Minggu, 09 November 2014

Brother's Advise

 
Brother's Advise

“Ada yang lucu?”
“Nggak,”
“Terus ngapain ketawa.”
Lefy terus memegang perutnya karena tak bisa berhenti tertawa. Lama ia terbahak hingga suaranya kembali stabil. Ia lalu menatap Lavi kembali. “Lagian lo ada-ada aja. Mana mau si Dhama kalau Lo dandanannya kayak gini. Jangankan Dhama, gue aja ogah.”
“Kak Lefy!” Lavi memberengut sebal. Tangannya meraih bantal di sampingnya lalu mengayunkannya dan tepat mendarat di muka Lefy yang masih asik terkikik geli. “Kalau Adiknya lagi sedih itu harusnya dihibur, bukannya diketawain.”
Lefy mengangguk cepat. Detik berikutnya ia tersenyum lalu menegakkan duduknya. Meraih bantal di samping badan dan meletakkannya dia atas pangkuannya, lalu berhadapan dengan Lavi. “Gue juga pernah kayak gitu, Lav.”
“Aku tahu kok. Kakak kan emang sering ditolah cewek.”
“Sialan lo,” Lefy menoyor kepala Lavi pelan. “Sopan dikit sama Abang lo.”
“Ih, males banget, “ Lavi nyengir aneh saat melihat Lefy yang sudah bersiap melayangkan bantal yang dipegangnya. “Udah sih, gitu aja marah.”
Lefy kembali mengehembuskan nafasnya kasar. Sabar banget punya adik model beginian.
“Jadi, gimana? Kak Lefy juga pernah ditolak cewek?”
Lefy kembali fokus pada Sang Adik. “Ya, dan parahnya lagi. Dia malah maki-maki gue.”
“Maki-maki gimana?”
“Dia bilang, katanya gue nggak pantes buat dia. Bahkan buat jadi temennya aja dia ogah. Katanya gue itu...”
“Dia bilang kayak gitu?” Lavi memotong cepat dengan mata terbelalak.  “Gila tuh cewek, sehebat apa sih dia sampai ngomong sekasar itu?”
“Bukannya gitu, Lav. Dari awal emang gue yang salah. Gue yang maksa dia buat ketemuan di taman kampus walaupun gue tahu kalau dia lagi sibuk sama tugasnya. Dan waktu gue nyatain perasaan gue. Jelas aja dia nolak mentah-mentah. Emang ada cewek mau sama orang pemaksa kayak gue?”
“Tapi kan nggak harus ngomong sekasar itu.”
“Nah, posisi lo sekarang sama kayak gitu.”
Lavi menunduk lesu sambil memainkan rambut sebahunya yang ia kepang dua. Ia tahu apa maksud Sang Kakak. Posisi yang sama saat ia juga memaksa Dhama untuk melihatnya. Entah mengapa perasaan malu dan sedih bercampur begitu saja di dalam hatinya.
Masih teringat jelas, saat beberapa jam yang lalu Lavi memutuskan untuk pergi ke sekolah dengan penampilan perdananya.  Biasanya Lavi hanya perlu menggunakan kunciran berboneka panda untuk mengikat rambut sebahunya di belakang kepala. Tapi untuk hari ini, Lavi melakukan sedikit perubahan, ah bukan, tapi banyak perubahan. Hari ini ia memakai alas bedak yang ia minta dari Sang Mama, juga mengoleskan bedak tebal di setiap permukaan wajahnya. Sedikit lipstik berwarna soft pimk yang mewarnai bibir kecilnya, juga beberapa alat pemanis wajah lainnya.
Tadinya ia berpikir bahwa itu akan terlihat sempurna di mata Dhama –pria yang ia kagumi di sekolah- dan pria itu akan dengan senang hati menerima cintanya. Tapi kenyataan melenceng jauh dari perkiraannya. Belum selesai Lavi menyelesaikan kalimatnya. Dhama sudah mendesah berat lalu berkata, “Gue menghargai perasaan lo, tapi gue akan lebih menghargai lo lagi kalau lo bersedia menganggap kalau ini nggak pernah terjadi. Karena gue akan anggap kalau gue nggak denger apa-apa dari mulut lo.”
Tanpa sadar Lavi meneteskan air mata. Sakit rasanya jika mengingat bagaimana cara pria itu berbicara dengan nada malas dan meremehkan. Sebegitu rendahnyakah Lavi di mata Dhama?
“Nggak usah dipikirin, Lav.” Lefy memegang sisi bahu kecil Lavi lalu mengelusnya. “Seharusnya lo seneng karena Tuhan udah nunjukin lo kalau dia cowok brengsek. Gue yakin lo akan nemuin cowok yang lebih baik daripada dia.”
“Tapi tetep aja, Kak. Cewek mana yang nggak sakit hati digituin.”
Lefy tersenyum tipis. ”Sini,” ia lalu meraih tangan Lavi dan memeluk gadis itu. Mana ada Kakak di dunia ini yang Tega melihat Adiknya menangis? Lefy paham betul dengan perasaan Lavi saat ini. Adik semata wayangnya itu memang tipikal gadis yang cengeng dan manja. Sering kali ia menemukan Lavi menangis sendirin entah karena hal apa. Dan kali ini ia menemukan Lavi menangis kembali, dan sedikit membuatnya terkejut karena tangisannya itu karena pria.
“Lo udah gede, ya?” Lefy mengelus pundak Lavi perlahan. “Padahal dulu Lo sering banget nangis kalau berebut makanan sama gue. Tapi sekarang lo justru nangis karena cowok.”
Lefy melepas pelukannya, “Gue inget banget dulu lo sering ngerengek minta anterin buat ngeliat topeng monyet di depan rumah, atau jajan di warung bu Dudung di depan gang.” Lavi menatap mata Sang Kakak dalam-dalam. Ia tertegun dengan kalimat yang Lefy ucapkan. “Atau, lo sering ngadu sama Mama kalau boneka barbie lo gue umpetin.”
“Kak Lefy...” merasa tersentuh dengan ucapan Kakaknya. Lavi tak kuasa untuk menahan tangis.
“Tapi sekarang lo udah tumbuh jadi gadis yang cantik. Nggak nyangka aja kalau akan secepat ini lo...”
Lavi kembali berhambur kepelukan Lefy. “Stop, Kak.” Lefy tersenyum. ia tahu Lavi sangat sensitive dengan hal-hal yang berbau keluarga. Baru berbicara sedikit saja, Lavi sudah menangis. “Gue sayang sama lo Lav. Lo satu-satunya Adik gue yang paling gue sayang. Jadi kalau lo ada masalah lo harus cerita sama gue. Jangan pernah nagis sendirian lagi di kamar. Oke?” Lavi mengangguk.
Lavi mengangkat telapak tangannya untuk mengusap air mata. Lalu tersenyum kepada Sang Kakak. “Makasih, Kak. Aku bangga bisa punya Kakak kayak Kak Lefy.”

-End- 

Kkkkk... terinspirasi dari fotonya babang Si-Won bareng Adiknya di twitternya. tiba-tiba aja jadi pengin punya abang. xD

o ya? jangan lupa komeng yaaa..... salam manis dari Bang Wanwan


Owww.... Neomu gyiewo p(o.o)q


Tidak ada komentar: