“Ada yang lucu?”
“Nggak,”
“Terus ngapain ketawa.”
Lefy terus memegang perutnya karena
tak bisa berhenti tertawa. Lama ia terbahak hingga suaranya kembali stabil. Ia
lalu menatap Lavi kembali. “Lagian lo ada-ada aja. Mana mau si Dhama kalau Lo
dandanannya kayak gini. Jangankan Dhama, gue aja ogah.”
“Kak Lefy!” Lavi memberengut sebal.
Tangannya meraih bantal di sampingnya lalu mengayunkannya dan tepat mendarat di
muka Lefy yang masih asik terkikik geli. “Kalau Adiknya lagi sedih itu harusnya
dihibur, bukannya diketawain.”
Lefy mengangguk cepat. Detik
berikutnya ia tersenyum lalu menegakkan duduknya. Meraih bantal di samping
badan dan meletakkannya dia atas pangkuannya, lalu berhadapan dengan Lavi. “Gue
juga pernah kayak gitu, Lav.”
“Aku tahu kok. Kakak kan emang
sering ditolah cewek.”
“Sialan lo,” Lefy menoyor kepala Lavi
pelan. “Sopan dikit sama Abang lo.”
“Ih, males banget, “ Lavi nyengir
aneh saat melihat Lefy yang sudah bersiap melayangkan bantal yang dipegangnya.
“Udah sih, gitu aja marah.”
Lefy kembali mengehembuskan nafasnya
kasar. Sabar banget punya adik model beginian.
“Jadi, gimana? Kak Lefy juga pernah
ditolak cewek?”
Lefy kembali fokus pada Sang Adik.
“Ya, dan parahnya lagi. Dia malah maki-maki gue.”
“Maki-maki gimana?”
“Dia bilang, katanya gue nggak
pantes buat dia. Bahkan buat jadi temennya aja dia ogah. Katanya gue itu...”
“Dia bilang kayak gitu?” Lavi
memotong cepat dengan mata terbelalak.
“Gila tuh cewek, sehebat apa sih dia sampai ngomong sekasar itu?”
“Bukannya gitu, Lav. Dari awal emang
gue yang salah. Gue yang maksa dia buat ketemuan di taman kampus walaupun gue
tahu kalau dia lagi sibuk sama tugasnya. Dan waktu gue nyatain perasaan gue.
Jelas aja dia nolak mentah-mentah. Emang ada cewek mau sama orang pemaksa kayak
gue?”
“Tapi kan nggak harus ngomong
sekasar itu.”
“Nah, posisi lo sekarang sama kayak
gitu.”
Lavi menunduk lesu sambil memainkan
rambut sebahunya yang ia kepang dua. Ia tahu apa maksud Sang Kakak. Posisi yang
sama saat ia juga memaksa Dhama untuk melihatnya. Entah mengapa perasaan malu
dan sedih bercampur begitu saja di dalam hatinya.
Masih teringat jelas, saat beberapa
jam yang lalu Lavi memutuskan untuk pergi ke sekolah dengan penampilan
perdananya. Biasanya Lavi hanya perlu
menggunakan kunciran berboneka panda untuk mengikat rambut sebahunya di
belakang kepala. Tapi untuk hari ini, Lavi melakukan sedikit perubahan, ah
bukan, tapi banyak perubahan. Hari ini ia memakai alas bedak yang ia minta dari
Sang Mama, juga mengoleskan bedak tebal di setiap permukaan wajahnya. Sedikit lipstik
berwarna soft pimk yang mewarnai bibir kecilnya, juga beberapa alat
pemanis wajah lainnya.
Tadinya ia berpikir bahwa itu akan
terlihat sempurna di mata Dhama –pria yang ia kagumi di sekolah- dan pria itu
akan dengan senang hati menerima cintanya. Tapi kenyataan melenceng jauh dari
perkiraannya. Belum selesai Lavi menyelesaikan kalimatnya. Dhama sudah mendesah
berat lalu berkata, “Gue menghargai perasaan lo, tapi gue akan lebih menghargai
lo lagi kalau lo bersedia menganggap kalau ini nggak pernah terjadi. Karena gue
akan anggap kalau gue nggak denger apa-apa dari mulut lo.”
Tanpa sadar Lavi meneteskan air
mata. Sakit rasanya jika mengingat bagaimana cara pria itu berbicara dengan
nada malas dan meremehkan. Sebegitu rendahnyakah Lavi di mata Dhama?
“Nggak usah dipikirin, Lav.” Lefy
memegang sisi bahu kecil Lavi lalu mengelusnya. “Seharusnya lo seneng karena
Tuhan udah nunjukin lo kalau dia cowok brengsek. Gue yakin lo akan nemuin cowok
yang lebih baik daripada dia.”
“Tapi tetep aja, Kak. Cewek mana
yang nggak sakit hati digituin.”
Lefy tersenyum tipis. ”Sini,” ia
lalu meraih tangan Lavi dan memeluk gadis itu. Mana ada Kakak di dunia ini yang
Tega melihat Adiknya menangis? Lefy paham betul dengan perasaan Lavi saat ini.
Adik semata wayangnya itu memang tipikal gadis yang cengeng dan manja. Sering
kali ia menemukan Lavi menangis sendirin entah karena hal apa. Dan kali ini ia
menemukan Lavi menangis kembali, dan sedikit membuatnya terkejut karena
tangisannya itu karena pria.
“Lo udah gede, ya?” Lefy mengelus
pundak Lavi perlahan. “Padahal dulu Lo sering banget nangis kalau berebut
makanan sama gue. Tapi sekarang lo justru nangis karena cowok.”
Lefy melepas pelukannya, “Gue inget
banget dulu lo sering ngerengek minta anterin buat ngeliat topeng monyet di
depan rumah, atau jajan di warung bu Dudung di depan gang.” Lavi menatap mata
Sang Kakak dalam-dalam. Ia tertegun dengan kalimat yang Lefy ucapkan. “Atau, lo
sering ngadu sama Mama kalau boneka barbie lo gue umpetin.”
“Kak Lefy...” merasa tersentuh
dengan ucapan Kakaknya. Lavi tak kuasa untuk menahan tangis.
“Tapi sekarang lo udah tumbuh jadi
gadis yang cantik. Nggak nyangka aja kalau akan secepat ini lo...”
Lavi kembali berhambur kepelukan
Lefy. “Stop, Kak.” Lefy tersenyum. ia tahu Lavi sangat sensitive dengan
hal-hal yang berbau keluarga. Baru berbicara sedikit saja, Lavi sudah menangis.
“Gue sayang sama lo Lav. Lo satu-satunya Adik gue yang paling gue sayang. Jadi
kalau lo ada masalah lo harus cerita sama gue. Jangan pernah nagis sendirian
lagi di kamar. Oke?” Lavi mengangguk.
Lavi mengangkat telapak tangannya
untuk mengusap air mata. Lalu tersenyum kepada Sang Kakak. “Makasih, Kak. Aku
bangga bisa punya Kakak kayak Kak Lefy.”
-End-
Kkkkk... terinspirasi dari fotonya babang Si-Won bareng Adiknya di twitternya. tiba-tiba aja jadi pengin punya abang. xD
o ya? jangan lupa komeng yaaa..... salam manis dari Bang Wanwan
Owww.... Neomu gyiewo p(o.o)q


Tidak ada komentar:
Posting Komentar