Large, Kind, Sweet, LKS For You...
fourteen.
As you know, i have some story about this place. You know
what? That’s it... school!
Kata
maenstream yang akan menjadi satu gambaran memori tersendiri bagi setiap
orang yang mendengarnya. Satu kata penggambaran tempat terpenting untuk
kelanjutan masa depan. Satu kata yang menjadi bagian dari kehidupan...
Expecialy, my school, MAN 18 Jakarta.
Sekolah
yang telah menjadi bagian perjalananku beberapa tahun terakhir. Seperti saat beberapa bulan yang lalu ketika MAN 18 Jakarta
sempat mengadakan acara LKS untuk para siswa barunya. Kelas 10, adalah kategori
kelas siswa yang wajib mengikuti kegiatan tersebut. Adalah kegiatan dimana para
siswa dididik dan push agar bisa memiliki dan memekatkan sifat
kepemimpinan yang mereka miliki. Melalui LKS (Latihan Kepemimpinan Siswa)
Dan
di sanalah saya, atau lebih tepatnya kami berpijak dan menyandang sebutan “Panitia
Pelaksana” untuk membantu terselenggaranya acara. Beberap siswa yang tergabung
dalam OSIS dan MPK di usung untuk dapat membimbing adik-adiknya.
Selang
berlangsungnya waktu, jatuh tempo acara LKS tepat di depan mata. Pada 05. September,
2014, para panitia –baik dari guru maupun siswa- serta para peserta langsung
beramgkat meluncur menuju tempat tujuan, Paku Haji, Jawa Barat.
Tiga
jam menempuh jarak perjalanan hingga kami sampai. Disambut oleh pemandangan
rindang dari pepohonan di sana, juga rerumputan yang hijau menambah kesegaran
mata untuk terus memandang dan tergakum. Setelahnya, para peserta di bariskan
menurut kepercayaan masing-masing (haha, i’m kidding, that’s not my mean,
you know? Ok forget it!)
Mereka
semua di absen dan dibagi atas beberapa kelompok. Lalu semua bersiap untuk
menjalankan ibadah shalat jum’at dan meletakkan peralatan masing-masing di
tenda yang telah disediakan panitia.
-For
information, saya adalah mentor dari salah satu kelompok dalam LKS ini.
kelompok 14 namanya. Tugasnya untuk menjadi pembimbimng khusus, atau bahasa
kasarnya jadi ibu mereka selama acara LKS berlangsung-
Then, setelah sudah siap menjalan semua kewajiban
ibadah. Para peserta kembali dirapikan dalam barisan untuk makan, tentunya
dengan sedikit metode militer –cepat tanggap- dan diberi waktu untuk
menghabiskan makan siang mereka dalam waktu lima menit!
Setelah
makan selesai, -masih dengan metode cepat tanggap- mereka segera kembali di
bariskan di lapangan menurut kelompok masing-masing. What;s perpouse? Dalam
jajaran Rown-Down yang telah panitia buat. Di sana ada kegiatan yang
dinamakan Out Bond. Game yang berfungsi untuk melatih kekompakan serta
kecakapan mereka dalam bekerja sama dalam memecahkan masalah.
Setelah
puas bermain di lapangan. Peserta digiring untuk menyusuri arena yang sudah
ditentukan panitia. Menyelesaikan permainan yang sudah di siapkan di tempat
tersebut.
Tempat pertama,
Peserta
dihimbau untuk memenuhi ember dengan air yang ada dibawah bangku plastik dengan
satu buah spons pada waktu tertentu. Apakah mereka berhasil untuk memenihi ember
tersebut?
Selesai
dari situ, mereka kembali berjalan menuju tempat selanjutnya.
Tempat kedua
Para
peserta ditantang kekompakannya untuk bisa memasukkan bola ke dalam gelas
dengan hanya menggunakan tali.
And do you know? Kelompok bimbingan saya berhasik untuk
melakukannya. J
Next step.
Tempat ketiga
Mereka
kali ini di tantang kekuatan fisiknya. Setiap ketua dari kelompok mereka harus
bisa berjalan –namun kali ini bukan di atas tanah melainkan di atas kayu- siapa
yang memegang kayu itu? tentu saja para anggota kelompok.
Tempat keempat
Setiap
kelompok diberikan satu buah paralon dan harus bisa memindahkan paralon
tersebut. Lagi-lagi bukan dengan tangan, melainkan... leher!
Tempat kelima
Saya
rasa ini adalah step yang paling memakan tenaga. Hanya dengan selembar
kain. Para peserta harus bisa saling menjaga keseimbangan untuk tetap menjaga
bola agar tetap ada di atas gelas.
Setelah
semuanya selesai. Para peserta kembali ke tenda untuk istirahat dan persiapan
shalat ashar. Juga beberapa materi dari guru tentang kepemimpinan.
Malamnya,
setalah bersih-bersih diri. Para siswa makan malam lalu kembali untuk menjalani
materi dari guru.
Sampai
sekitar jam 10. Para peserta dihimbau untuk melingkar di lapangan. Ya, time’s
for api unggun.
Api
unggun berlangsung langan taburan penampilan kreatifitas siswa –Expect menyanyi,
menari, berpuaisi- dan pada akhir detik jam sebelas. Para siswa kembali ke
tenda masing- masing untuk tidur dan istirahat.
Lalu
pada tepat jam satu. Mereka semua kembali dibangunkan –tetap dengan metode
cepat tanggap untuk mempercepat waktu- dan dibariskan di lapangan sesuai
kelompok untuk jerit malam. Apa yang ada di otak kalian? Right, menjeritlah!
Selesai
jerit malam. Mereka kembali dikumpulkan untuk shalat malam dan muhasabah. Karena
sejauh apapun kita berpijak. Kita harus tetap ingat pada sang pencipta. Benar?
Paginya?
Para peserta pertama-tama pastinya olahraga terlebih
dahulu...
Next, mereka sarapan pagi lalu persiapan untuk pulang.
One’s more, kegiatan LKS ini adalah rutinitas kegiatan
MAN 18 Jakarta setiap tahun. And personality, saya senang sempat menjadi
mentor untuk kelompok 14. Mereka semua asik dan menyenangkan. Meski tak bisa
luput dari beberapa masalah.
Untuk
kelompok 14...
That’s dear... Kakak yakin kalian sudah melalukan segalanya
yang terbaik. Kalian hebat, Kakak tahu itu. Maaf ya kalau selama Kakak ada sama
kalian Kakak banyak salah sama kalian. Untuk semua yang sudah kita lewati
sama-sama. I’m proud of you...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar