. Dan dengan senang hati
menghidangkannnya pada Chang-Min.
“Bagaimana? Apa pengajuanmu itu diterima oleh Kyu-Hyun?”
So-Eun menghela nafasnya seolah ia sangat lelah lalu menumpukan
kepalanya di atas meja kerja Chang-min. Chang-Min juga melakukan hal yang sama.
Dengan sengaja ia menatap So-Eun penuh harap lalu kembali berkata. “Dan aku
yakin pasti jawabannya adalah tidak.”
So-Eun balas menatap Chang-Min dengan bibir mengerucut. “Aku bahkan
tidak sempat mengatakannya.”
“Apa?” sontak Chang-Min mengangkat kembali kepalanya dengan mata
melebar. “Lalu?” tanyanya bingung.
“Kau tahu? Aku terlambat sepuluh menit karena harus membuat resep
baru yang kau minta. Dan akhirnya dia marah dan memutuskan untuk pergi bersama
sekertarisnya. Dia bilang dia masih harus rapat dan menyuruhku untuk
mengatakannya lain kali.”
“Pria itu benar-benar. Bagaimana mungkin hal sepenting itu
dikatakan lain kali! Memang siapa yang bisa menjamin kalau dilain waktu kalian
masih bisa bersama?”
“Chang-Min.” So-Eun berteriak kesal. “Jadi kau berharap hubunganku
dengan Kyu-Hyun berakhir? Hah!”
So-Eun sudah tak perduli dengan name tag direktur yang
tertera di atas meja Chang-Min. Baginya saat ini Chang-Min sama saja seperti saat
mereka SMA dulu. Menyebalkan dan berbicara seenak jidatnya.
“Ish, bisakah hobi
berteriakmu itu kau tahan? Telingaku sakit tahu!” Chang-Min mengusap telinganya
dengan ekspresi berlebihan. Tiba-tiba saja Chang-Min merasa aneh dengan wajah
So-Eun yang menegang. O-oh, apa kata-katanya berpengaruh pada So-Eun?
So-Eun mengangkat wajahnya dan menatap Chang-Min dengan panik.
”A-apa mungkin...”
“Apa?” sahut Chang-Min cepat.
So-Eun seketika menarik kursi tempat ia duduk dan mencondongkan
tubuhnya agar lebih dekat dengan Chang-Min. “Kau..” suaranya memelan begitu
saja. Membuat Chang-Min juga harus mendekatkan kepalanya demi bisa mendengar
ucapan So-Eun. “Bisa membantuku kan?”
“Kau ingin meminta bantuan macam apa?”
“Kau bilang kau berteman baik dengan Kyu-Hyun. Bahkan aku
mengenalnya juga darimu. Jadi aku yakin kau bisa membantuku dalam hal ini.”
Chang-Min berpikir sejenak. Bantuan apa yang So-Eun inginkan hingga
ekspresi wajah gadis itu begitu serius saat mengucapkannya. Setelah melalui
berbagai pertimbangan. Chang-Min akhirnya mengangguk dan disambur senyuman
riang dari So-Eun.
_o0o_
Tapi bisakah itu merubah perasaanmu?
So-Eun kembali meneliti setiap baris kalimat dalam majalah yang ia
pegang. Sesekali ia menggumamkan kalimat yang menurutnya terlalu diluar nalar
dan mengangguk seolah memakluminya. Gadis itu berhenti sejenak. Ia berdiri
menghampiri cermin setengah badan di sudut kamar lalu menatap aneh apa apapun
yang terpantul pada cermin tersebut.
“Dia sangat suka dengan wanita yang tinggi semampai.”
So-Eun kembali teringat dengan kata-kata Chang-Min beberapa hari
lalu. Dan sekarang ia sudah siap menerima apapun yang akan tertera pada coretan
tinggi badan tepat pada sisi lemarinya. Appa So-Eun memang pernah
menuliskan coretan berbentuk ukuran persenti pada salah satu dinding kamarnya
sebagai patokan tinggi badan sang putri. Dan So-Eun rasa hal itu benar-benar
berguna saat ini.
So-Eun memejamkan matanya dan memberi tanda tepat di atas puncak
kepalanya. Berharap jika memang tinggi badannya tidak terlalu mengecewakan. Ia
lalu kembali membuka mata dan menatap histeris angka yang ia dapat.
“165!” pekiknya. Wajahnya panik, dengan sekali gerakan So-Eun
kembali mematut dirinya di depan cermin dan meringis tertahan. Apakah angka itu
cukup untuk menyatakan dirinya tinggi semampai? Hah... mendengar hal itu sama
saja dengan mengejeknya. O-oh So-Eun teringat sesuatu. Majalah!
“Mana dia...” So-Eun seperti kalang-kabut membalik lembaran demi
lembaran majalah yang baru beberapa saat lalu ia baca. “Ketemu!”
Matanya menelisik tajam pada satu buah paragraf yang ada pada
halaman tersebut. “Berenang adalah salah satu cara untuk meningkatkan tinggi
badan.” Gumamnya. “Apa aku harus berenang? Berenang...” So-Eun memiringkan
kepalanya ke samping. Menimbang-nimbang apakah ia bisa melakukan hal itu atau
tidak. maklum saja, So-Eun adalah gadis yang sama sekali buta akan olahraga
jenis apapun.
“Ah..” tiba-tiba ia meraih ponselnya di atas nakas lalu menekan
beberapa tombol dan menunggu nada tunggu dengan perasaan was-was. “Ha..”
“Min-ahh.” Belum sempat Chang-Min bersuara, So-Eun dengan gaya
suara melengkingnya dengan tanpa dosa mengalir melalui satelit telepon dan menusuk
gendang telinganya. “Jinja, keu saram! Tidak bisakah berbicara dengan
suara yang lebih pelan. Bahkan tetangga di samping rumahmu mungkin juga bisa
mendengarnya.” Runtuk Chang-Min kesal.
“Min-Ahh, kau bisa berenang bukan?” bukannya menjawab So-Eun justru
kembali bertanya. Membuat Chang-Min di seberang telepon mengangkat alisnya
heran. “Tentu saja,”
“Kalau begitu kau harus mengajariku cara untuk berenang.” Sahut
So-Eun cepat. “Uhuk...”
Sungguh, Chang-Min sama sekali tidak memakan sesuatu ataupun semacamnya.
Tapi mendengar penuturan So-Eun yang begitu polos, ia justru tersedak air
liurnya sendiri. Dan sesuatu terlintas dibenaknya, “Kau benar-benar ingin
mengikuti semua itu?” tanya Chang-Min.
“Ya,” jawab So-Eun pasti. “Aku yakin dengan begini Kyu-Hyun oppa
pasti tidak akan mengabaikanku lagi.”
Tidak-tidak, Chang-Min berperang dalam hatinya.
Membayangkan bagaimana gigihnya gadis itu untuk menjadi semua kriteria yang
Kyu-Hyun idamkan berdasarkan pendapatnya. Oh... ini salahnya juga karena
menjawab pertanyaa So-Eun tempo lalu tentang tipikal idaman Kyu-Hyun.
“Kenapa kau diam? Kau mau mengajariku, kan?”
Chang-Min menggeleng kuat-kuat. Walaupun tahu bahwa So-Eun tak bisa
melihatnya. “Andwe! Kenapa kau tidak meminta Kyu-Hyun saja untuk
mengajarimu. Kyu-Hyun bahkan lebih mahir dariku.”
“Kau ini bagaimana. Aku kan ingin menjadi tipikal idamannya. Mana
mungkin aku meminta Kyu-Hyun yang mengajariku! Ayolah Min-Ahh.”
“Tidak akan. Aku tidak mau menjadi...”
“Kalau begitu aku bisa cari guru renang yang lain.”
Apa? Tiba-tiba
Chang-Min merasa panik dengan hal itu. “Tidak bukan begitu maksudku So-Eun, kau
harus...”
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon terputus seketika. “Matilah kau, Chang-Min!”
_o0o_
Atau kau hanya terbawa suasana?
Untuk kesekian kalinya Kyu-Hyun mendengus gusar karena lengkingan ringtone
ponselnya yang terus saja berdering layaknya alarm. Ia masih sangat sibuk,
sungguh. Dan dengan alasan itu akhirnya Kyu-Hyun meraih ponselnya lalu
melepaskan baterai ponsel tersebut. Tanpa perlu repot-repot melihat siapa orang
yang dengan lancang menghubunginya di waktu sibuk seperti ini.
Fokus pria itu kembali kepada laptop di depannya. Memeriksa
bagaimana keadaan saham atau semua aset perusahaan yang ia naungi. Ya, Kyu-Hyun
adalah salah satu dari beberapa orang yang terlalu menggilai pekerjaan.
“Sajangnim,”
Kyu-Hyun mengangkat wajahnya. Melihat sang sekertaris yang sudah
berdiri di ambang pintu ruangan dengan telepon genggam ditangann gadis itu.
“Masuk saja,” gumamnya.
Mi-Chan melangkah pasti memasuki ruangan dan berdiri tepat di depan
meja Kyu-Hyun. Lalu mengulurkan apa yang ada ditangannya. “Ada seseorang yang
ingin bicara denganmu.”
Jinja! Kyu-Hyun kali
ini benar-benar meruntuk kesal. Dengan gerakan cepat ia meraih telepon genggam
yang diberikan Mi-Chan. “Satu menit, jika yang ingin kau sampaikan bukanlah hal
yang penting, maka lupakan saja!”
“Apa hobi kekasihmu yang suka berteriak juga menular padamu? Dan
kenapa kau tidak mengangkat teleponku.” ucap lawan bicaranya ditelepon. Apa
maksudnya itu? Dan Kyu-Hyun bisa memastikan bahwa itu adalah Chang-Min. Teman
seperkuliahannya dulu yang benar-benar menyusahkan.
“Aku sedang sibuk Min-Ahh. Ada apa meneleponku?”
Terdengar helaan nafas Chang-Min di seberang telepon. “Kau tahu?
So-Eun...” entah mengapa Chang-Min jadi ragu mengatakannya. Apa mungkin ia
mengatakan pada Kyu-Hyun bahwa sekarang So-Eun sedang belajar berenang dengan
seorang pria berbadan kekar? Jika ia mengatakannya, sama saja ia telah
menghancurkan usaha So-Eun untuk menjadi tipikal idaman Kyu-Hyun. Lalu apa yang
akan terjadi jika ia tidak memberitahu Kyu-Hyun? Yang ada dia akan dijadikan...
“Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi. Aku tutup!”
“Kyu...”
Tut.. tuutt... tuutt...
Mi-Chan menatap heran pada Sajangnim-nya yang terlihat
sangat kesal. Lalu ia kembali mengambil telepon genggam yang Kyu-Hyun letakkan
begitu saja di atas meja. Mi-Chan sudah siap membuka mulutnya bermaksud
bertanya. Namun ia urungkan kembali. Melihat Kyu-Hyun dengan ekspresi seserius
itu, Mi-Chan hanya bisa menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat lalu keluar
dari ruangan.
_o0o_
Jika aku berusaha untuk menjadi yang kau inginkan
“Seperti ini,”
Pria yang So-Eun ketahui bernama Si-Won itu. Terus saja memberikan
instruksi tentang apa saja yang harus ia lakukan. Mulai dari merentangkan
tangan sampai mengepakkan kaki, ternyata berenang tidak semudah kedengarannya.
Kuku So-Eun juga sudah mulai memutih, juga ujung jari-jarinya yang mengeriput.
Suhu air kolam renang sudah mulai membuat tubuh kecilnya kedinginan.
Tapi ia tidak boleh menyerah begitu saja bukan?
“So-Eun, kukira lebih baik sampai di sini saja untuk hari ini.
Lihat, wajahmu juga mulai pucat.” So-Eun menggeleng tanda menyangkal pendapat
Si-Won. “Aku tidak apa-apa, kita lanjutkan saja. Ayo, tunjukkan padaku, gaya
apalagi yang harus aku praktikkan?”
Si-Won mengehela nafasnya sejenak. Lalu mata sipitnya beralih pada
sosok pria yang berdiri tak jauh dari kolam renang tempatnya dan So-Eun
sekarang. Dua pria itu saling beradu pandang seakan mencari solusi melalui
telepati.
Hal itu membuat Chang-Min pusing setengah mati. Apa yang harus ia
lakukan sekarang? ia tahu betul So-Eun bukanlah tipikal gadis yang mudah
mendengarkan nasihat orang lain yang berlawanan dengan keinginannya. Atau
membiarkan gadis itu untuk terus belajar berenang juga bukan pilihan yang baik.
Chang-Min bergidik jika mengingat bagaimana kostum So-Eun saat ini. Memang
tidak vulgar seperti kebanyakan pakaian renang. Tapi jika hanya dengan
menggunakan kaos pas badan juga celana pendeknya, So-Eun tetap terlihat lebih
“Terbuka” dari biasanya. Apalagi ia didampingi dengan seorang pria berbadan
ideal yang memperlihatkan lekuk otot-otot kekarnya.
Chang-Min sempat terkejut saat So-Eun memberitahunya bahwa gadis
itu akan mencari orang lain untuk mengajarinya berenang. Dan ha itu benar-benar
membuat jantungnya seperti lompat ke tenggorokannya saat tahu orang yang So-Eun
pilih untuk mengajarinya adalah Si-Won. Atlet renang paling terkenal di
Korea karena Skill dan wajahnya yang menakjubkan.
“Aku saja risih melihatnya. Lalu bagaimana dengan Kyu-Hyun?”
Chang-Min meringis dalam hati. Tiba-tiba matanya melebar menyadari
seseorang berjalan dan melewati bahunya lalu berhenti tepat di pinggir kolom
renang. Bahkan melihat dari bentuk postur tubuh pria itu dari belakang saja,
Chang-Min sudah bisa memastikan seratus persen, tidak, seribu persen jika itu
Kyu-Hyun.
Mati kau Chang-Min! Ia
ingin sekali lenyap dari tempat ia berdiri sekarang. Atau jika Tuhan dengan
berbaik hati mau menghilangkannya seperti di telan bumi atau semacamnya. Yang
jelas ia ingin pergi sekarang juga!
Bisa bayangkan bagaimana cara Kyu-Hyun meluapkan amarahnya? Lebih
brutal dari seorang Yakuza sekalipun. Jadi apa keputusannya sekarang?
tetap di sini menunggu apa yang akan Kyu-Hyun lakukan. Atau diam-diam pergi dan
menganggap bahwa ia sama sekali tidak terlibat dalam hal ini.
Belum sempat Chang-Min mengambil satu langkah. Nafasnya tercekat.
_o0o_
Akankah kau menatapku, sejenak saja
Kyu-Hyun menginjak pedal gas lebih dalam. Memicu kecepatan Audy
yang ia kendarai pada angka maksimal. Otaknya berputar-putar dan entah untuk
alasan apa hatinya memanas. Sejak ia mendengar Chang-Min menggumamkan nama
So-Eun di telepon beberapa jam yang lalu. Ia sama sekali tidak bisa tenang. Dan
ia memutuskan untuk menghubungi nomor gadis itu namun sama sekali tak ada
jawaban. Pilihan terakhirnya adalah rumah gadis itu.
Dan apa yang ia dapatkan?
Eomma So-Eun
mengatakan bahwa So-Eun sedang pergi keluar untuk belajar berenang dengan... Shit!
Umpatnya dalam hati. Mendengar namanya saja sudah membuat gelenyar dalam
tubuh Kyu-Hyun semakin kuat.
Ia tahu persis bagaimana kronologis pengajaran olahraga air itu.
Harus ada setidaknya beberapa bagian tubuh yang sengaja “Disentuh” untuk bisa
mengajarkan gerakan renang. Entah itu tangan, kaki, atau...
“Aku akn membunuh siapapun yang berani menyentuhnya sembarangan.”
Matanya memicing cepat melihat satu spanduk bertulis “Sweet
Swimming Pool” Di pinggir jalan dan dengan cepat memarkirkan mobilnya
sembarangan di sana. Persetan tentang peraturan lalu lintas!
Sapaam sang penjaga meja resepsionis tak ia hiraukan.
Walaupun saat ini kondisinya yng mecolok –dengan jas resmi dan juga berdasi—
membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya berbisik heran. Apa yang
sedang dilakukan orang berpakaian formal seperti itu di tempat berenang?
Kyu-Hyun terus melangkahkan kakinya sampai ia menemukan kolom
renang terkutuk itu. Sekali lagi matanya memicing tak suka. Lihat bukan?
Bagaimana keadaan orang-orang di tempat ini? sosok Chang-Min muncul dalam pandangannya.
Dan detik berikutnya Kyu-Hyun menemukan dua orang manusia di pinggir kolam yang
sedang...
Sialan!
Langkahnya melebar lalu berhenti tepat di pinggir kolam renang.
Membuat dua orang manusia yang ada di bawah kakinya mendongak dan terkejut.
Amarah Kyu-Hyun bagai mendidih ke ubun-ubun. Seluruh badannya panas dan juga
meletup-letup. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa semarah ini.
“Naik,” ucapnya dengan nada rendah dan pelan. Terdengar begitu
menusuk di telinga So-Eun. Dengan gugup So-Eun menelan ludahnya lalu berusaha
untuk menormalkan suaranya agar tidak terdengar bergetar. Melihat picingan mata
Kyu-Hyun yang seperti itu, siapa yang tidak gelisah?
“A-aku..”
“Kau mau aku membunuhnya di sini?” nada suaranya tetap tidak
berubah namun pandangannya beralih pada seorang pria di samping So-Eun. Rasanya
tangan Kyu-Hyun gatal sekali uttuk menghajar pria itu sampai babak belur. Pria
itu ingin pamer otot atau apa?
Si-Won yang sadar dengan keadaan yang begitu tegang sedikit
berdeham merileksasikan diri. “Biar aku jelaskan. Aku dengan So-Eun tidak
bermaksud...”
“Aku tidak sedang berbicara denganmu.” Potong Kyu-Hyun cepat. Apa
sih yang unggul dari pria itu dibandingkan dirinya? Ototnya? Wajahnya? Kyu-Hyun
yakin dari sudut manapun ia masih tetap “Lebih” daripada pria yang sekarang ada
di samping So-Eun.
Sementara So-Eun semakin merasa gelisah. Hatinya yang berdebar
takut karena tatapan Kyu-Hyun, ketidaknyamanannya pada Si-Won, dan juga
tubuhnya yang menggigil kedinginan. Dan otak So-Eun memutuskan untuk naik dari
kolam renang terlebih dahulu. Gadis itu menumpukan tangannya pada pembatas
pinggir kolam lalu mencoba untuk mengangkat tubuhnya. Satu kali mencoba dan
hasilnya gagal. Lagi, So-Eun menumpukan tangannya pada pembatas kolam dan
mencoba mengangkat tubuhnya kembali. Namun Reflek Kyu-Hyun lebih tajam kali
ini. Melihat So-Eun yang kesulitan untuk naik ke atas kolam membuat Si-Won
bermaksud untuk membantunya. Dan Kyu-Hyun bergerak lebih cepat agar si “Pria
berotot” itu sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menyentuh tubuh So-Eun
sedikitpun.
Ia berlutut di depan So-Eun lalu memegang kedua lengan atas gadis
itu. Hanya dengan satu tarikan ia berhasil menarik So-Eun keluar dari kolam.
So-Eun kini sudah berdiri di hadapannya. Dengan tubuh basah kuyup bahkan
sedikit bergetar. Oh, apa gadis itu menggigil?
Tatapannya kembali pada Si-Won dengan pandangan meremehkan. Juga
senyum satu sudut yang ia tunjukkan membuat Si-Won semakin tersudut keadaan.
Apa sekarang ia terlihat seperti orang ketiga dalam suatu hubungan?
“Ayo,” ucap Kyu-Hyun. Tangannya ia lingkarkan pada bahu kecil
So-Eun dan membimbingnya menuju salah satu ruang ganti di sudut ruangan. Tanpa perduli
tentang Si-Won dan Chang-Min yang terperangah, atau semua orang di sana yang
entah sejak kapan memusatkan perhatian mereka pada So-Eun dan Kyu-Hyun.
_o0o_
Padaku, Pada cinta tulusku
“Oppa,” So-Eun mengecilkan volume suaranya. Sedikit mencoba
mencairkan suasan antara ia dan Kyu-Hyun. Sejak tiga puluh menit yang lalu
Kyu-Hyun melajukan Audynya, sama sekali tak ada kalimat yang keluar dari
pria itu. Mereka hanya saling diam dan menatap keluar jendela mobil dengan
perasaan masing-masing. So-Eun sama sekali tak bisa mendeskripsikan bagimana
perasaan Kyu-Hyun saat ini. Baru saja tadi So-Eun sempat melayang karena sikap
Kyu-Hyun yang begitu memperdulikannya. Dan sekarang pria itu sudah kembali
kepada sikap asalnya. Dingin dan datar.
Akhirnya mereka sampai tepat di depan gerbang rumah So-Eun. So-Eun
melepas Seat belt yang menahan tubuhnya lalu meraih tombol pintu.
Bermaksud untuk membuka pintu mobil dan keluar. Namun tiba-tiba saja sesuatu
mendesak So-Eun. Membuat hatinya bergejolak dan ia kembali berbalik menghadap
Kyu-Hyun.
“Oppa,” kali in Kyu-Hyun menoleh padanya. So-Eun menarik
nafasnya dalam-dalam. Mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan apa yang mendesak
hatinya saat ini.
“Mungkinkah...” So-Eun berhenti sejenak. “Kalau kita...”
“Ini sudah malam So-Eun. Apa yang ingin kau katakan?”
So-Eun merasa jantungnya benar-benar melompat. Melihat tatapan
Kyu-Hyun yang fokus pada lensanya. Jangan! Jangan tunjukkan tatapan seperti itu
dan membuat tekadnya goyah...
“Kita putus saja.” Suaranya mengecil bahkan hampir seperti gumaman.
Tapi hal itu sangat jelas terdengar oleh Kyu-Hyun.
“Kukira kita benar-benar tidak cocok. Aku sudah tahu semuanya dari
Chang-Min. Aku...” So-Eun mulai kehilangan suaranya. Seperti ada sesuatu di
balik pelupuk matanya yang ingn keluar. “Aku sama sekali tak sesuai dengan apa
yang kau inginkan. Kau suka dengan wanita yang berkaki jenjang sementara kakiku
bahkan hampir mirip dengan besi penyangga tempat tidur. Kau juga suka dengan
gadis tinggi semampai sementara tinggi
badanku tidak lebih dari 165. Kau suka dengan gadis yang...”
“Coba katakan lagi. Maka aku akan benar-benar mencari gadis lain.”
_o0o_
Hingga pada akhirnya kau mengerti
Seperti ada sesuatu yang menghantam hatinya sampai sudut terdalam.
Dan gigitan-gigitan kecil pada setiap jengkal tubuhnya membuat amarah Kyu-Hyun
kembali tersulut. Kepalanya pening, sungguh. Di saat seperti ini, di saat ia
merasa khawatir atas keadaan So-Eun yang mulai menggigil. Gadis itu justru
mengatakan ingin berpisah?
Tatapan lurusnya jatuh pada lensa pekat So-Eun. Ia tahu So-Eun
sudah berkaca-kaca dan siap untuk menangis. Dan hal itu membuat Kyu-Hyun
semakin merasa sesak. Belum ada yang berani bersuara. So-Eun masih berusaha
meresakan isakannya dan Kyu-Hyun mash berusaha meredam amarahnya.
“Baik, kita putus.” Ucap Kyu-Hyun tegas. So-Eun melebrkan matanya
seketika. “K-kau... sungguh ingin kita putus?” So-Eun tergagap dengan air
matanya yang semakin deras.
“Ya, tapi nanti setelah aku mati. Jadi kalau kau ingin putus
denganku, kau harus membunuhku dulu. Kau sanggup?” So-Eun menggeleng kuat-kuat.
Apa ia gila membunuh Kyu-Hyun hanya untuk putus dari pria itu? lagipula tidak
ada satu bagianpun dalam tubuhnya yang sanggup melakukan hal gila itu.
Kyu-Hyun tersenyum. senyum tipis yang membuat hati So-Eun
menghangat melihatnya. “So, don’t ever to say like that anymore.”
Katanya, “Dan jangan pernah berharap hal itu akan terjadi, Arasseo?”
So-Eun mengangguk dengan hati merana. Bingung, heran, bahagia...
Tanpa menunggu hal apapun Kyu-Hyun meraih bahu So-Eun dan menarik
gadis itu dekat dengan tubuhnya lalu memeluknya. “Kau memang jauh dari tipikal
idelku. Pendek, cerewet, kekanak-kanakan.” Dagunya ia sandarkan pada bahu
So-Eun lalu kembali tersenyum. “Tapi aku bisa lebih dari gila jika
kehilanganmu.”
“Apa kau menyukaiku, Oppa?”
Kyu-Hyun terkekeh mendengarnya. “Kau ini, apa hanya itu yang kau
pikirkan?”
So-Eun dengan cepat melepaskan pelukannya lalu merengut sebal.
“Jadi untuk apa menolak putus denganku kalau bukan karena kau menyukaiku?”
“Karena...” Kyu-Hyun seperti berpikir sejenak. “Aku bukan apa-apa
tanpamu.”
Ini sungguh, bukan hanya sekedar kalimat semata yang selalu ada di
televisi atau semacamnya. Kyu-Hyun benar-benar merasakan hal itu. mungkin
sikapnya yang terlalu terlewat batas saat bersama So-Eun membuat gadis itu
berpikir yang jauh lebih buruk dari kenyataannya. Melihat gadisnya disentuh
pria lain saja sudah membuatnya ingin mencincang-cincang pria itu. Lalu apa
maksudnya dengan kata berpisah yang So-Eun katakan? Lebih baik ia mati saja.
Ah, tentang pria itu...
“Tapi apa yang kau lakukan dengan pria itu?”
“Pria? Pria yang mana?”
“Ck,” Kyu-Hyun berdecak sebal. “Yang tadi mengajarimu berenang.
Hey! Jika kau ingin belajar berenang, kenapa tidak memintaku untuk mengajarimu?
Kau tahu aku sangat mahir dalam hal itu.”
“Mana mungkin aku memintamu untuk mengajariku, sementara aku
melakukannya untukmu.”
“Apa?” Kyu-Hyun menoleh cepat. “Untukku? Apa maksudnya?”
“Emm...” So-Eun menunduk menyembunyikan wajah malunya. Oh, apakah
ia harus mengatakannya pada Kyu-Hyun?
Kyu-Hyun tersenyum dalam hati. Melihat So-Eun dengan pipi memerah seperti
itu membuatnya gemas saja. Terlihat semakin manis dan cantik.
“Aku melakukannya untuk menambah tinggi badanku. Chang-Min bilang
kau suka dengan gadis tinggi. Jadi aku berusaha untuk menjadi tinggi.”
Astaga... hal itu benar-benar diluar dugaannya. So-Eun berusaha
berenang hanya untuk.. “Aku mencintaimu.” Kyu-Hyun berkata dengan nada selembut
mungkin. Dan tak ada reaksi apapun dari So-Eun. Gadis itu hanya melebarkan
matanya dengan mulut terbuka. Aish, jinja! Katupkan kembali mulutmu itu
So-Eun, jika tidak mau aku yang melakukannya!
“K-Kau...”
Suara So-Eun bagai menguap begitu saja. Apa yang terjadi sekarang?
Apa ini hanya mimpi? “Kau tidak perlu menjadi tipikal idealku, dear. Kau
sudah lebih dari sempurna bagiku.”
So-Eun hampir terbahak mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar
Kyu-Hyun mengatakan hal romantis seperti itu. Sangat jauh dari gaya pria itu
yang dingin dan cuek.
“Jadi berhenti meminta orang lain untuk melakukan hal seperti itu.
Sampai matipun aku tak akan sudi jika ada orang lain yang menyentuhmu selain
aku!” ucapnya dengan nada final.
So-Eun tersenyum dan kembali memeluk Kyu-Hyun. Meluapkan perasaan
bahagiannya pada dekapan hangat pria itu. “Aku juga mencintaimu, Oppa.”
Katanya tak kalah lembut.
Rasanya tenang sekali menghirup aroma So-Eun sedekat ini. Kyu-Hyun
mengulurkan tangannya dan balas memeluk So-Eun. Hingga akhirnya mereka larut
dalam suasana yang begiru hangat dan menyenangkan.
-End-
Dont forget for comment..... ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar