Rabu, 22 Oktober 2014

Change




Change

Kau begitu bersinar hingga mustahil bagiku untuk bisa memilikimu
“Kau dari mana saja? Apa di restoranmu itu tidak ada jam?”
So-Eun berhenti dengan nafas pendek-pendek. Ia memegang dadanya dan sedikit menelan ludah susah payah. Ia paham dengan ekspresi datar Kyu-Hyun yang sedikit membuat jantungnya berdebar hebat. Astaga... apa ia telah melakukan kesalahan lagi?
“Tentu saja, bodoh!” seakan mengerti dengan jalan pikiran So-Eun, Kyu-Hyun kembali berujar dengan nada mendesis. Ia sama sekali benci jika waktu sepuluh menitnya terbuang begitu saja hanya untuk menunggu gadis lelet seperti So-Eun. Padahal gadis itu yang tempo lalu memohon dengan sangat padanya untuk bertemu pada waktu yang mereka sepakati. Lihat sekarang siapa yang justru melanggar kesepakatan?
So-Eun melirik jam tangannya lalu kembali menatap Kyu-Hyun. “Aku hanya terlambat sepuluh menit. Lagi pula tadi...”
“Hanya kau bilang?”
So-Eun berhenti bicara dan menatap bingung wajah Kyu-Hyun. “Kau bisa bayangkan berapa juta won yang hilang dalam waktu sepuluh menit hanya karena aku harus menunggumu?” Kyu-Hyun menaikkan nada suaranya satu oktaf. Tangannya terkepal di samping tubuh dengan wajah memerah kesal.
So-Eun menunduk menyadari hal itu. Ia tidak pernah berani bertatapan langsung dengan Kyu-Hyun jika dalam situasi seperti ini. Gadis itu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun kembali menutupnya saat seseorang muncul dari balik punggung Kyu-Hyun. Menginterupsi kemarahan Kyu-Hyun dan membuatnya terpaksa untuk berbalik.
Eoh? Mi-Chan.” Kyu-Hyun tanpa sadar menyebut nama itu. Gadis dengan tinggi semampai juga kaki jenjang, apalagi dengan blazzer hitam resmi yang membalut tubuh langsingnya itu tersenyum mengetahui jika Kyu-Hyun bisa mengenalinya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Mi-Chan tertawa pelan dengan punggung tangan yang ia letakkan di depan mulut. Dan hal itu sedikit membuat Kyu-Hyun tertegun. Mi-Chan memang gadis yang lembut dan anggun. “Aku kemari untuk menjemputmu sajangnim. Waktumu sudah lebih dari sepuluh menit. Karena lima belas menit lagi kita masih ada rapat dengan dewan direksi. Apa Anda lupa?”
Kyu-Hyun tersadar setelahnya. Ia mengangguk paham lalu bersiap melangkah mengikuti Mi-Chan menuju mobil.
Oppa,”
So-Eun terbelalak. Bagaimana bisa Kyu-Hyun dengan mudah berpaling dan menjauh meninggalkannya. Cepat-cepat ia berlari mengejar Kyu-Hyun dan menghadang langkah pria itu. “Oppa, kita masih harus bicara.”
“Ck,” Kyu-Hyun berdecak malas. “Lain kali saja. Salah siapa yang terrlalu mengulur waktu?”
Tanpa ba-bi-bu, Kyu-Hyun kembali berjalan melewatinya. Lalu bersama dengan Mi-Chan –yang So-Eun ketahui adalah sekertaris kesayangan Kyu-Hyun— memasuki mobil yang terparkir tak jauh darinya lalu benar-benar menghilang di ujung pandangan So-Eun.
So-Eun menghela nafasnya perlahan. Ia harus sabar. Ini semua juga karena kesalahannya. Kalau bukan karena Chang-Min, pemilik restoran tempat ia bekerja, tidak menyuruhnya untuk membuat resep baru. Ia pasti tidak akan terlambat dan seperti ini. Untung saja ia bisa menjelaskan keinginannya bertemu Kyu-Hyun hingga Chang-Min bersedia melepaskannya.
Dengan langkah lunglai So-Eun kembali berjalan menyusuri trotoar. Ia akan kembali ke restoran dan melanjutkan pekerjaannya. Kalau sudah begini, tidak ada gunanya ia mengejar Kyu-Hyun atau memohon pada pria itu untuk memaafkannya. Pria yang sudah selama lima bulan ke belakang sepakat untuk menjadi tunangannya.
Sepakat? Bukan perjodohan sama sekali. Mereka layaknya pasangan yang lain. Saling mengenal lalu berkomunikasi baik. Dan akhirnya dekat dan saling mencintai. Oh... So-Eun sepertinya sangat meragukan gagasan terakhir. Ia ingat bagaimana air wajah Kyu-Hyun saat pertama kali So-Eun mengatakan perasaannya. Saat itu, dengan wajah datar tanpa senyum sedikitpun Kyu-Hyun mengangguk pelan dan menghela nafas.
Awalnya So-Eun tidak memberatkan hal itu. Karena di kampusnya dulu Kyu-Hyun memang terkenal dengan pria yang minim ekspresi. Tapi sekarang? Ia merasa perangai Kyu-Hyun padanya semakin menjadi-jadi. Tak sekalipun pria itu menelepon atau mengirim pesan padanya seperti layaknya pasangan normal. Kalau bukan karena So-Eun yang dengan segala kesabarannya menghubungi Kyu-Hyun lebih dulu. Mungkin sampai saat ini mereka tidak tahu berapa nomor kontak satu sama lain.
_o0o_
Tapi aku yakin masih ada jalan untuk bisa mendapatkanmu

“Kenapa? Apa hasilnya mengecewakan?”
“Tidak,” Chang-Min menggeleng pelan dan kembali menyuapkan makanan yang So-Eun hidangkan. Suasana restoran saat ini cukup ramai meskipun jarum jam sudah ada di angka sepuluh dan matahari sudah tak ada lagi. Tapi di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Chang-Min si pemilik restoran dan So-Eun si koki restoran.
Beberapa saat yang lalu So-Eun memang menjalankan titah Chang-Min untuk membuat resep baru pada menu restoran. Dan dengan senang hati menghidangkannnya pada Chang-Min.
“Bagaimana? Apa pengajuanmu itu diterima oleh Kyu-Hyun?”
So-Eun menghela nafasnya seolah ia sangat lelah lalu menumpukan kepalanya di atas meja kerja Chang-min. Chang-Min juga melakukan hal yang sama. Dengan sengaja ia menatap So-Eun penuh harap lalu kembali berkata. “Dan aku yakin pasti jawabannya adalah tidak.”
So-Eun balas menatap Chang-Min dengan bibir mengerucut. “Aku bahkan tidak sempat mengatakannya.”
“Apa?” sontak Chang-Min mengangkat kembali kepalanya dengan mata melebar. “Lalu?” tanyanya bingung.
“Kau tahu? Aku terlambat sepuluh menit karena harus membuat resep baru yang kau minta. Dan akhirnya dia marah dan memutuskan untuk pergi bersama sekertarisnya. Dia bilang dia masih harus rapat dan menyuruhku untuk mengatakannya lain kali.”
“Pria itu benar-benar. Bagaimana mungkin hal sepenting itu dikatakan lain kali! Memang siapa yang bisa menjamin kalau dilain waktu kalian masih bisa bersama?”
“Chang-Min.” So-Eun berteriak kesal. “Jadi kau berharap hubunganku dengan Kyu-Hyun berakhir? Hah!”
So-Eun sudah tak perduli dengan name tag direktur yang tertera di atas meja Chang-Min. Baginya saat ini Chang-Min sama saja seperti saat mereka SMA dulu. Menyebalkan dan berbicara seenak jidatnya.
 “Ish, bisakah hobi berteriakmu itu kau tahan? Telingaku sakit tahu!” Chang-Min mengusap telinganya dengan ekspresi berlebihan. Tiba-tiba saja Chang-Min merasa aneh dengan wajah So-Eun yang menegang. O-oh, apa kata-katanya berpengaruh pada So-Eun?
So-Eun mengangkat wajahnya dan menatap Chang-Min dengan panik. ”A-apa mungkin...”
“Apa?” sahut Chang-Min cepat.
So-Eun seketika menarik kursi tempat ia duduk dan mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Chang-Min. “Kau..” suaranya memelan begitu saja. Membuat Chang-Min juga harus mendekatkan kepalanya demi bisa mendengar ucapan So-Eun. “Bisa membantuku kan?”
“Kau ingin meminta bantuan macam apa?”
“Kau bilang kau berteman baik dengan Kyu-Hyun. Bahkan aku mengenalnya juga darimu. Jadi aku yakin kau bisa membantuku dalam hal ini.”
Chang-Min berpikir sejenak. Bantuan apa yang So-Eun inginkan hingga ekspresi wajah gadis itu begitu serius saat mengucapkannya. Setelah melalui berbagai pertimbangan. Chang-Min akhirnya mengangguk dan disambur senyuman riang dari So-Eun.
_o0o_
Tapi bisakah itu merubah perasaanmu?

So-Eun kembali meneliti setiap baris kalimat dalam majalah yang ia pegang. Sesekali ia menggumamkan kalimat yang menurutnya terlalu diluar nalar dan mengangguk seolah memakluminya. Gadis itu berhenti sejenak. Ia berdiri menghampiri cermin setengah badan di sudut kamar lalu menatap aneh apa apapun yang terpantul pada cermin tersebut.
Dia sangat suka dengan wanita yang tinggi semampai.”
So-Eun kembali teringat dengan kata-kata Chang-Min beberapa hari lalu. Dan sekarang ia sudah siap menerima apapun yang akan tertera pada coretan tinggi badan tepat pada sisi lemarinya. Appa So-Eun memang pernah menuliskan coretan berbentuk ukuran persenti pada salah satu dinding kamarnya sebagai patokan tinggi badan sang putri. Dan So-Eun rasa hal itu benar-benar berguna saat ini.
So-Eun memejamkan matanya dan memberi tanda tepat di atas puncak kepalanya. Berharap jika memang tinggi badannya tidak terlalu mengecewakan. Ia lalu kembali membuka mata dan menatap histeris angka yang ia dapat.
“165!” pekiknya. Wajahnya panik, dengan sekali gerakan So-Eun kembali mematut dirinya di depan cermin dan meringis tertahan. Apakah angka itu cukup untuk menyatakan dirinya tinggi semampai? Hah... mendengar hal itu sama saja dengan mengejeknya. O-oh So-Eun teringat sesuatu. Majalah!
“Mana dia...” So-Eun seperti kalang-kabut membalik lembaran demi lembaran majalah yang baru beberapa saat lalu ia baca. “Ketemu!”
Matanya menelisik tajam pada satu buah paragraf yang ada pada halaman tersebut. “Berenang adalah salah satu cara untuk meningkatkan tinggi badan.” Gumamnya. “Apa aku harus berenang? Berenang...” So-Eun memiringkan kepalanya ke samping. Menimbang-nimbang apakah ia bisa melakukan hal itu atau tidak. maklum saja, So-Eun adalah gadis yang sama sekali buta akan olahraga jenis apapun.
“Ah..” tiba-tiba ia meraih ponselnya di atas nakas lalu menekan beberapa tombol dan menunggu nada tunggu dengan perasaan was-was. “Ha..”
“Min-ahh.” Belum sempat Chang-Min bersuara, So-Eun dengan gaya suara melengkingnya dengan tanpa dosa mengalir melalui satelit telepon dan menusuk gendang telinganya. “Jinja, keu saram! Tidak bisakah berbicara dengan suara yang lebih pelan. Bahkan tetangga di samping rumahmu mungkin juga bisa mendengarnya.” Runtuk Chang-Min kesal.
“Min-Ahh, kau bisa berenang bukan?” bukannya menjawab So-Eun justru kembali bertanya. Membuat Chang-Min di seberang telepon mengangkat alisnya heran. “Tentu saja,”
“Kalau begitu kau harus mengajariku cara untuk berenang.” Sahut So-Eun cepat. “Uhuk...”
Sungguh, Chang-Min sama sekali tidak memakan sesuatu ataupun semacamnya. Tapi mendengar penuturan So-Eun yang begitu polos, ia justru tersedak air liurnya sendiri. Dan sesuatu terlintas dibenaknya, “Kau benar-benar ingin mengikuti semua itu?” tanya Chang-Min.
“Ya,” jawab So-Eun pasti. “Aku yakin dengan begini Kyu-Hyun oppa pasti tidak akan mengabaikanku lagi.”
­Tidak-tidak, Chang-Min berperang dalam hatinya. Membayangkan bagaimana gigihnya gadis itu untuk menjadi semua kriteria yang Kyu-Hyun idamkan berdasarkan pendapatnya. Oh... ini salahnya juga karena menjawab pertanyaa So-Eun tempo lalu tentang tipikal idaman Kyu-Hyun.
“Kenapa kau diam? Kau mau mengajariku, kan?”
Chang-Min menggeleng kuat-kuat. Walaupun tahu bahwa So-Eun tak bisa melihatnya. “Andwe! Kenapa kau tidak meminta Kyu-Hyun saja untuk mengajarimu. Kyu-Hyun bahkan lebih mahir dariku.”
“Kau ini bagaimana. Aku kan ingin menjadi tipikal idamannya. Mana mungkin aku meminta Kyu-Hyun yang mengajariku! Ayolah Min-Ahh.”
“Tidak akan. Aku tidak mau menjadi...”
“Kalau begitu aku bisa cari guru renang yang lain.”
Apa? Tiba-tiba Chang-Min merasa panik dengan hal itu. “Tidak bukan begitu maksudku So-Eun, kau harus...”
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon terputus seketika. “Matilah kau, Chang-Min!”
 _o0o_
Atau kau hanya terbawa suasana?

Untuk kesekian kalinya Kyu-Hyun mendengus gusar karena lengkingan ringtone ponselnya yang terus saja berdering layaknya alarm. Ia masih sangat sibuk, sungguh. Dan dengan alasan itu akhirnya Kyu-Hyun meraih ponselnya lalu melepaskan baterai ponsel tersebut. Tanpa perlu repot-repot melihat siapa orang yang dengan lancang menghubunginya di waktu sibuk seperti ini.
Fokus pria itu kembali kepada laptop di depannya. Memeriksa bagaimana keadaan saham atau semua aset perusahaan yang ia naungi. Ya, Kyu-Hyun adalah salah satu dari beberapa orang yang terlalu menggilai pekerjaan.
Sajangnim,”
Kyu-Hyun mengangkat wajahnya. Melihat sang sekertaris yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan dengan telepon genggam ditangann gadis itu. “Masuk saja,” gumamnya.
Mi-Chan melangkah pasti memasuki ruangan dan berdiri tepat di depan meja Kyu-Hyun. Lalu mengulurkan apa yang ada ditangannya. “Ada seseorang yang ingin bicara denganmu.”
Jinja! Kyu-Hyun kali ini benar-benar meruntuk kesal. Dengan gerakan cepat ia meraih telepon genggam yang diberikan Mi-Chan. “Satu menit, jika yang ingin kau sampaikan bukanlah hal yang penting, maka lupakan saja!”
“Apa hobi kekasihmu yang suka berteriak juga menular padamu? Dan kenapa kau tidak mengangkat teleponku.” ucap lawan bicaranya ditelepon. Apa maksudnya itu? Dan Kyu-Hyun bisa memastikan bahwa itu adalah Chang-Min. Teman seperkuliahannya dulu yang benar-benar menyusahkan.
“Aku sedang sibuk Min-Ahh. Ada apa meneleponku?”
Terdengar helaan nafas Chang-Min di seberang telepon. “Kau tahu? So-Eun...” entah mengapa Chang-Min jadi ragu mengatakannya. Apa mungkin ia mengatakan pada Kyu-Hyun bahwa sekarang So-Eun sedang belajar berenang dengan seorang pria berbadan kekar? Jika ia mengatakannya, sama saja ia telah menghancurkan usaha So-Eun untuk menjadi tipikal idaman Kyu-Hyun. Lalu apa yang akan terjadi jika ia tidak memberitahu Kyu-Hyun? Yang ada dia akan dijadikan...
“Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi. Aku tutup!”
“Kyu...”
Tut.. tuutt... tuutt...
Mi-Chan menatap heran pada Sajangnim-nya yang terlihat sangat kesal. Lalu ia kembali mengambil telepon genggam yang Kyu-Hyun letakkan begitu saja di atas meja. Mi-Chan sudah siap membuka mulutnya bermaksud bertanya. Namun ia urungkan kembali. Melihat Kyu-Hyun dengan ekspresi seserius itu, Mi-Chan hanya bisa menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat lalu keluar dari ruangan.
_o0o_
Jika aku berusaha untuk menjadi yang kau inginkan

“Seperti ini,”
Pria yang So-Eun ketahui bernama Si-Won itu. Terus saja memberikan instruksi tentang apa saja yang harus ia lakukan. Mulai dari merentangkan tangan sampai mengepakkan kaki, ternyata berenang tidak semudah kedengarannya. Kuku So-Eun juga sudah mulai memutih, juga ujung jari-jarinya yang mengeriput. Suhu air kolam renang sudah mulai membuat tubuh kecilnya kedinginan.
Tapi ia tidak boleh menyerah begitu saja bukan?
“So-Eun, kukira lebih baik sampai di sini saja untuk hari ini. Lihat, wajahmu juga mulai pucat.” So-Eun menggeleng tanda menyangkal pendapat Si-Won. “Aku tidak apa-apa, kita lanjutkan saja. Ayo, tunjukkan padaku, gaya apalagi yang harus aku praktikkan?”
Si-Won mengehela nafasnya sejenak. Lalu mata sipitnya beralih pada sosok pria yang berdiri tak jauh dari kolam renang tempatnya dan So-Eun sekarang. Dua pria itu saling beradu pandang seakan mencari solusi melalui telepati.
Hal itu membuat Chang-Min pusing setengah mati. Apa yang harus ia lakukan sekarang? ia tahu betul So-Eun bukanlah tipikal gadis yang mudah mendengarkan nasihat orang lain yang berlawanan dengan keinginannya. Atau membiarkan gadis itu untuk terus belajar berenang juga bukan pilihan yang baik. Chang-Min bergidik jika mengingat bagaimana kostum So-Eun saat ini. Memang tidak vulgar seperti kebanyakan pakaian renang. Tapi jika hanya dengan menggunakan kaos pas badan juga celana pendeknya, So-Eun tetap terlihat lebih “Terbuka” dari biasanya. Apalagi ia didampingi dengan seorang pria berbadan ideal yang memperlihatkan lekuk otot-otot kekarnya.
Chang-Min sempat terkejut saat So-Eun memberitahunya bahwa gadis itu akan mencari orang lain untuk mengajarinya berenang. Dan ha itu benar-benar membuat jantungnya seperti lompat ke tenggorokannya saat tahu orang yang So-Eun pilih untuk mengajarinya adalah Si-Won. Atlet renang paling terkenal di Korea karena Skill dan wajahnya yang menakjubkan.
“Aku saja risih melihatnya. Lalu bagaimana dengan Kyu-Hyun?”
Chang-Min meringis dalam hati. Tiba-tiba matanya melebar menyadari seseorang berjalan dan melewati bahunya lalu berhenti tepat di pinggir kolom renang. Bahkan melihat dari bentuk postur tubuh pria itu dari belakang saja, Chang-Min sudah bisa memastikan seratus persen, tidak, seribu persen jika itu Kyu-Hyun.
Mati kau Chang-Min! Ia ingin sekali lenyap dari tempat ia berdiri sekarang. Atau jika Tuhan dengan berbaik hati mau menghilangkannya seperti di telan bumi atau semacamnya. Yang jelas ia ingin pergi sekarang juga!
Bisa bayangkan bagaimana cara Kyu-Hyun meluapkan amarahnya? Lebih brutal dari seorang Yakuza sekalipun. Jadi apa keputusannya sekarang? tetap di sini menunggu apa yang akan Kyu-Hyun lakukan. Atau diam-diam pergi dan menganggap bahwa ia sama sekali tidak terlibat dalam hal ini.
Belum sempat Chang-Min mengambil satu langkah. Nafasnya tercekat.
_o0o_
Akankah kau menatapku, sejenak saja

Kyu-Hyun menginjak pedal gas lebih dalam. Memicu kecepatan Audy yang ia kendarai pada angka maksimal. Otaknya berputar-putar dan entah untuk alasan apa hatinya memanas. Sejak ia mendengar Chang-Min menggumamkan nama So-Eun di telepon beberapa jam yang lalu. Ia sama sekali tidak bisa tenang. Dan ia memutuskan untuk menghubungi nomor gadis itu namun sama sekali tak ada jawaban. Pilihan terakhirnya adalah rumah gadis itu.
Dan apa yang ia dapatkan?
Eomma So-Eun mengatakan bahwa So-Eun sedang pergi keluar untuk belajar berenang dengan... Shit! Umpatnya dalam hati. Mendengar namanya saja sudah membuat gelenyar dalam tubuh Kyu-Hyun semakin kuat.
Ia tahu persis bagaimana kronologis pengajaran olahraga air itu. Harus ada setidaknya beberapa bagian tubuh yang sengaja “Disentuh” untuk bisa mengajarkan gerakan renang. Entah itu tangan, kaki, atau...
“Aku akn membunuh siapapun yang berani menyentuhnya sembarangan.”
Matanya memicing cepat melihat satu spanduk bertulis “Sweet Swimming Pool” Di pinggir jalan dan dengan cepat memarkirkan mobilnya sembarangan di sana. Persetan tentang peraturan lalu lintas!
Sapaam sang penjaga meja resepsionis tak ia hiraukan. Walaupun saat ini kondisinya yng mecolok –dengan jas resmi dan juga berdasi— membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya berbisik heran. Apa yang sedang dilakukan orang berpakaian formal seperti itu di tempat berenang?
Kyu-Hyun terus melangkahkan kakinya sampai ia menemukan kolom renang terkutuk itu. Sekali lagi matanya memicing tak suka. Lihat bukan? Bagaimana keadaan orang-orang di tempat ini? sosok Chang-Min muncul dalam pandangannya. Dan detik berikutnya Kyu-Hyun menemukan dua orang manusia di pinggir kolam yang sedang...
Sialan!
Langkahnya melebar lalu berhenti tepat di pinggir kolam renang. Membuat dua orang manusia yang ada di bawah kakinya mendongak dan terkejut. Amarah Kyu-Hyun bagai mendidih ke ubun-ubun. Seluruh badannya panas dan juga meletup-letup. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa semarah ini.
“Naik,” ucapnya dengan nada rendah dan pelan. Terdengar begitu menusuk di telinga So-Eun. Dengan gugup So-Eun menelan ludahnya lalu berusaha untuk menormalkan suaranya agar tidak terdengar bergetar. Melihat picingan mata Kyu-Hyun yang seperti itu, siapa yang tidak gelisah?
“A-aku..”
“Kau mau aku membunuhnya di sini?” nada suaranya tetap tidak berubah namun pandangannya beralih pada seorang pria di samping So-Eun. Rasanya tangan Kyu-Hyun gatal sekali uttuk menghajar pria itu sampai babak belur. Pria itu ingin pamer otot atau apa?
Si-Won yang sadar dengan keadaan yang begitu tegang sedikit berdeham merileksasikan diri. “Biar aku jelaskan. Aku dengan So-Eun tidak bermaksud...”
“Aku tidak sedang berbicara denganmu.” Potong Kyu-Hyun cepat. Apa sih yang unggul dari pria itu dibandingkan dirinya? Ototnya? Wajahnya? Kyu-Hyun yakin dari sudut manapun ia masih tetap “Lebih” daripada pria yang sekarang ada di samping So-Eun.
Sementara So-Eun semakin merasa gelisah. Hatinya yang berdebar takut karena tatapan Kyu-Hyun, ketidaknyamanannya pada Si-Won, dan juga tubuhnya yang menggigil kedinginan. Dan otak So-Eun memutuskan untuk naik dari kolam renang terlebih dahulu. Gadis itu menumpukan tangannya pada pembatas pinggir kolam lalu mencoba untuk mengangkat tubuhnya. Satu kali mencoba dan hasilnya gagal. Lagi, So-Eun menumpukan tangannya pada pembatas kolam dan mencoba mengangkat tubuhnya kembali. Namun Reflek Kyu-Hyun lebih tajam kali ini. Melihat So-Eun yang kesulitan untuk naik ke atas kolam membuat Si-Won bermaksud untuk membantunya. Dan Kyu-Hyun bergerak lebih cepat agar si “Pria berotot” itu sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menyentuh tubuh So-Eun sedikitpun.
Ia berlutut di depan So-Eun lalu memegang kedua lengan atas gadis itu. Hanya dengan satu tarikan ia berhasil menarik So-Eun keluar dari kolam. So-Eun kini sudah berdiri di hadapannya. Dengan tubuh basah kuyup bahkan sedikit bergetar. Oh, apa gadis itu menggigil?
Tatapannya kembali pada Si-Won dengan pandangan meremehkan. Juga senyum satu sudut yang ia tunjukkan membuat Si-Won semakin tersudut keadaan. Apa sekarang ia terlihat seperti orang ketiga dalam suatu hubungan?
“Ayo,” ucap Kyu-Hyun. Tangannya ia lingkarkan pada bahu kecil So-Eun dan membimbingnya menuju salah satu ruang ganti di sudut ruangan. Tanpa perduli tentang Si-Won dan Chang-Min yang terperangah, atau semua orang di sana yang entah sejak kapan memusatkan perhatian mereka pada So-Eun dan Kyu-Hyun.
_o0o_
Padaku, Pada cinta tulusku

Oppa,” So-Eun mengecilkan volume suaranya. Sedikit mencoba mencairkan suasan antara ia dan Kyu-Hyun. Sejak tiga puluh menit yang lalu Kyu-Hyun melajukan Audynya, sama sekali tak ada kalimat yang keluar dari pria itu. Mereka hanya saling diam dan menatap keluar jendela mobil dengan perasaan masing-masing. So-Eun sama sekali tak bisa mendeskripsikan bagimana perasaan Kyu-Hyun saat ini. Baru saja tadi So-Eun sempat melayang karena sikap Kyu-Hyun yang begitu memperdulikannya. Dan sekarang pria itu sudah kembali kepada sikap asalnya. Dingin dan datar.
Akhirnya mereka sampai tepat di depan gerbang rumah So-Eun. So-Eun melepas Seat belt yang menahan tubuhnya lalu meraih tombol pintu. Bermaksud untuk membuka pintu mobil dan keluar. Namun tiba-tiba saja sesuatu mendesak So-Eun. Membuat hatinya bergejolak dan ia kembali berbalik menghadap Kyu-Hyun.
Oppa,” kali in Kyu-Hyun menoleh padanya. So-Eun menarik nafasnya dalam-dalam. Mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan apa yang mendesak hatinya saat ini.
“Mungkinkah...” So-Eun berhenti sejenak. “Kalau kita...”
“Ini sudah malam So-Eun. Apa yang ingin kau katakan?”
So-Eun merasa jantungnya benar-benar melompat. Melihat tatapan Kyu-Hyun yang fokus pada lensanya. Jangan! Jangan tunjukkan tatapan seperti itu dan membuat tekadnya goyah...
“Kita putus saja.” Suaranya mengecil bahkan hampir seperti gumaman. Tapi hal itu sangat jelas terdengar oleh Kyu-Hyun.
“Kukira kita benar-benar tidak cocok. Aku sudah tahu semuanya dari Chang-Min. Aku...” So-Eun mulai kehilangan suaranya. Seperti ada sesuatu di balik pelupuk matanya yang ingn keluar. “Aku sama sekali tak sesuai dengan apa yang kau inginkan. Kau suka dengan wanita yang berkaki jenjang sementara kakiku bahkan hampir mirip dengan besi penyangga tempat tidur. Kau juga suka dengan gadis tinggi  semampai sementara tinggi badanku tidak lebih dari 165. Kau suka dengan gadis yang...”
“Coba katakan lagi. Maka aku akan benar-benar mencari gadis lain.”
_o0o_
Hingga pada akhirnya kau mengerti

Seperti ada sesuatu yang menghantam hatinya sampai sudut terdalam. Dan gigitan-gigitan kecil pada setiap jengkal tubuhnya membuat amarah Kyu-Hyun kembali tersulut. Kepalanya pening, sungguh. Di saat seperti ini, di saat ia merasa khawatir atas keadaan So-Eun yang mulai menggigil. Gadis itu justru mengatakan ingin berpisah?
Tatapan lurusnya jatuh pada lensa pekat So-Eun. Ia tahu So-Eun sudah berkaca-kaca dan siap untuk menangis. Dan hal itu membuat Kyu-Hyun semakin merasa sesak. Belum ada yang berani bersuara. So-Eun masih berusaha meresakan isakannya dan Kyu-Hyun mash berusaha meredam amarahnya.
“Baik, kita putus.” Ucap Kyu-Hyun tegas. So-Eun melebrkan matanya seketika. “K-kau... sungguh ingin kita putus?” So-Eun tergagap dengan air matanya yang semakin deras.
“Ya, tapi nanti setelah aku mati. Jadi kalau kau ingin putus denganku, kau harus membunuhku dulu. Kau sanggup?” So-Eun menggeleng kuat-kuat. Apa ia gila membunuh Kyu-Hyun hanya untuk putus dari pria itu? lagipula tidak ada satu bagianpun dalam tubuhnya yang sanggup melakukan hal gila itu.
Kyu-Hyun tersenyum. senyum tipis yang membuat hati So-Eun menghangat melihatnya. “So, don’t ever to say like that anymore.” Katanya, “Dan jangan pernah berharap hal itu akan terjadi, Arasseo?
So-Eun mengangguk dengan hati merana. Bingung, heran, bahagia...
Tanpa menunggu hal apapun Kyu-Hyun meraih bahu So-Eun dan menarik gadis itu dekat dengan tubuhnya lalu memeluknya. “Kau memang jauh dari tipikal idelku. Pendek, cerewet, kekanak-kanakan.” Dagunya ia sandarkan pada bahu So-Eun lalu kembali tersenyum. “Tapi aku bisa lebih dari gila jika kehilanganmu.”
“Apa kau menyukaiku, Oppa?”
Kyu-Hyun terkekeh mendengarnya. “Kau ini, apa hanya itu yang kau pikirkan?”
So-Eun dengan cepat melepaskan pelukannya lalu merengut sebal. “Jadi untuk apa menolak putus denganku kalau bukan karena kau menyukaiku?”
“Karena...” Kyu-Hyun seperti berpikir sejenak. “Aku bukan apa-apa tanpamu.”
Ini sungguh, bukan hanya sekedar kalimat semata yang selalu ada di televisi atau semacamnya. Kyu-Hyun benar-benar merasakan hal itu. mungkin sikapnya yang terlalu terlewat batas saat bersama So-Eun membuat gadis itu berpikir yang jauh lebih buruk dari kenyataannya. Melihat gadisnya disentuh pria lain saja sudah membuatnya ingin mencincang-cincang pria itu. Lalu apa maksudnya dengan kata berpisah yang So-Eun katakan? Lebih baik ia mati saja.
Ah, tentang pria itu...
“Tapi apa yang kau lakukan dengan pria itu?”
“Pria? Pria yang mana?”
“Ck,” Kyu-Hyun berdecak sebal. “Yang tadi mengajarimu berenang. Hey! Jika kau ingin belajar berenang, kenapa tidak memintaku untuk mengajarimu? Kau tahu aku sangat mahir dalam hal itu.”
“Mana mungkin aku memintamu untuk mengajariku, sementara aku melakukannya untukmu.”
“Apa?” Kyu-Hyun menoleh cepat. “Untukku? Apa maksudnya?”
“Emm...” So-Eun menunduk menyembunyikan wajah malunya. Oh, apakah ia harus mengatakannya pada Kyu-Hyun?
Kyu-Hyun tersenyum dalam hati. Melihat So-Eun dengan pipi memerah seperti itu membuatnya gemas saja. Terlihat semakin manis dan cantik.
“Aku melakukannya untuk menambah tinggi badanku. Chang-Min bilang kau suka dengan gadis tinggi. Jadi aku berusaha untuk menjadi tinggi.”
Astaga... hal itu benar-benar diluar dugaannya. So-Eun berusaha berenang hanya untuk.. “Aku mencintaimu.” Kyu-Hyun berkata dengan nada selembut mungkin. Dan tak ada reaksi apapun dari So-Eun. Gadis itu hanya melebarkan matanya dengan mulut terbuka. Aish, jinja! Katupkan kembali mulutmu itu So-Eun, jika tidak mau aku yang melakukannya!
“K-Kau...”
Suara So-Eun bagai menguap begitu saja. Apa yang terjadi sekarang? Apa ini hanya mimpi? “Kau tidak perlu menjadi tipikal idealku, dear. Kau sudah lebih dari sempurna bagiku.”
So-Eun hampir terbahak mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar Kyu-Hyun mengatakan hal romantis seperti itu. Sangat jauh dari gaya pria itu yang dingin dan cuek.
“Jadi berhenti meminta orang lain untuk melakukan hal seperti itu. Sampai matipun aku tak akan sudi jika ada orang lain yang menyentuhmu selain aku!” ucapnya dengan nada final.
So-Eun tersenyum dan kembali memeluk Kyu-Hyun. Meluapkan perasaan bahagiannya pada dekapan hangat pria itu. “Aku juga mencintaimu, Oppa.” Katanya tak kalah lembut.
Rasanya tenang sekali menghirup aroma So-Eun sedekat ini. Kyu-Hyun mengulurkan tangannya dan balas memeluk So-Eun. Hingga akhirnya mereka larut dalam suasana yang begiru hangat dan menyenangkan.

-End-
 Dont forget for comment..... ^^


Tidak ada komentar: